Bukan Kisah Cinta Rama dan Sinta

Oleh Denny Prabawa (Majalah Story, edisi Juli 2013)

Namaku Shanti, tapi entah mengapa kisah hidupku serupa Sinta… Dicintai dua lelaki dan hanya mencintai seorang lelaki.

Shanti merebahkan tubuhnya di atas ranjang rumah sakit. Seorang perawat membalut lengannya dengan cuff, memompa udara ke dalam cuff, kemudian memutar valve untuk melepas sedikit demi sedikit udara dalam cuff. Telinganya yang tersumbat stethoscope berusaha menangkap suara aliran darah dalam tubuh Shanti. Perawat itu menuliskan sesuatu dalam buku catatannya. Setelah memastikan segalanya tampak normal  saja, perawat itu meninggalkan Shanti sendiri dalam kamarnya.

Ramacandra tengah menemui dr. Laksmana, Sp.OG, adik tirinya di ruang kerjanya. Shanti tidak mengerti, mengapa kekasihnya itu bersikeras membawanya ke tempat ini?

“Aku baik-baik saja, Rama,” kata Shanti beberapa waktu lalu, saat dalam perjalanan ke tempat ini.

“Biar Laksmana yang memutuskannya,” sahut Rama setelah melempar senyum ke arahnya.

“Mengapa harus Laksmana?” tanya Shanti heran, “Bukankah dia spesialis kandungan?”

“Hanya ingin memastikan,” kata Rama datar saja.

“Apakah aku masih perawan, begitu?” tanya Shanti dengan nada meninggi.

“Bukan sayang,” ujar Rama lembut, “aku hanya tidak rela jika Dasagriva sampai mengotori kesucianmu!”

“Apakah kau tidak percaya kepadaku?”

“Aku percaya kepadamu, Shanti,” ujar Rama, “Tapi aku tidak memercayai psikopat itu!”

“Dia tidak melakukan apa pun  kepadaku.”
“Dia menculikmu!”
“Maksudku….”

“Sudahlah, biar Laksamana yang memutuskannya.”

Shanti teringat pada Dasagriva. Lelaki yang telah menculiknya. Lelaki yang sudah jatuh cinta kepadanya sejak masih di bangku sekolah. Kecantikan Shanti yang serupa Dewi Laksmi bagi Dasagriva membuat kapten tim basket di sekolahnya itu bermain kesetanan dalam suatu pertandingan. Teriakan semangat Shanti bahkan mampu memalingkannya dari kecantikan para pemandu sorak. Di mata Dasagriva, Shanti yang berkacamata tebal dengan rambut yang selalu dikucir kuda serupa titisan Laksmi, istri Wisnu dari mitologi Hindu.

Semenjak hari itu, Shanti menjadi hantu bagi Dasagriva. Sosoknya menari-nari dalam kepala Dasagriva. Tak ada yang lebih diinginkannya selain memenangkan cinta titisan Laksmi itu. Namun, Shanti tak ubahnya merpati yang betapapun tampak jinak selalu terbang jika ia mencoba mendekatinya.

Shanti sangat berbeda. Ia lebih suka mengunjungi perpustakaan daripada menghabiskan waktu di pusat-pusat perbelanjaan. Ia tak pernah risau pada sengat matahari yang mengancam putih kulitnya. Kacamata tebal yang dikenakannya tak pernah mampu menyembunyikan keindahan wajahnya dari mata Dasagriva. 

Sampai pada suatu senja yang biasa-biasa saja. Ketika Shanti tengah asyik mendongeng di sebuah taman bacaan masyarakat dekat kediamannya, Dasagriva datang membawa seikat bunga yang ia petik dari taman hatinya. Kepada Shanti, ia tawarkan cinta.

Shanti yang terkejut mendengar pernyataan Dasagriva, mengajak teman sekolahnya itu keluar. Pikirnya, anak-anak belum pantas menyaksikan adegan macam begitu. Sudah cukup sinetron meracuni pikiran anak-anak itu.

Dasagriva menyerahkan bunga yang dibawanya kepada Shanti. Gadis itu menerimanya dengan senyum ramah.

“Apakah kau menerimaku?”

“Maaf, Dasagrifa,” kata Shanti hati-hati, “aku telah dijodohkan sejak masih dalam kandungan.”

“Oleh siapa?”
“Oleh takdir.”
“Aku akan mengubah takdirmu!”

Shanti tidak menggubris perkataan Dasagriva, ia hanya tersenyum sebelum meninggalkan teman sekolahnya itu. Ia tidak pernah menduga jika lima tahun kemudian, setelah mereka lulus kuliah, saat Ramacandra datang melamarnya, Dasagriva membuktikan perkataannya. Saat ia tengah gelisah menanti kedatangan Ramacandra yang telah digariskan oleh sang takdir menjadi pendamping hidupnya, Dasagriva menyelinap ke dalam kamar pengantin di hotel bintang tujuh itu.

“Aku tidak ingin melukaimu,” kata Dasagriva, “aku hanya ingin kauikut denganku.”

Shanti ingin berteriak. Belum sempat ia melakukannya, Dasagriva telah membekap mulutnya dengan sapu tangan yang telah dituangkan parfum dengan bau menyengat. Shanti jatuh pingsan dalam dekapan Dasagriva. Sesaat dan hanya untuk sesaat ia memandangi kecantikan Shanti dalam balutan kebaya modern. Titisan Laksmi bagi Dasagriva itu tampak kian indah dengan kerudung yang dikenakannya. Setelah itu, ia membopong Shanti dan menyembunyikannya dalam troli layanan binatu hotel, sebelum melarikannya dengan mobil yang diparkir di pintu belakang hotel.

Shanti membuka matanya dan menemukan dirinya sudah berada di dalam kamar sebuah vila dengan pendingin ruangan yang membekukan. Tangannya terikat pada ranjang. Dasagriva mengambil selimut tebal dan membungkus tubuh Shanti dengan selimut itu.

“Apakah kau masih kedinginan?”

“Aku haus.”

Dasagriva segera pergi ke dapur untuk mengambil susu coklat hangat. Ia tahu betul kesukaan wanita yang dicintainya itu. Ia segera menyodorkan gelas susu itu ke mulut Shanti, tapi Shanti enggan membuka mulutnya. 

“Aku akan membuka ikatan tanganmu,” kata Dasagriva, “asal kau berjanji tidak lari?”

Shanti mengangguk. Dasagriva segera membuka ikatan tangan Shanti, lalu memberikan gelak susu coklat hangat kepada Shanti.

“Segera habiskan,” kata Dasagriva, “biar tubuhmu hangat.”

“Mengapa kau melakukan ini?”

“Aku mencintaimu, Shanti.”

“Bukankah sudah kukatakan kalau kita tak mungkin bersama?”

“Aku sudah berjanji akan mengubah takdirmu.”

“Jika kau mencintaiku, mengapa kau menyakitiku?”

“Aku tak bermaksud menyakitimu,” kata Dasagriva dengan nada penuh penyesalan, “maafkan aku?”

Dasagriva memang tak pernah menyakitinya. Selama seminggu ia berada dalam sekapannya, tak pernah sekali pun Dasagriva berlaku kasar kepadanya. Lelaki itu bahkan tak pernah menyentuh dirinya. Ia tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita dengan sopan. 

“Aku hanya ingin mencintaimu dan tidak ingin kehilangan dirimu,” kata Dasagriva ketika Shanti menyanyakan, mengapa ia menculik dirinya.

“Kau tidak mencintaiku,” kata Shanti, “kau hanya tak mau kehilangan harga dirimu karena orang yang kaucintai akan dinikahi oleh lelaki lain.”

Dasagriva tak menjawab. Ia hanya menenggelamkan pandangannya ke lantai kayu dalam kamar vila itu. Beberapa saat kemudian ia mengangkat wajahnya, memandangi Shanti yang berusaha membuang tatapannya ke tempat lain.

“Apakah kau mencintai Ramacandra?” tanya Dasagriva hampir seperti berbisik kepada dirinya sendiri.

“Aku mencintainya,” tegas Shanti, “takdir telah menjodohkan kami bahkan sejak kami masih dalam kandungan.”

“Mengapa takdir tidak menjodohkanmu dengan diriku?”

“Aku tak tahu.”

Dasagriva membuka ikatan tangan Shanti. Ia menyerahkan kunci mobilnya kepada Shanti. “Kau boleh pergi sekarang.”

“Mengapa kau melepaskan aku?”

“Karena aku mencintaimu.”

Terlambat. Sebelum Shanti meninggalkan vila itu, Ramacandra sudah lebih dulu datang bersama pasukan dari kepolisian. Dasagriva tak memiliki apa-apa untuk melawan todongan senjata. Ia diam saja saat polisi mengalungkan tangannya dengan borgol. 

Shanti berusaha meminta polisi untuk melepaskan borgol pada tangan Dasagriva. Namun, polisi menolaknya. Sebelum polisi memasukkannya dalam mobil tahanan, Dasagriva sempat memandang ke arahnya. 

Entah mengapa Shanti tiba-tiba ingin berlari menyusulnya, tapi tak ia lakukan. Ia mencintai Ramacandra, tetapi lelaki yang telah menculiknya itu begitu mencintainya. Apakah cinta yang dimiliki Ramacanda lebih besar dari lelaki itu? Dasagriva tak melakukan apa pun kepada dirinya selama masa penyekapan, meskipun sesungguhnya ia bisa melakukan apa pun kepada dirinya. Apakah Ramacandra akan melakukan hal yang sama jika berada dalam posisi Dasagriva?

***

Ramacandra dan Dokter Laksmana masuk bersama perawat yang tadi memeriksanya.

“Maaf membuatmu lama menunggu,” ucap Ramacandra seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Shanti seperti hendak mencium kekasihnya itu.

Shanti memalingkan wajahnya. “Kita belum resmi menikah, Rama.”

Ramacandra hanya tersenyum meski tampak kecewa. Sepanjang usianya belum sekali pun ia bertemu wanita serupa Shanti. 

“Apakah kau sudah siap diperiksa?” tanya Laksmana mencairkan suasana.

“Aku tidak sakit, Laksmana!” tegas Shanti.

Adik tiri Ramacandra itu tersenyum mendengar perkataan calon iparnya itu. Ia menoleh ke arah kakaknya. Ramacandra hanya menganggukan kepala.

“Suster, bawa Nona Shanti ke ruang periksa saya,” perintah Laksmana.

Perawat itu segera mendorong kursi roda mendekati ranjang tempat Shanti berbaring. “Silakan, Nona Shanti,” ujar perawat itu ramah.

Mulanya Shanti enggan naik ke atas kursi roda itu. Namun, ia beranjak juga dari kasurnya ke kursi roda. Sebelum perawat itu membawa Shanti ke ruang periksa, ia sempat melontarkan sebuah pertanyaan kepada calon suaminya.

“Rama, jika aku katakan bahwa Dasagriva telah menodaiku, apakah kau masih mau menikahiku?”

Ramacandra terdiam mendengar pertanyaan Shanti yang tak pernah diduganya. Ia menatap wajah kekasihnya, berusaha menemukan kesungguhan di balik perkataan kekasihnya itu.

“Rama,” tegur Shanti, “mengapa kau tak menjawab  pertanyaanku?”
Laksamana seolah memberi isyarat kepada perawatnya. Perawat itu langsung mengerti. Ia segera membawa Shanti keluar. Shanti masih saja memandangi wajah Ramacandra yang berusaha memalingkan wajahnya.

Ting! Pintu lift terbuka. Perawat mendorong kursi roda ke dalam lift khusus pasien. Setelah di dalam lift, ia menekan tombol angka tiga. Lift segera bergerak ke atas menuju lantai tersebut.

Hanya tinggal satu level lagi, sebelum mereka tiba di lantai tiga. Shanti sudah tahu apa yang harus dilakukannya, begitu pintu lift terbuka nanti. Ia tahu di mana bisa menemui Dasagriva, ia tahu di mana lelaki itu ditahan.

Depok, 29 November 2012

Denny Prabawa

Denny Prabawa, seorang penulis, editor, dan layoter lepas di beberapa penerbitan. Tulisannya tersebar di berbagai media seperti Kompas, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Suara Karya, Media Indonesia, Seputar Indonesia, Padang Ekspres, Lampung Post, Sabili, Annida, dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *