Pada Pelayaran Perahu Kertas dan Puisi-Puisi Lainnya

Oleh Irdas Yan (Riau Pos 27 Mei 2012)


www.imagekind.com


Pada Pelayaran Perahu Kertas
Tengah April 2012, sebuah perjalanan…

:tepian Selat Melaka itu…

Tepat di mana kapalku berhanyut pada secerca matlamat pelayaran. Layar menghala ke tangisan ombak semasa, menyaksikan kanak-kanak belia menjala todak di alur Selat Melaka. Ke manakah lesap tuan-tuan negerimu? kertasku merayap-rayap kuyup. Kau yang dulu mengais ombak, kini bahagia duduk bersila di kursi amanah negara. Sedang bangsamu?

:tepian Sungai Siak itu…

Dalam cericau burung mencumbui tepian pantai, perahuku masih tegar berkayuh penat. Memuja-muja Tuhan, untuk tuan-tuan yang lupa tahta berpijaknya. Mungkin tuan, engkau akan surut dalam pasang yang menelentangkan riuhnya gemuruh. Pelepah tematu menyapa memberi isyarat, jangan melabuhkan diri di sini!

Pulau kecil semakin merisau, askarnya masih berceracau, namun tuannya kecut dalam mimpi dan pukau. Kursimu di kerajaan demokrasi gantikan saja dengan perahu kertasku. Bagaimana?

Terlalu lena engkau berpangku.
Makin ke hulu bahteraku berkayuh, terpampang si hawa dengan kerudungnya berkayuh sampan mencari ikan. Ke manakah lakinya?
Lagi dan lagi asinnya hari terjilat di celah lembabnya tubuhku. Air mata rakyat bercampur di sana.
Tuan negeri, celikkanlah biji mata hatimu! Kapal kertasku tak kuasa menahan curamnya nasib hamba Tuhanku.
Beringsut ke hulu-hilir pelayaran. Terlihatlah pertunjukan anak-anak negeri, mereka terjerat tanpa ilmu. Mengais hari di tengah asinnya samudra. Para pelaut yang tak berdaya mencengkram pada  tengker minyak besar yang menguras kekayaan alam Tuhan. Mereka menepi.
Perahu ini semakin galau. Tak kuasa menahan igau saat melihat orang Riau di celah-celah bakau. Mereka mengais-ngais lokan untuk menghapus risau. Sedangkan engkau wahai tuan, sedang eloknya bersama keluarga bersenda gurau.

:tepian dermaga Sungai Duku itu…

Diri ini mulai melabuhkan diri. Terlihat di ujung dermaga, rakyat kita yang mengais rezeki. Peluh-peluh mereka menjadi saksi kemiskinan ini. Riau yang di mata nusantara termahsyur akan kekayaannya, tapi hanya ironis belaka.
Olengnya perahu kertasku di penantian ini sepertinya sudah kelelahan. Membayangkan kedua kakiku berpacak di tanah negeri tak berdosa, tanpa iba tuan-tuan negeri. Harap.
Perjalanan ini tak lama, Bung. Hanya melangkah beberapa depa. Tapi, inilah hikayat nusantara, tepatnya di Bumi Pusaka, yang di dalamnya masih ada rakyat jelata, yang masih membutuhkan belas kasih tuan-tuannya. Aku pun turut berbelasungkawa, kemana pergi ‘’kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia,’’ seperti yang dilagukan si Pancasila. Huh!!!

BilikBumiSriGemilang, April2012


Lelaki Penenun

/1/
Memang engkau masih lelaki. Puak adam yang terendam di pekatnya demokrasi. Tapi ada beberapa sila yang tak pula kau hafal,
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Barangkali engkau sengaja tak menghafalnya, atau memang masih buta huruf di tengah anggaran pendidikan yang membuncit itu.

/2/
Memang engkau masih penenun. Pada hamparan pesisir laut, engkau meniti ombak dengan tenunmu. Tenun yang setiap orang mempunyainya, di negerimu.
Dulu anakmu pernah berhikayat padaku, engkau ukir tenun bercorak bendera merah putih menjelang tibanya hari kemerdekaan. Entah bagaimana filosofi engkau menciptanya, anakmu tak mau menceritakan padaku.
Tenun yang renta itu masih saja berderak mengharmonikan hari-harimu. Iya, hari-hari tuamu.
Kini engkau tak lagi pula menenun. Entah kenapa, engkau hanya terdiam membisu di kursi goyang itu sambil menghala ke laut menembuskan pandangan ke hamparan kota-kota industri di ranahmu. 
Ada bulan. Memang ada bulan di bola matamu yang berlapis kaca cembung bertangkai itu. Bulan yang pelik. Bulan yang redup. Bulan yang bermotif tenunmu masa lalu. 
Semasa muda, hasil keringat dari tenunanmu dipakai para laksamana, kan? Tenun yang penuh dengan khazanah dan, cinta.

/3/
Tanah tebing pulaumu semakin terkikis ombak. Senada dengan tenunmu. Tenun yang semakin terkikis oleh mesin-mesin yang menguburkan khazanah alam. Tungkahan-tungkahan rindumu itu terdeskripsi jelas, pedas. Ada air mata yang membeku di celah-celah risaumu.
Aku bukan hendak menceritakan tentangmu. Tetapi, cerita tentangmu itulah yang membuat aku berkehendak menceritakannya.
Sudahlah Pak. Biarkan saja tenunmu itu terkubur.

Sungai Pakning – Bukit Batu, Mei 2012


Lelaki Tuak di dalam Kereta Zapin

Abah memang ayahmu. Dengan lengannya yang bergetar oleh derasnya peluh, di situlah ruang di mana ia berkeluh kesah. Memang tiap gulita mengatup siang, engkau juga menemukan kereta di bola mata Abah. Entah kereta apa, kau tak pernah cerita.

Di persimpangan rindu itu engkau seakan menelan beberapa tungkah risau. Melihat Abah dari rantau berkayuh kereta. Iya, Kereta Zapin. Biduan lelaki tuamu yang menyimpan khazanah negeri dan membalutnya dengan tuak. Dari panggung menuju gedung menjulang, ia tidak alpa dengan tuaknya. Senada dengan lenggok zapin yang ia sajikan. Ini bukan seperti Jackhie Chan yang ada jurus mabuknya. Tapi memang ini lelaki tuak yang mabuk di riuhnya negeri. Kereta zapin – yang pernah terkulai di panggung budaya itu – kini engkau menyembunyikan diri di dalamnya. Sekian jarak anakmu mengais, memang tubuhmu sudah terkubur di kereta zapin itu. Bini abahmu pun sudah beribu kali menjulang petuah, jangan kau sentuh arak itu lagi kalau hendak berzapin!!! Ia tak ambil risau. Abahmu memang seperti itukah?

Lelaki zapin itu seperti hidup. Bahkan sudah bernyawa dengan tuak yang tiap berzapin ia seduh dalam-dalam. Kalaulah air setan yang ia telan, bagaiamanakah nasib setan dan kaumnya? Pacakelik-kah?
Orang kampung selalu membuat majlis perayaan. Dan memang ia dengan kereta zapinnya itu selalu juga dan pasti bertuak di sana. Bukan hanya dia, tapi juga mereka. Para penikmat zapin kampung. Selafaz dengan penikmat orgen tunggal di penghujung malam. Sudahlah. Ini hanya soal lelaki zapin itu.***

Sungai Pakning-Bukit Batu , Mei 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *