Saat Bakti Bicara

Oleh Dahlia Siregar
dimuat di Medan Bisnis Daily, 30 Januari 2013

(http://hikmahhariku.blogspot.co.id)
(http://hikmahhariku.blogspot.co.id)

Salim A Fillah pernah menuliskan dalam salah satu bukunya Agar Bidadari Cemburu Padamu bahwa ayah dan bunda merupakan dua sosok yang menjadi wasilah kita hadir ke dunia, melalui ekspresi cinta yang berpahala dalam ikatan halal yang diridhoi. Sebagai tawa di saat susah, senyum di waktu sedih, harapan di saat kecewa, ramai di saat sepi, dan canda di tengah ketegangan. Kehadiran seorang anak merupakan bagian dari bahagia yang tak terkatakan, sekalipun melalui perjuangan dan pengorbanan yang cukup berat.
Betapa ayah tak kenal lelah mengais rezeki demi menghidupi anak istrinya. Ibu yang penuh perjuangan mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh dan merawat, lalu membesarkan putra-putrinya. Maka kedua sosok ini sungguh sangat wajib untuk dihormati, disayangi dan dipatuhi. Bakti? Jelas harus.

Meski cinta, kasih sayang dan pengorbanan orang tua, terutama ibu tidak terbalas dengan materi, namun bakti sudah cukup sebagai imbalan yang pantas untuk mereka terima.

Asma Nadia, penulis kondang yang belakangan ini marak melahirkan buku-buku bernuansa perempuan baik fiksi maupun nonfiksi, kali ini kembali menyajikan sebuah novel “Cinta di Ujung Sajadah” yang juga tidak jauh-jauh dari perkara perempuan, soal ibu. Dalam kata pengantarnya, Asma Nadia menuturkan bahwa peran ibu dalam dirinya sungguh sangat luar biasa. Tanpa menafikan sosok ayah yang juga pejuang untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Sungguh, begitu bayak ide yang bisa ditulis dari tiga huruf ibu.

Dalam karyanya kali ini, Asma Nadia yang juga merupakan adik kandung dari penulis tersohor Helvi Tiana Rosa ini dengan segala kepiawaian dan kesederhaan bahasanya menghadirkan jalinan kisah tentang relasi ibu dan anak dengan sebentuk kerinduan serta perjalanan panjang bakti yang seyogianya tak pernah putus.

Sejenak membaca novel ini, kita akan dihadapkan pada kisah hidup Cinta, tokoh utama dalam novel ini, yang tinggal bersama papa dan mama Alia yang membawa dua saudara tiri baginya.
Belasan tahun Cinta hidup sebagai piatu, bahkan dia sama sekali tak mengenal wajah ibunya. Papanya benar-benar secara sempurna melenyapkan semua jejak tentang perempuan yang telah melahirkannya itu.

Seperti penomena tiri yang lazim terjadi, Cinta juga menerima perlakuan yang tak sepadan dari mama Alia dan dua saudara tirinya. Papanya bahkan tak memberi pembelaan tiap kali Cinta dipojokkan. Satu-satunya yang sayang dan mencurahkan perhatian padanya di rumah itu hanyalah Mbok Nah, seorang emban yang sudah sejak lama bekerja bersama keluarganya, bahkan sejak ibu kandung Cinta masih ada.

Padanya Cinta menumpahkan segala beban yang dialaminya, menyandarkan segala kelelahan dan penat di hatinya. Mbok Nah menjadi sangat dihormati dan disayanginya sebagaimana layaknya seorang anak hormat dan sayang pada ibunya. Hingga suatu hari hadir lelaki bernama Makky Matahari Muhammad yang menawarkan pelangi di hidup Cinta.

Di sekolah, Cinta sangat iri pada teman-temannya yang masih mempunyai mama. Mereka bisa berbakti dan berkasih sayang. Itu membuat Cinta saban hari dirundung kerinduan yang membara pada ibunya. Ia ingin berbakti pada ibu sebagaimana teman-teman yang dilihatnya. Hingga suatu hari dia bertanya pada salah seorang temannya apa yang kira-kira bisa dia lakukan untuk berbakti pada ibu yang sudah meninggal.

“Ada tiga perkara yang akan menolong orang yang sudah meninggal: pertama amal jariyah, kedua ilmu yang bermanfaat, dan ketiga anak yang sholih dan sholihat. Jadi, meskipun orang tua sudah tiada, masih ada kesempatan bagi anak-anaknya untuk berbakti dan membalas kebaikan orang tua mereka.” (hlm. 101).

Maka Cinta pun mulai menata bentuk bakti yang akan dipersembahkan pada almarhumah ibunya. Namun di tengah perjalanan, sebuah rahasia besar yang mengendap selama belasan tahun terbongkar. Sebuah rahasia yang membuat Cinta harus menempuh perjalanan jauh. Apa sebenarnya rahasia yang disembunyikan dari Cinta? Temukan jawabannya dalam novel karya wanita inspiratif ini.

Judul: Cinta di Ujung Sajadah
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: Republika
Tebal: 291 Halaman
Cetakan : I, Juli 2012

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *