Membaca Bius Estetika Kata dalam Cerpen “Air Akar” Benny Arnas

Esai Nafi’ah Al-Ma’rab (Riau Pos, 12 Januari 2014)
Sudah menjadi kebiasaan, setiap penulis ingin unggul dengan karakternya masing-masing. Sebab karakter inilah yang akan membuat sebuah karya bertahan, demikian pula dengan penulisnya akan selalu dikenang dengan suatu keahlian yang akan menjadi pembelajaran bagi penulis-penulis dikemudian hari. Benny Arnas, siapa yang tak kenal dengan penulis kumcer Bulan Celurit Api yang sempat menghebohkan media-media harian di tanah air. Karakter khas yang melekat pada penulis asal Lubuklinggau tersebut tak lain adalah bagaimana kemahiran dirinya memilah kata, membuat yang biasa menjadi tak biasa, membuat yang sederhana menjadi lebih berestetika.
Cerpen “Air Akar” karya Benny Arnas merupakan salah satu cerpen dari sekian banyak cerpen yang ia tulis dengan tetap bertahan dengan perbincangan tema-tema lokal yang tak pernah habis. Cerpen ini menjadi pemenang pertama pada event lomba Kutulis Nusantara tahun 2012 dan saat ini termuat dalam antologi cerpen budaya bersama sepuluh pemenang lainnya. Diterbitkan langsung oleh penerbit kenamaan Gramedia Pustaka Utama menjadikan cerpen “Air Akar” kian membumi di seluruh antero.
Membaca cerpen “Air Akar” tersebut, kita akan menemukan beberapa hal yang bisa menjadi ‘oleh-oleh’ intelektual untuk pengembangan karya-karya yang akan kita tulis. Pertama, terlihat jelas konsistensi Benny Arnas dalam menggarap tema-tema lokal di wilayah Lubuklinggau yang seolah tak pernah habis. Kisah seorang guru PNS yang mengabdi di daerah pedalaman kawasan tersebut dengan lika-liku masalah sosial budaya yang ia hadapi telah berhasil menghadirkan kesan lokal yang cukup dalam. Karakter lokal yang dihadirkan oleh Benny dalam cerpen tersebut diantaranya adalah setting, konflik yang diangkat dari kondisi sosial budaya setempat dan sebagainya. Karya-karya Benny Arnas bisa dibilang dapat dijadikan sebagai referensi pembelajaran untuk penulis mula yang masih kebingungan bagaimana caranya menghadirkan kesan lokal dalam sebuah cerpen. Dibanyak kesempatan, Benny sering menegaskan bahwa dirinya termasuk pendukung ‘kearifan lokal’ yang arif.
Karya-karyanya selalu berupaya melakukan pelurusan fakta suatu kearifan lokal yang terkadang dinilai tidak arif.
Kedua adalah soal bius estetika kata yang tak pernah alpa menjadi menu hidangan di setiap karya-karya cerpen Benny Arnas. Lihatlah bagaimana ia mengolah kata yang biasa menjadi tak biasa dalam paragrap berikut, Jarum-jarum bening bagai berebutan menciumi pucuk-pucuk karet, seolah tahu benar betapa pohon-pohon tua itu meranggas karena kemarau yang memamah beberapa purnama. Daun-daun kering yang menyelimuti hamparan tanah di bawah payungan kanopi karet, kini lindap, basah, lembab, lalu mempersilakan cacing, kalajengking, dan pacat menggeliat, mencari makan ke sana-ke mari. Tak lama, raksasa itu lelah juga. Wajah langit kembali merona biru laut. Di salah satu lembah, dekat Sungai Lubukumbuk, bianglala melengkungkan cahaya tujuh warna. Memang, sebagaimana di kampung lain, penduduk Kampung Nulang yang sebagian besar menyadap karet itu juga percaya bahwa beberapa bidadari kerap singgah di kampung mereka, di lembah yang sejuk oleh semak bambu, perdu, dan pohon-pohon besar tak bernama. Namun, mereka tak pernah tahu bahwa Tuhan telah menurunkan seorang bidadari di tengah-tengah mereka.
Sebenarnya soal estetika saja akan menjadi hal yang biasa apabila tidak dibarengi kemampuan membius pembaca dengan alur cerita yang menawan. Belum lagi selesai pembaca terkagum-kagum dengan bius estetika yang dihadirkan, pembaca harus tersentak ketika ending yang dihadirkan erat kaitannya dengan paragraf sederhana yang barangkali tak pernah diperkirakan oleh para pembaca menjadi kunci penyelesaian konflik cerita, Pada hari yang lain (mungkin ayah Nalin mengira Bunga Raya juga akan menyadap karet seperti perempuan Kampung Nulang pada umumnya), ia dikirimi sebotol cuka para, semacam air keras berwarna gelap yang sering digunakan untuk mencetak karet sebelum siap dijual. Bunga Raya tetap menerimanya (ia berencana akan memberikannya kepada penyadap karet sekitar yang membutuhkan). Upaya Benny dalam menyembunyikan ending dalam cerpen Air Akar tersebut bisa dibilang berhasil.
Hal ketiga yang patut untuk dijadikan ‘oleh-oleh’ intelektual dalam cerpen “Air Akar” tersebut adalah nilai edukasi informatif yang disajikan secara transparan. Paragraf berikut ini bisa sedikit menggambarkannya, Maka, setelah berulang kali bolak-balik ke kota, setelah berulangkali berkonsultasi dengan beberapa dokter, ahli herbal, dan teman-temannya yang peduli, Bunga Raya akhirnya dapat membuat Air Akar. Demikianlah sari umbi-umbian dan akar-akaran itu diberinama. Air Akar diyakini dapat menyembuhkan sejumlah penyakit dan keluhan. Ramuan cokelat pekat itu biasanya dimasukkan ke dalam botol dan dapat digunakan untuk waktu berbulan-bulan. Memang rasanya pahit tak kepalang. Namun, ini bukan tentang rasa yang kerap diributkan orang-orang kota. Ini tentang tampilan yang harus berkarib dengan alam dan kampung yang sederhana. Untuk itu semua, Bunga Raya merelakan sebagian gajinya terpakai. Ya, Bunga Raya sadar benar, tak cukup hanya dengan bismilah untuk mengurusi nyawa orang!
Membaca sebuah cerpen menjadi tak sekedar menikmati estetika. Benny ingin mengesankan kepada pembaca tentang informasi pengetahuan pengobatan alami melalui karyanya. Ini merupakan hal yang patut dihargai, sebab yang lebih istimewa lagi adalah, Benny mengangkat informasi pengobatan tersebut juga masih dalam kerangka tema lokal yang ia garap.
Hampir tak ditemukan cela dalam cerpen “Air Akar”. Meskipun Benny kerap dituding sebagai penulis yang harus terus mengasah kemampuan menghidupkan tokoh, namun “Air Akar” menjadi bukti kepiawaian Benny bersahabat dengan kata.***
* Ketua Forum Lingkar Pena Riau.
Baca juga cerpen Air Akar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *