Ulat Bulu dan Kupu-kupu

Cerpen 
Mashdar Zainal (Minggu Pagi Jogja, 10 Februari 2012)


Sebelum kami menikah, kami memang pernah menyepakati beberapa mimpi. Salah satu di antaranya ialah, ketika kami sudah menikah dan punya anak, kami bermimpi punya rumah yang halamannya luas. Sangat luas. Lebih luas dari rumah itu sendiri. Dan setelah mimpi pertama kami—menikah, dikabulkan Tuhan. Mimpi-mimpi berikutnya seperti merenteti. Mulai dari mendapat posisi kerja yang mapan, memiliki bayi lelaki pada tahun pertama, sampai memiliki rumah yang halamannya sangat luas itu tadi. Kami bersyukur sekali. Syukur kami melimpah seperti ulat bulu di halaman rumah kami.
Lho, kenapa tiba-tiba membicarakan ulat bulu?
Jangan kecewa dulu, karena cerita ini sebenarnya saling berpautan. Jadi, jika Anda adalah seseorang yang sangat membenci ulat bulu, tapi menyukai kupu-kupu, ada baiknya Anda menyimak cerita ini. Dan sebagai pencerita yang baik, sebaiknya aku memulai cerita ini dari awal, yakni ketika kami memutuskan untuk memiliki rumah yang halamannya sangat luas itu tadi.
Entah kebetulan atau kebenaran, aku dan istri memang memiliki hobi yang sama: berkebun. Meski kami sama-sama suka berkebun, namun, dalam hal berkebun kami juga memiliki perbedaan, istriku lebih suka menanam bunga-bungaan. Dan aku lebih suka menanam tumbuhan yang memiliki manfaat jangka panjang, seperti tanaman berbuah atau setidaknya tanaman obat atau palawija.
Awal-awal kami menempati rumah itu—rumah lawas yang kami beli dan kami rombak—kami sempat berdebat panjang. Bukan masalah rumah atau tata ruang kamar, tapi lebih ke masalah lahan luas yang  ada di halaman rumah kami. Ketika itu, halaman rumah kami hanyalah sepetak tanah yang ditumbuhi semak dan rumput-rumput liar. Istriku ngotot kalau lahan itu akan ia jadikan taman bunga dengan bangku-bangku batu dan kolam kecil di sudut paling depan. Uuh, romantinsya. Untuk masalah bangku-bangku batu dan kolam kecil di sudut paling depan aku tak keberatan. Tapi masalah taman bunga—semua lahan ditanami bunga, aku kurang sepakat. Maka aku mengusulkan, sebaiknya lahan itu ditanami tumbuhan yang bermanfaat jangka panjang saja, seperti pohon mangga, belimbing, kelengkeng, atau apalah dengan palawija di sekelilingnya.
“Kalau mau menanam buah-buahan sama palawija sebaiknya di ladang. Ini halaman rumah, bukan ladang. Mendingan ditanami bunga-bungaan. Bisa mempercantik halaman rumah. Menyegarkan pandangan,” sanggah istriku.
“Tapi, masa iya, lahan seluas ini mau ditanami bunga-bunga semua. Memangnya mau buka toko bunga?” aku tak mau kalah.
“Tak masalah kan?”
“Tapi merawat bunga kan sulit?”
“Memangnya, merawat pohon berbuah dan palawija tidak sulit.”
Kami tahu, kalau sudah sampai pada urusan debat, perkaranya akan jadi panjang. Maka kami memutuskan untuk berembug seperti DPR. Setelah berembug kami sepakat untuk membagi lahan itu menjadi dua. Separuh lahan bagian depan ditanami pohon buah dan palawija, sedangkan separuh lahan bagian belakang ditanami aneka bunga.
“Tapi harus ada bangku batu dan kolam kecilnya,” imbuhnya kurang puas.
“Oke, oke,” aku tersenyum menawarkan bendera damai. Namun ia melengos dan semalam suntuk tidur memunggungiku. Huuf, kalau sedang tidak sependapat, wanita memang sedikit rumit.
***


Pagi-pagi, sebelum sarapan dan berangkat kerja, seperti biasa, istriku sudah menyiapkan kopi dan gorengan. Aku senang sekali, wajah tirusnya sudah berganti seperti nama-nama hari yang terasa cepat sekali berganti. Di matanya yang cerlang seperti sudah tersusun rencana-rencana hebat yang akan ia lakukan sepanjang pagi, siang, hingga sore. Dan benar saja, sepulang kerja, aku dikejutkan dengan halaman rumah yang sangat rapi. Semak dan umput-rumput liar sudah dicabuti, aneka bunga—mulai dari mawar hingga bunga sepatu—yang masih utuh dengan pollybacknya sudah siap menancap di tanah yang sudah menganga.
Tampak beberapa tukang sedang sibuk, berjibaku dengan tanah dan cangkul. Istriku berdiri seperti mandor yang cerewet, yang memerintah ini-itu. Aku senang dengan kreativitasnya. Ketika sampai dihadapannya, ia mencium tanganku sambil mendesis, “aku baik hati, tho Mas? Lihat! Jatah lahanmu sudah tak bersihkan sekalian. Jadi kamu tinggal tanami dan atur.” Untuk memuaskan celotehnya, aku mengangguk dan tersenyum mantab.
Beberapa hari sebelum lahanku, lahan istriku sudah sumeringah terlebih dahulu, aneka bunga dan kerikil hias sudah mendekam di jatah lahannya. Bangku dari batu juga sudah magrong-magrong di lahannya, entah ia dapat dari mana. Dan jatah lahanku masih kosong melompong, sampai hari Sabtu-Minggu tiba, aku baru bergerilya: mengatur tanah, mencari bibit pohon yang bagus, sampai membuat rancangan tata tanam di atas kertas. Pohon mangga di tanam di mana, belimbing di mana, kelengkeng di mana, berapa jaraknya, letak kolam dimana. Semua benar-benar kuperhitungkan, sampai-sampai, sambil menyangking kopi dan makanan kecil, istriku turut berkomentar, “mau bercocok tanam saja lagaknya kayak arsitek, pakai mapping segala.” Aku cukup menanggapinya dengan senyum dan sedikit cengiran, dan ia akan diam.
***
Walhasil, dalam jangka kurang dari satu bulan, halaman rumah kami sudah menjadi calon hutan. Dengan aneka pohon dan bunga-bungaan. Kami merawat lahan kami masing-masing. Jika kebetulan ada tugas kerja keluar kota, aku memasrahkan lahan kepada istri untuk diberi makan dan minum. Kami cukup akur dan saling melengkapi. Sewaktu istriku hamil tua, ia pun memasrahkan taman bunganya untuk kurawat. Tentu saja dengan instruksinya.
Bunga-bunga di lahannya, kian waktu kian berbiak. Memang indah. Setiap sore aroma melati selalu memenuhi teras. Begitu juga pohon-pohon kecil di lahanku yang perlahan kian menjulang. Bahkan tepat ketika istriku melahirkan, pohon mangga dan kelengkeng di lahanku sudah berbunga. Belimbingnya malah sudah berbuah. Ketika putra pertama kami lahir, semua kebutuhan yang berhubungan dengan bunga, kami tidak perlu mencari di luar. Mulai dari bunga untuk menabur makam ari-ari, buat mandi kembang, sampai sajian sepasaran. Semua dipetik dari lahan istriku.
Semua berjalan dengan sahaja, hingga si kecil, balita kami sudah mulai berdiri dan belajar berjalan. Buah-buah di lahanku, juga melebat tiap musimnya. Berkalang waktu semua baik-baik saja hingga munculah sebuah kabar yang tersiar di televisi dan koran-koran: wabah ulat bulu. Dan berita itu rupanya cukup meneror istriku. Sehingga, ketika ia melihat seekor ulat bulu merambat di pohon manggaku. Ia berteriak-teriak dan menyuruhku menebang pohon itu. Aku hanya mengiyakan tapi tak pernah melakukannya.
***
Suatu sore, tiba-tiba istriku menjerit tak karuan. Ia melihat si kecil tengah asyik bermain dengan ulat bulu. Sangking nyaringnya jeritan istriku, si kecil sampai ikut menangis. Barangkali ia mengira ibunya memarahinya. Tapi memang benar, setelah menjerit seperti orang kecopetan, kemudian istriku menabok pantat si kecil yang sudah meraung-raung karena takut jeritan ibunya.
“Jijik. Kotor. Gatal. Sudah berapa kali mama bilang, jangan main di kebun. Banyak ulat bulunya. Nanti kamu gatal-gatal, mama yang susah,” pekik istriku, seolah-olah si kecil paham dengan kata-katanya.
“Papa sih, suruh nebang pohonnya gak ditebang-tebang. Ulat bulunya keburu beranak pinak,” tambahnya.
Rupanya, kata-kata istriku seperti kutukan. Beberapa minggu kemudian, satu-dua, tiga-empat, sampai puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan ulat bulu mulai berpesta pora di pohon manggaku. Beberapa di antaranya sudah merebak ke pohon kelengkeng dan belimbing. Hingga istriku tak berani keluar rumah. Ia juga menutup rapat-rapat semua pintu dan jendela. Katanya, supaya bulu ulat bulu itu tidak masuk ke dalam rumah. Ia melarang keras si kecil bermain di halaman depan sampai wabah ulat bulu itu sirna.
Lebih dari itu, ia melakukan semacam boikot dan memberiku semcam sanksi: aku harus merawat semua lahan di depan rumah, menyirami, memeberi pupuk, memotong daun-daun yang kuning, baik di lahanku atau di lahannya. Sekali lagi aku mengiyakan.
“Kalau papa gak mau nebang pohon-pohon itu, papa harus nyuruh orang nyemprot ulat bulu itu,” desak istriku lagi.
“Iya, papa sendiri yang akan melakukannya,” jawabku enteng.
Sebenarnya aku tak tega membunuh ulat-ulat itu. Namun, untuk mengelabuhi istriku, aku tetap melakukan penyemprotan. Tidak dengan pestisida, tapi dengan diterjen bubuk. Aku melakukan itu diam-diam. Dan mengatakan, bahwa obat semprotku pasti ampuh. Istriku manggut-manggut, sebelum kembali menyarankan sesuatu, “Kalau ke kebun, pakai jas hujan, Pa. Biar bulunya nggak nenpel di kulitmu.”
“Iya.”
“Pakai sepatu bot juga.”
“Iya.”
Hari Sabtu aku beraksi, memakai jas hujan lengkap dengan sepatu bot. Seperti saran istriku. Aku merasa seperti seorang astronot yang terdampar di tempat yang salah. Istriku, menonton dari balik candela kaca sambil mengudap keripik singkong. Duh, enaknya. Si kecil tampak meronta-ronta dalam dekapannya. Si kecil tampak antusias dengan yang dilakukan papanya.
Prstttt… satu semprotan mengguyur gerombolan ulat bulu di pohon mangga. Dua semprotan, tiga semprotan. Kuteruskan ke pohon kelengkeng dan belimbing. Ulat-ulat bulu itu menggeliat, beberapa jatuh dari pohonnya dan menggelepar-gelepar di tanah. Setelah kurasa tugasku selesai. Aku segera menghambur ke teras. Melepaskan perlengkapan penyemprotan termasuk jas hujan.
“Bagimana, Pa?” istriku tidak sabar. “Ulatnya sudah pada mati?”
“Sudah.”
“Dibakar aja pake obor. Mama siapkan obor, ya.”
“Nggak usah, Ma. Penyiksaan itu sudah lebih dari cukup.”
Malam harinya, wajah istriku tampak lebih cerah. Barangkali, baginya, terbebas dari ulat bulu sama leganya dengan terbebas dari debt collector. Haha. Malam ini papa mau apa, pasti mama kasih, kicaunya manja. Yah, begitulah wanita, tingkahnya memang suka tak terduga.
***
Pagi-pagi, istriku sudah melenggang ke kebun depan rumah. Barangkali ia sudah sangat kangen dengan piaraanya, si bunga-bunga. Ia menjawil bunga matahari dan mawar bergantian, diteruskan ke dahlia, melati, dan bunga sepatu. Dalam kepalaku, ia pasti tenggah menggumam, “Apa kabar semuanya? Lama tak jumpa.” begitulah kira-kira.
Setelah mengelilingi taman bunganya, ia pun mulai mengambah lahanku. Ia celingukan seperti mencari sesuatu.
“Papaaaa! Siniiiii!” teriaknya. Aku pun meladeni.
“Mana bangkai ulatnya. Kok tidak ada. Jangan-jangan ulatnya belum pada mati.”
Aku cuma melongo. Ketika kami menengadahkan kepala ke atas. Tampak ratusan atau mungkin ribuan ulat bulu tengah asyik bergelayutan di daun dan ranting. Istriku menjerit dan lari tunggang langgang ke dalam rumah. Aku tak tahu harus menjelaskan apa, jika nanti ia mengadiliku. Sudah bisa kubayangkan, bagaimana omelannya.
“Satu-satunya jalan, pohon itu harus ditebang. Di-te-bang!” kata istriku mantab.
“Jangan, Ma. Yang bikin rumah kita seger ya pohon-pohon itu.”
“Tapi ulat bulunya?”
“Itu kan hanya ulat bulu.”
“Pokoknya harus dibasmi.”
“Selama ulat-ulat itu tidak mengganggu kita. Kenapa kita mesti mengusiknya.” Jawabku terdengar bijak. Istriku tidak menjawab. Kami sama-sama diam, melemparkan pandangan ke hamparan kebun depan rumah.
“Ya sudah. Minggu ini papa full di kantor. Kita tunggu sampai minggu depan, jika ulat bulu itu tidak juga hilang, papa akan turun tangan.” Kataku kemudian. Aku hanya ingin melegakan istriku yang nggedumelnya tak reda-reda. Sambil berharap-harap supaya ulat bulu itu sirna dengan sendirinya. Entah dimakan burung entah hijrah ke mana.
“Tapi bener, ya. Minggu depan.”
“Iya.”
***
Berkalang hari, karena kesibukan kantor, aku tak sempat menengok lahanku. Hanya istriku saja yang kerap ke lahanya—hanya lahanya, untuk sekedar menyiram bunga atau memberi pupuk. Itupun, ia harus memakai jas hujan dan sepatu bot.
Hari sabtu yang ditunggu-tunggu istriku pun tiba, hatiku sudah deg-degan. Pagi ini aku harus menepati janji, untuk menangani ulat-ulat bulu itu. Istriku sudah tampak tak sabar ingin melihat aksiku akhir pekan ini. Padahal kepalaku kosong blong. Tak ada ide sama sekali, bagaimana menangani ulat-ulat bulu itu. Usai sarapan, setelah hampir tujuh hari, untuk yang pertama kali aku kembali menengok lahan di depan rumah. Namun, sampai di teras aku tercekat. Di taman bunga istriku, puluhan kupu-kupu aneka warna—mulai dari yang kecil sampai yang besar, menari riang mengelilingi bunga-bunga. Bukan puluhan, tapi ratusan atau bahkan ribuan. Kini, taman bunga istriku menjadi rumah kenduri kupu-kupu. Aku tak pernah melihat taman bunga sehidup ini.
Istriku yang sudah berdiri di belakangku turut tercekat, seperti melihat keajaiban, “Indah sekaliii!” gumamnya. “ini harus direkam. Diabadikan.”
“Uyat buyu! Uyat buyu!” si kecil turut bersorak.
“Itu kupu-kupu, Sayang,” ralat istriku.
“Uyat buyu! Uyat buyu!” si kecil tetap bersorak.
Aku dan istriku saling pandang.***
* Malang, Mei 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *