Bulan Merah

Cerpen Aveus Har
Dimua di Suara Pembaruan, Minggu 20/12/2009

Masih terlalu siang untuk bulan. Matahari sedang hendak beranjak. Masih terlalu siang pula untuk Pardi. Para pedagang sedang hendak menggelar lapak. Masih terlalu dini memang. Hari baru menjelang Ashar.

Jumilah, istri Pardi, pun sudah mengingatkan suaminya tadi. Tapi mana mau Pardi peduli? Dia bukan orang yang suka menunda-nunda. Dari pulang kerja sebelum minum teh hangat bikinan sang istri, dia sudah langsung mengajak bicara serius. Lalu segera ganti baju dan celana. Jumilah juga dandan cepat-cepat karena Pardi menunggu di ambang pintu. Dia memainkan kunci kontak motornya yang berbandul kelentingan. Bunyi tang-tingnya membuat Jumilah merasa diburu-buru.

Begitu sampai di Jalan Kemakmuran, Jumilah mencibiri punggung suaminya. Dalam hatinya dia bilang, “Rasain, dibilang belum pada buka, ngotot….” Tapi lengannya tetap mengait perut Pardi yang masih kempes.

Pardi tidak bilang apa-apa. Dia juga tidak mau mengakui apa-apa. Tidak terlalu penting kesalahannya kali ini. Masih ada hal yang jauh lebih penting. Lebih genting. Meski perutnya belum diisi, bukan masalah itu di pikiran Pardi.

Bulan memang terlalu dini. Toh akhirnya matahari beranjak juga. Pardi juga terlalu dini. Toh akhirnya perutnya akan terisi juga. Warung nasi urap yang hanya lesehan tikar di atas trotoar, selaksa hidangan istimewa saat lapar.

Pardi memesan seporsi. Istrinya tidak. Masih kenyang katanya. Tadi pagi dia memasak sambal goreng ati kesukaan Pardi. Biasanya dia menunggu suaminya pulang. Tapi tadi Pardi SMS bilang tidak makan siang di rumah. Jumilah mengira ada rapat di kantor suaminya. Biasanya ada nasi kateringnya.

Ternyata Pardi belum makan. “Siang ini, sampai nanti malam kita makan di luar.”

Jumilah kaget. “Masakanku?”

“Kita kirimkan ke tetangga-tetangga.”

Jumilah protes. Ini tidak adil, katanya. Dia sudah capek-capek masak istimewa buat suami tercinta tapi malah akan dibagi-bagi ke tetangga. Dia berkata-kata dengan mata berkaca-kaca.

Pardi tahu dirinya telah menyakiti sang istri. Dia menarik napas panjang seperti menyesal. Dengan perlahan dia bertutur ihwal keputusannya. Tangis Jumilah malah tumpah. Bukan karena kengototan Pardi untuk makan di luar. Justru karena tahu Pardi punya alasan yang dia restui. Biarlah masakan istimewa kali ini dibagi-bagi.

“Tapi warungnya belum pada buka jam segini,” kata Jumilah.

“Sudah,” yakin Pardi.

“Kalau belum?”

“Ditunggu.”

“Tidak kelaparan?”

“Tidak apa.”

Jumilah tahu Pardi keras kepala. Tapi hatinya lembut seperti sutera. Itu yang membuat Jumilah suka, lalu jatuh cinta.

Sekarang Pardi lahap mengunyah nasi urap. Jumilah memandangi penjualnya. Wanita tua membuat dia teringat ibunya di kampung. Bersama siapa ibunya tiap hari? Jumilah satu-satunya anak. Itupun anak pungut dari orangtua yang tega meninggalkan bayinya di samping tempat sampah. Ibunya sudah bercerita sebelum dia bertanya.

Jumilah tidak mau mencari orangtuanya. Ibu adalah orangtuanya. Yang tidak menikah dan menjadi perawan tua. Jumilah tidak tega meninggalkan ibunya di kampung. Tapi Pardi suaminya itu diterima jadi pegawai negeri di sini. Sedang ibunya tidak ingin pergi.

Apakah ibu penjual nasi urap ini punya suami?

“Sudah tidak tahu di mana, Nak,” kata ibu itu. Matanya sembab. Lalu mengalur tentang sebab. Suaminya pergi sebagai buronan polisi. Dia membacok majikannya sampai mati.

Dia punya dua anak. Perempuan semua. Yang satu menikah dan transmigrasi. Tidak pernah kembali. Yang satu punya anak, tapi tidak punya suami. Nasi urap ini yang membiayai.

Kelopak Jumilah memanas. Pardi tahu. Dia memandang istrinya. Matanya bilang, jangan menangis. Hidup memang sering tidak adil. Tapi bisa apa mereka?

Pardi membayar. Kembaliannya tidak dia minta. Hitung-hitung memberi derma. Semoga bisa menebus dosa yang tidak dia berdaya.

Beberapa meter dari warung nasi urap, Pardi menghentikan motor di depan gerobak buah. Gerobak ini turun di jalan. Tidak di trotoar. Jalan itu menjadi sempit sedang kendaraan semakin banyak di kota ini. Bayangkan saja, lima ratus ribu bisa membawa motor gres dari dealer. Tak peduli bulan-bulan besok kepayahan dikejar-kejar setoran.

Jumilah memilih apel. Belum tentu setahun sekali dia makan apel. Pardi membayarnya tanpa menawar. Padahal dia tahu itu kemahalan. Hanya terpaut sedikit dengan harga di supermarket. Di sana memang mahal karena butuh banyak biaya. Anehnya laku juga.

Sang penjual sedang menggerutu dengan peringatan pemda. “Nyari makan saja diuyak-uyak. Mbok mendingan ngasih duit buat betulin gerobak. Ini gerobak sudah reyot, mana bisa didorong-dorong?”

Pardi tidak ikut nimbrung. Dia sekadar mendengarkan. Laki-laki berkumis tebal yang menjadi teman bicara sang penjual buah menimpal, “Kalau saya kemarin jadi dewan, tidak bakalan seperti ini.”

Pantas Pardi merasa pernah melihat orang itu. Pasti dari gambar-gambar reklame pemilihan DPR lalu.

Mata Jumilah berkaca-kaca.

Bulan masih terlihat samar.

*

Usai shalat ashar, Jumilah mengajak masuk warung kacang ijo. Kali ini sang istri yang makan. Pardi masih kenyang. Dia hanya memperhatikan pasangan penjual kacang ijo itu. Ditaksir baru dua puluhan usianya. Yang perempuan menimang anak balita.

Pardi belum punya anak. Istrinya sudah pernah hamil, tapi keguguran. Beberapa kali. Penjual itu sudah punya dua anak. Mereka kawin muda. Anak pertama diasuh nenek di rumah.

Cukupkah penghasilannya?

“Alhamdulillah bisa buat makan.”

“Tidak pingin kerja jadi pegawai?”

“Nggak punya duit buat sogokan.”

“Kan tidak boleh jualan di sini?”

“Udah telanjur banyak pembeli. Kalau pindah nanti malah sepi.”

“Kalau kena razia….”

“Lillahita’alah, Pak….:

Istri Pardi berkaca-kaca. Pardi tahu kenapa. Tapi tidak berdaya. Di langit, bulan pucat, seperti mayat. Motor Pardi melaju lagi.

Beberapa meter, menyeberang jalan, Pardi berhenti. Dia memperhatikan aneka kerajinan tangan yang dihampar pada kain terpal. Dia membayangkan rumahnya, dan mengira mana yang cukup layak untuk hiasan perumahan sederhana miliknya. Yang angsuran kreditnya masih lama.

Kerajinan tangan itu tidak terlalu bagus menurutnya. Harganya memang murah.

“Buatan anak-anak, Pak.”

“Anak-anak mana?”

“Tetangga. Sebagian putus sekolah.”

“Putus sekolah?”

“Iya. Saya cuma ngumpulin mereka di sanggar. Silakan kalau mau main kapan-kapan. Ini alamatnya.”

“Sudah lama?”

“Belum. Tadinya kerja di pabrik, di-PHK. Bangkrut.”

“Laku?”

“Lumayan, Pak. Bisa buat ulur makan tiap hari. Tidak tahu nanti-nanti. Katanya sekarang tidak boleh di sini.”

Air mata Jumilah merembes. Penjual kerajinan tangan memandangnya bingung.

“Tidak apa-apa, tadi kelilipan.”

Bulan redup. Ada mendung. Angin berkesiut.

u

Usai shalat maghrib di surau kecil belakang pertokoan, mereka duduk- duduk di emper toko yang tidak buka. Tidak jauh dari penjual gorengan pitate-pisang, tahu, tempe. Hanya diam. Hanya kembara pikiran.

Malam ini bulan bertahta. Tapi muram.

Usai shalat Isya’, Jumilah mengajak masuk ke warung mi ayam. Memesan dua porsi, satu tanpa saus. Pardi tidak suka saus. Tapi dia menambahkan banyak sambal cabai. Mukanya sampai memerah karena kepedasan.

Jalanan di depan kian ramai. Kian sesak. Nyala terang lampu mengalahkan sinar bulan. Bulan menyepi sendiri. Angin kian berkesiut. Tapi keramaian tak terhenti. Suara musik menghentak dari penjual CD bajakan. Mal di sisi jalan sana menarik orang bagai nyala lampu menarik laron.

Deretan kaki lima mengais sisa. Jika tidak di sini, lalu di mana? Sedang laron tak pernah mencari lampu mati. Pardi paham sekali. Dadanya ngiris sekali.

“Kita pulang saja, Mas.”

“Tidak sampai malam?”

“Tidak kuat.” Matanya sembab.

“Besok mereka sudah tidak ada.”

“Nanti di rumah saja ngomongnya.”

“Dosa aku….”

“Mas….”

*

Jumilah menangis sesenggukan sepanjang perjalanan pulang. Saat berhenti di lampu merah, beberapa orang di sekitar memandang aneh. Pardi tidak hendak menegur. Dia tahu Jumilah peka perasaannya. Itu juga yang membuat dia dulu suka. Lalu jatuh cinta. Jumilah tak pernah sayang menyedekahkan uang. Meskipun kehidupan mereka belum begitu lapang. Yang penting dada selalu lapang. Begitu pernah dia bilang.

Baru setelah sampai di rumah, air matanya menuumpah ruah. Meski tidak terdengar suara. Dan Pardi tahu memang begitulah istrinya. Ketika melihat televisi menayangkan penderitaan orang papa, dia menangis. Padahal, tayangan itu sudah direka-reka penuh drama.

Apalagi sekarang. Dia merasa menjadi bagian orang yang sering disewotinya. Orang yang sewenang-wenang pada kaum papa. Orang yang makan dari penderitaan orang.

Dada Pardi buncah. Di mejanya, tergeletak salinan surat ber-kop instansi tempat kerjanya. Besok ada razia di Jalan Kemakmuran. Sesuai perda nomor sekian tahun sekian. Atas dasar kebersihan, keindahan dan ketertiban.

Di bawah surat itu terbubuh tanda tangan. Dengan nama. Dan jabatan. Pardi Susanto, SE. Kepala Satpol PP.

Di langit, bulan merah. Hujan mengepung. Enggan beranjak. *

Gambar: http://redandblackwallpapers.com/wallpapers/mooncathedral/full.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *