Novus Ordo Seclorum: Sebuah Fiksi Ilmiah Konspiratif

Esai Sugiarti, S.si (Riau Pos, 8 April 2012 & Padang Express, 15 April 2012)


alkhansashop.wordpress.com
“Di Hongkong uji coba Chip Mondex dilakukan pada 120.000 pekerja pada tahun 2007. Di bandara internasional Belgia terdapat fasilitas lounge yang dikhususkan bagi para eksekutif yang memiliki chip ini di tangan kanannya, sementara di Spanyol sebuah klub malam Baha Beach Club tidak lagi menerima uang cash dan mewajibkan seluruh anggota club menyuntikkan chip mondex di lengan kanan mereka agar mekanisme pembayaran dapat dilakukan dengan mudah.”
Rangkaian kalimat di atas sebagai kutipan dari Novel Novus Ordo Seclorum (Tatanan Dunia Baru) mengaurakan muatan ilmiah yang cukup padat. Fiksi ilmiah sebagai suatu bentuk fiksi spekulatif yang terutama membahas tentang pengaruh sains dan teknologi yang diimajinasikan terhadap masyarakat dan para individual, memberikan warna dan pesona tersendiri bagi kalangan pembaca sastra.
Rekam jejak yang ditorehkan oleh genre sastra yang satu ini tampaknya cukup memberikan konstribusi nyata bagi perkembangan teknologi ilmu pengetahuan di kehidupan alam nyata manusia. Kita ingat kembali Jules Verne dengan novelnya From the Earth to the Moon tahun 1865 dan dilanjutkan Around the Moon tahun 1870. Novel ini memuat tentang rincian yang penting mengenai pergi ke bulan, kondisi tanpa bobot, ukuran dasar kapsul angkasa, jumlah kru-nya (3 orang), dan bahkan konsep kembali ke bumi dari samudra bulan. Dan kejadian tidak disengaja yang menyenangkan adalah ada nya kemiripan semisal lokasi pendaratan di novel fiksinya Around The Moon yang hanya beberapa mil dari lokasi Apollo 8 mendarat. (menariknya lokasi peluncuran fiksinya hanya beberapa mil dari Cape Canaveral). Sama sekali tidak mengejutkan jika Jules Verne banyak menulis prediksi lain seperti termasuk perjalanan-perjalanan oleh balon, helikopter-helikopter, tank, dan mesin-mesin elektrik.
Demikian pula kelahiran teknologi internet di ranah kehidupan manusia,
Pengarang William Gibson memperkenalkan istilah “cyberspace” di tahun 1981 dalam cerita pendek “Burning Chrome” dan memulai ketertarikan media terhadap komputer dan internet melalui karyanya tahun 1984 novel berjudul “Neuromancer”
Bahkan sebelum Gibson, John Brunner tahun 1975 melalui novelnya “The Shockwave Rider” meramalkan jaringan informasi antar benua, Hacker yang menyusup ke jaringan diidentifikasi sebagai pencuri. Dan terutama terminologi Virus dan worm berasal dari buku Brunner. Brunner membayangkan menggunakan virus dan worm sebagai bagian perangkat perang, sesuatu yang agak ditakutkan militer belakangan ini. Harus dicatat juga tahun 1975 belum ada internet seperti sekarang, internet masih berupa proyek ARPANET, sebuah sistem komputer yang diciptakan departemen pertahanan Amerika Serikat.
Demikian pula yang dilakukan seorang Zaynur Ridwan dalam novel Novus Ordo Seclorum, sebuah fiksi ilmiah yang meramalkan konspirasi Yahudi terhadap penduduk bumi melalui aneka teknologi rancangan mereka. Novel ini berkisah tentang penyelidikan kasus kematian tiga orang secara bersamaan, yakni seorang peneliti WHO di Meksiko, seorang pengusaha di Inggris dan seorang senator di Amerika. Kematian tiga orang tersebut meninggalkan jejak yang sama, meninggalkan simbol bahasa purba yang disebut Codex Magica. Dengan pengetahuan recode anagram yang dimilikinya seorang pemuda Indonesia bernama Bumi dan sahabatnya Marie berupaya membongkar kasus ini. Tak sekedar pembunuhan biasa, kasus ini ternyata menyimpan konspirasi besar sejumlah elit tokoh politik yang tergabung dalam persekutuan pemuja berhala Bohemian Grove, jejering illuminati, freemason dan Club of Roma. Upaya pengungkapan kasus kematian tiga orang besar tadi membawa Zaynur Ridwan sang penulis bermain-main cantik di alur dan konflik novel ini. Penokohan yang sempurna pun digambarkan Zaynur melalui sosok Bumi yang terkesan amat cerdas dan berpengetahuan. Zaynur tampak begitu jelas mengeksplorasi proyeksi perkembangan teknologi Microchip, serta fakta permainan konspirasi industri farmasi dunia yang dilakukan pihak Yahudi. Fakta ilmiah ini banyak terungkap dalam dialog-dialog tokoh yang dimunculkan. Berikut salah satu contohnya, “Kita semua tahu bahwa tamiflu dianggap sebagai salah satu obat yang dapat menyembuhkan seseorang dari infeksi flu burung. Sekarang mari kita lihat datanya, 1). Efek tamiflu yang dilaporkan pada tanggal 22 Maret 2004 hingga 22 April 2005 menyatakan bahwa terdapat 1.184 kasus reaksi merugikan dan tamiflu dianggap tidak memiliki konstribusi signifikan terhadap penyembuhan infeksi virus, terdapat 75 kasus pediatric yang dinyatakan memiliki efek samping seperti reaksi fatal, empat orang mati mendadak dan tiga lainnya mengalami kelumpuhan cardio-respiratory, 32 kasus neuropsychiatric dan 12 kasus kulit sensitif. Ini dicatat oleh Departement of Health and Human Services, Public Health Service, Food and Drug Administration (FDA), Center for Drug Evaluation and Reasearch Memorandum pada 25 Agustus 2005. Pertanyaannya, jika vaksin dan obat dianggap gagal memberikan efek penyembuhan, lalu mengapa terus diberikan?”
Betapapun kekuatan seorang penulis mengungkap aneka fakta ilmiah di dalam karyanya, novel ini tetaplah mendapat kritikan dari banyak kalangan. Namun demikian sebagai bentuk pertanggung jawabannya, Zaynur Ridwan memberikan jawaban tegas terhadap kritik yang ditujukan pada karyanya, “Saya memiliki data yang jelas, silahkan anda melihatnya.” Terlepas dari reaksi kontroversial novel tersebut dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan eksplorasi ilmiah tersebut, novel terbitan Pustaka Alkatsar ini tetaplah memiliki banyak sajian keistimewaan, diantaranya;
Pertama, ruang eksplorasi yang cukup luas kecerdasan penulis. Inilah hal tegas yang diungkapkan seorang Adam Robert penulis novel Da Vinci Code, “Saya memang lebih tertantang untuk menggali banyak hal jika membaca fiksi ilmiah. Itu kesempatan saya untuk memunculkan banyak karakter. Saya bisa jadi jenius, saya bisa jadi terbelakang sekalipun. Saya bebas.” Kecerdasan seorang Zaynur dalam novel ini terungkap dengan penyajian data informasi yang luar biasa, lalu hal tersebut ia balut secara cantik dengan permainan bahasa fiksi yang membawa pembaca seolah-olah tengah menyaksikan film Box Office dunia. Percaya atau tidak, Zaynur mampu membawa imajinasi pembaca ke arah ruang ‘cerdas’. Pembaca tak hanya di arahkan kepada hiburan batin sebuah karya fiksi, lebih dari itu Zaynur mengajak para pembacanya untuk terus kritis dan proaktif dengan ‘isu’ ilmiah yang ia kemas begitu apik dalam rangkaian bahasa fiksi. Genre sastra yang satu ini memberikan kesempatan cukup luas bagi penulis untuk menghembuskan aneka karakter dalam karyanya.
Kedua, inilah ruang pengandaian edukatif. Membaca novel ini membuat saya seolah-olah diajak berlatih memaksimalkan otak kiri dan otak kanan. Bagaimanapun Zaynur mampu membawa imajinasi saya ke sebuah ruang yang cukup edukatif dan mencerahkan. Beberapa kali saya membolak-balik sampul buku ini memastikan bahwa karya yang saya baca ini berstatus sebagai novel. Zaynur menyajikan secara proporsional antara kebutuhan data ilmiah dan kebutuhan fiksi. Meski di bagian akhir novel ini, kejenuhan ilmiah cukup saya rasakan.

Namun begitu, genre sastra ilmiah adalah kolaborasi yang cukup bagus untuk pemaksimalan dua potensi kecerdasan seseorang, seperti ungkapan Adam Robert berikut, “Saya memang punya latar belakang seni dan humanistik, bahkan gelar PhD saya dapat dari sastra Inggris, saya juga mengajar sastra. Jadi saya menceburkan diri ke dunia penulisan dengan latar belakang sastra dan sisi estetik itu. Selain itu, saya melihat hal-hal yang berkaitan dengan sains akan menarik jika diekplorasi dari sisi metafora. Selebihnya, sebuah karya fantasi ilmiah akan berubah menjadi keras karena penulisnya adalah orang-orang yang berhadapan langsung dengan dunia sains. Mereka berpikir hanya dengan sisi sains, lalu membuatnya menjadi fiksi. Itu juga tidak buruk, tapi segi artistiknya tidak begitu tertangani dengan baik. Di sanalah saya masuk.” Inilah sebuah keniscayaan yang bisa dilakukan para sastrawan tanah air dewasa ini. Sebuah terobosan yang memberikan imbas positif bagi dunia yang berbeda, sastra dan sain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *