Ilalang yang Engkau Petik dan sajak Lainnya

Sajak-sajak Alizar Tanjung (Indo Pos, 7 September 2013)

ILALANG YANG ENGKAU PETIK

sebatang ilalang engkau petik, engkau endus
lembut batangnya, kapuknya yang lembut itu
jatuhnya juga di telapak tanganmu yang halus,
engkau terbangkan ke udara yang dingin,
engkau tersenyum.

engkau bilang engkau datang dari tempat jauh,
rumah tanpa ilalang di halaman,
tanpa bunga kapuk yang melambai di udara
saat pagi begitu hambar dan senja pulang
ke malam begitu kosong.

“kini telah kumiliki ilalang,” katamu.
“seperti engkau memiliki aku,” senyummu.
hujan rintik dari langit, bunga kapukmu jatuh
ke tanah, aku hanya ingin katakan,
“telapak tanganku kasar.” tapi, ah, sudahlah,
ayolah kita pulang, besok kita akan kembali
ke ladang ini memetik ilalang.

(rumahkayu, 2013)

***

STASIUN TUNGGU SIMPANG HARU

“siapa yang kau tunggu se sore ini,” katamu,
rambutmu harum kenanga, semampai ke tumit,
kereta dari ujung sana mungkin tersesat
di suatu simpang rel. sebab itu  kerekel di sini
sepi, seperti perempuan yang sedari tadi
menangis di ujung ruang tunggu, aku tahu
dia perempuan yang terus menunggu kekasih
yang tak pulang-pulang, setelah dia melepas
dari gerbong utama di depan kita.

“aku menunggu kereta berikutnya,” luguku,
keyakinanku sedalam keyakinan sambungan
rel satu dengan rel berikutnya di stasiun
simpang haru ini,
dingin di sini semakin menyentuh kulitku,
suara petugas yang nyinyir melodi di tengah
kesunyian, suaramu simfoni sepiku,
perempuan di koridor telah tertidur.
“kau sudah tahu di sini
tempat bertemu dan berpisah.” harum kenanga itu
menyeruak, kau menggandeng manja tanganku,
kita pergi.

(rumahkayu, 2013)

***

BUNGA PADI

apakah namamu Halimah, Rukaya,
Zainab, Rahima, beritahukan kepadaku,
semekar bunga padi menantang matahari,
setelah matang dia runduk, dan engkau
tersipu malu-malu menghalau burung gereja
yang genit dalam lukisan.

air mata kebahagianmu tumpah, seekor
burung gereja berkicau, kupu-kupu kuning
terbang rendah, dan kau setenang daun
yang melambai, hatiku segelisah pusaran
di antara air sawah, bertanya-tanya
siapa namamu, siapa yang menjeratmu
dalam lukisan, ingin kubawa kau keluar,
kubawa kau pulang, kubawa kau ke sawah padi
di sana angin masih angin buritan.

(rumahkayu, 2013)

***

PAWANG YANG BAIK

aku pawang yang  baik yang menjaga ular sancaku,
kuajari dia menyimpan taring, biar pandai dia
menahan bisa, tak ada yang akan terluka, dan
aku akan tetap menjadi pawang yang digemari ular
sedusun, mulai dari ular sawah, ular semak belukar,
ular dalam dirimu.

hingga kau datang,  mengajari ularku secara rahasia,
mengeluarkan taring, mengeluarkan bisa,
dia sudah pandai mendesir melawan pawangnya,
kepala membentuk leher angsa, mata setajam hasrat
ular dalam dirimu.

aku bertarung dengan ularku sendiri, taring dan bisa
yang kau ajarkan buat membunuh tuannya,
bertemu taring dan bisa dalam dagingku, darahku
penawarnya, tak akan merusak bisa itu padaku,
padamu hasrat ular yang mematuk diri sendiri.

(rumahkayu, 2013)

***

SEHELAI BENANG PENJAHIT

apa pendapatmu tentang tubuhku yang sehelai,
tentang hasil karya yang dibentuk dari luka,
dimakan mata penjahit untuk menanggung duka
di tepi celanamu yang robek,
masuk lubang sempit keluar lubang sempit,
tubuhku yang membetulkan serabutan benang
celana tak terurus itu, tubuhku pula mengizinkan
dagingmu menodai benang celana.

ya, aku si pengembara dari kisah ke kisah
lubang mata penjahit, segala duka benang celana
telah aku saksikan pada tubuhku,
dari celah ke celah hanya rasa sakit.

(rumahkayu, 2013)

***

MANTRA RUMPUT TEKI

datanglah, datanglah, datanglah, dari langit, dari bumi,
dari akar dari pucuk, dari batang, dari jantungku, aku
anak si petani yang sabar bangun pagi hari, aku jadi
si petani yang sabar mengikuti liku dan tanjakan
jalan setapak baliakpuncak, datanglah dari telapak
kakiku yang bergaris panjang dan pendek, aku tunggu.

akhirnya kau datang juga dari semak belukar,
dari selah daun yang berhasil dicumbui tanah,
dari harum hutan yang menyisihkan harum kenanga,
melekat tubuhmu pada baju dan celanaku,
meninggalkan bau hutan rimba raya,
baumu yang menyisip pada setiap keringat dagingku.

(rumahkayu, 2013)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *