Subuh Duka dan Sajak Lainnya

Sugiarti (Riau Pos, 18 Maret 2012)



(www.pinterest.com)

sudahlah, lepaskan (cukup)

jasadku masih saja kelana
ketika nanar wajahku disinggahi senyummu
kau ini apa tak punya nalurikah, saudara
bahkan rindu terbungkus untuk langit kau renggut
di pekat belantara, di antara jejak-jejak seok yang kubangun
kuanggap kau terlalu antagonis, sebab aku protagonis

inilah rindu, membusuk di atas kertas-kertas peluh
kau tak ajari aku jurus mencuri senja
jadilah riwayatku terkatung-katung di katup matamu
kau tak ingatkah tragedi membungkam pagi
rautmu disapu gerimis yang sulit ditafsir

aku telah mempersila hujan menjemput senjaku
kau kan terlalu liar,
aku tak sanggup mengenang-ngenang kebisuan
kau tinggal aku tanpa sesuap kata
mungkin perutku dahaga,

tapi tak pernah kau jamu semburat rasa
hal ihwal yang pernah kau ucap
beterbangan di sudut-sudut resah
melekat di kaca jendela rumah tuaku
barangkali cuma khilaf, bukan?
tapi memang begitu bicara lawasmu
puisi saja sanggup kau bodoh-bodohi
aku tak kan, ‘tak apalah’
kita bertarung sepolos mata malam

aku telah mencarimu berlapis-lapis waktu, saudara
menunggumu ibarat luka menganga
tanpa betadine atau obat merah
nyeri kian tersulam,

mungkin aku terdodoi dongeng
mana (aku) menyukai air mata
mana (aku) menanti duka
mana (aku) merindu derita
sudahlah, lepaskan (cukup)

(Pekanbaru, Maret 2010)


***

sepenggal lirih yang kucipta pada detikdetik perjumpaan kita

sepenggal lirih yang kucipta pada detikdetik perjumpaan kita, melesap dilebur temaram gelap pekat melekatkan rindurindu tersisa berpuluh tahun lalu pada siangsiang kering. aku hadir membasuh jemariku, merundukkan bahu memujimu dipersaksi peluhpeluh kubangun tetes-tetes mengadu luka memerih. kalbuku, telah kuserahkan saja pada denting waktu yang berjalan, kau memanggilku pada masa dimana aku lupa arahmu, berjalan penuh tatihtatih jemu menelusuri relrel jalanan yang kurasa kian memanas. tuhan, ajari aku membungkukkan tubuhku padamu, menghembuskan debudebu liar sisa tidurku semalam.

*ilahi, ini aku datang padamu dengan wajahku kemarin, kalau kau tak keberatan, tataplah aku sewaktu saja*

keakuan telah melukai harihari dimana aku disinggahkan pada tanah moyang tandus tanpa embun doa padamu.
aku melangkah pincang, menujumu dengan balurbalur rindu meranum.
terlambat, mungkin terlambat kuadukan sisa cinta ini.
tuhan, semalam aku tak tidur berjaga menungggu meluruhkan keangkuhan hatiku, menunggumu di puncak waktu penggal paruh subuh beku.

Pekanbaru, September 2011

***

Subuh Duka

: Yoyoh Yusroh

Bagimu
            : kematian itu teramat kecil
                        dedaun syurga menyambut berarak
             jannah tak henti memanggil
                        kau datang bergegas, pada subuh yang luka

Bagiku
           : kafan itu menjadi duka yang memerah
                       semilir pagi kian memerih,
                       takdirmu di serambi Cirebon
hari ini adalah hamparan air mata
kau titipkan pada lelap kami
                       sedang kami tak siap
                       melepasmu dengan tergagap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *