Sastra: FLP, Sastra Islam, dan Seni Tinggi

Oleh Topik Mulyana
dimuat di Pikiran Rakyat, Sabtu, 15 Desember 2007

pixabay dot com
gambar: pixabay.com

SESEORANG yang berada di sebuah menara, apalagi menara gading, akan melihat segala sesuatu di bawahnya dengan lebih leluasa. Ia dapat melihatnya dari sudut ke sudut, dari titik ke titik, dalam waktu singkat. Akibatnya, ia akan memiliki pandangan-pandangan idealistis untuk melihat segala sesuatu yang berada di bawahnya.

Pun demikian dengan dunia kesusastraan.

Kaum elite sastra yang bersemayam di menara gading kesusastraan sering kali mengangankan terciptanya karya adiluhung, dengan segala keruwetan jalinan peranti linguistik dan ketebalan lapisan-lapisan makna, yang dibaca masyarakat luas sehingga terciptalah semacam kehidupan intelek dan “berbudaya”.

Ketika ada karya yang dinilainya rendah tengah booming di pasaran, mereka merasa cita-cita idealistisnya terganggu. Mereka pun hanya bisa nyinyir dengan menyebut booming-nya karya tersebut sebagai produk budaya massa atau gerakan industrialisasi belaka; nilai-nilai adiluhung yang direduksi untuk kepentingan bisnis. Mereka juga menghakimi masyarakat yang menyambut karya tersebut dengan meriah sebagai masyarakat yang “tak berbudaya”, menyebut penulis narsis, dan mengecap penerbitnya sebagai pihak yang melakukan “bisnis bertopeng dakwah”.

Seni tinggi, seni rendah

Dalam lembar Khazanah, Pikiran Rakyat, 3/11/07, Kurniasih menulis tentang wajah sastra Islam berdasarkan definisi seni tinggi dan seni rendah. Menurut saya, pendefinisian ini terlampau simplistis dan cenderung elitis. Lagi pula, dalam kaitannya dengan sastra Islam, ruangan untuk tulisan tersebut terlampau sempit, sedangkan sastra Islam adalah konsep dan sejarah yang teramat panjang di mana konsep dan sejarah ini adalah dua aspek yang berkait-kelindan.

Terbukti, Kurniasih membuat definisi seni tinggi dalam sastra Islam hanya berdasarkan konsep. Itu pun hanya satu konsep, yaitu sastra profetik: “sastra yang bermaksud melampaui keterbatasan akal pikiran manusia dan mencapai pengetahuan yang lebih tinggi. Caranya adalah dengan mengambil pemahaman dan penafsiran kitab suci atas realitas serta memilih epistemologi strukturalisme transendental”.

Kurniasih juga menyebutkan wajah lain dari sastra Islam adalah suluk: “sastra yang dihasilkan oleh seorang pejalan (pesuluk) dalam menyampurnakan agamanya. Melalui aspek paling mendasar dari agama, syariat, untuk kemudian merayap pada tahapan takrifat (tarikat?), hakikat, dan makrifat”. Bukankah ini adalah perjalanan spiritual yang disebut Iqbal sebagai “revolusi kenabian” yang menjadi ciri utama sastra profetik? Jika demikian, apakah suluk merupakan wajah lain dari sastra Islam ataukah hanya wajah lain (baca: bagian dari) sastra profetik?

Penciptaan sastra profetik, apa pun caranya, mesti bersumber pada kisah-kisah biblikal, wabilkhusus kisah para nabi. Dengan demikian, mensyaratkan adanya aspek sosial (habluminannas). Sementara banyak sekali pengarang Muslim yang mengarang cerita yang temanya tidak tampak sebagai “mengambil pemahaman dan penafsiran kitab suci atas realitas”, seperti Ibnu Thufail yang mengarang Hayy bin Yaqzhan yang mengisahkan kehidupan seorang anak manusia di sebuah pulau tak berpenghuni sejak lahir, namun mampu mengenali Tuhan. Hayy bin Yaqzhan bahkan menolak ketika diajak hidup bersosial.

Demikian juga dengan Syekh Nizami yang mengarang Layla Majnun yang lagi-lagi bertitik berat pada tokoh utama yang asosial. Selain itu, juga Kalilah wa Dimnah, fabel-fabel yang diterjemahkan oleh Ibnu Al Muqaffa dari kitab kuno Pancatantra karya Mpu Baidaba dari tanah Hindustan yang hidup sebelum Masehi.

Dengan demikian, mendefinisikan seni tinggi dalam sastra Islam hanya berdasarkan pada sastra profetik jelas tidak memadai dan timpang, di samping secara historis tidak menyadari bahwa karya sastra, termasuk sastra Islam, adalah produk budaya yang tidak mengenal kata autentik; ia lahir dari hasil sintesis dan asimilasi dari sastra-sastra sebelumnya.

Kemudian, Kurniasih menulis tentang seni rendah: “Masyarakat massa terbentuk melalui kekuatan teknologi (mekanisasi, industrialisasi), organisasi ekonomi (pabrik, pasar, advertensi), diferensiasi sosial (kelas, suku, agama), mobilisasi politik (negara, partai), dan budaya (musik pop, pendidikan, media massa). Dari masyarakat massa itu, dihasilkan budaya massa yang merupakan produk dari mayoritas yang `tak berbudaya`, berbeda dengan budaya adiluhung yang dihasilkan elite.”

Kalimat terakhir dari pernyataan itu jelas layak dipertanyakan. Jika berpijak pada definisi tersebut di atas, kaum Muslimin adalah sebuah masyarakat massa yang dibentuk berdasarkan nilai-nilai agama Islam. Namun, dari setiap peradaban yang dibangunnya, banyak lahir para seniman dan sastrawan besar yang menghasilkan karya-karya adiluhung. Contoh lain, bagaimana A. S. Dharta (Endang Rodji) dan Pramoedya Ananta Toer, dengan penuh kesadaran, menerjunkan diri dalam mobilisasi budaya sekaligus politik, yakni mendirikan dan menggiatkan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan hal itu tidak mengurangi kualitas literer karya-karya mereka ketika mereka berkarya.

Selain itu, asumsi bahwa “budaya massa merambah sampai ke dunia sastra Islam” adalah pandangan yang terlampau sinkronis, yaitu seakan-akan hal itu baru terjadi saat ini. Nun di masa lalu sana, sekitar akhir tahun 1930-an, di ranah Sumatra terjadi perdebatan yang cukup serius mengenai kemunculan novel populer. Saking seriusnya, Mohammad Hatta yang saat itu sedang berada di pengasingan turut bersuara yang intinya tidak setuju dengan penerbitan karya semacam itu.

Perdebatan itu sendiri dipicu oleh munculnya majalah-majalah roman yang berisi novel-novel bertemakan kisah percintaan, misteri, dan horor. Menariknya, beberapa penulis dan pemimpin majalah roman itu adalah para intelektual Muslim, seperti Jusuf Sou`yb, Rifa`i Ali, Tamar Djaja, A. M. Pamoentjak (Zainal Abidin Ahmad), dan Hamka.

Tentu saja yang paling menonjol adalah nama yang disebut terakhir. Selain karena seorang ulama besar, Hamka adalah orang yang paling disorot oleh mereka yang kontra terhadap novel yang oleh Parada Harahap kemudian disebut “roman pitjisan” itu karena terbilang produktif dan bersikukuh dengan apa yang dikerjakannya itu.

Memang, tak dimungkiri, oplah penjualan majalah-majalah dan buku-buku roman picisan itu mencapai angka fantastis pada waktu itu, yaitu terjual hingga 5.000 eksemplar sekali cetak (dengan perbandingan, majalah lain biasanya terjual paling banyak 1.000 eksemplar). Namun, yang layak disimak adalah penuturan Hamka ketika ditanya mengapa seorang kiai ikut-ikutan mengarang roman. Agama tidak ada melarang itu. Jika kita mengarang dengan maksud dan tujuan yang tentu… Sebahagian besar kita tujukan kepada almastalul a`la, menuju ketinggian budi pekerti… (KPG, 2000).

Nirsastra

Forum Lingkar Pena adalah sebuah organisasi penulisan terbesar saat ini. Dalam salah satu anggaran dasarnya, ia memiliki misi mencerdaskan mayarakat Indonesia melalui budaya membaca dan menulis. Jadi, target utamanya adalah bagaimana masyarakat gemar membaca dan menulis, bukan bagaimana menghasilkan karya yang adiluhung, seperti “yang dihasilkan kaum elite itu”.

Oleh karena itu, jangan heran jika, meski anggotanya ribuan, karya-karyanya masih dipandang sebelah mata. Selain itu, yang “dilawan” oleh FLP bukanlah karya-karya sastra “serius”, melainkan karya-karya seperti chiklit dan teenlit. Novel-novel chiklit dan teenlit itu perlu “dilawan” karena di dalamnya diasumsikan mengandung nilai-nilai yang dianggap merusak akhlak, seperti hedonisme dan sekularisme.

Dengan kemasan ngepop-nya, FLP tampil sebagai chiklit dan teenlit yang menawarkan nilai-nilai Islam. Jangan heran pula jika para pembaca, yang sebagian besar remaja itu, menyambutnya dengan meriah. Para penyambutnya pun rata-rata adalah mereka yang bergiat dalam aktivitas dakwah Islam, seperti organisasi mahasiswa Islam, kader partai Islam, dan remaja masjid yang sebelumnya merupakan masyarakat nirsastra, bahkan cenderung alergi terhadap karya sastra. Bukankah itu merupakan hal yang menggembirakan?

Memanfaatkan suasana kemeriahan tersebut sekaligus mengantisipasi meredupnya pamor para penulis pionir (Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Muthmainnah, Izzatul Jannah, dan Sakti Wibowo), FLP kemudian mengelola dengan lebih serius para anggotanya yang memiliki potensi besar untuk kemudian di-blow up menjadi semacam ikon baru bagi FLP. Hal ini dirasa perlu karena sebagai organisasi penulisan yang berorientasi pada pengaderan anggota dan sebagai bagian dari gerakan dakwah Islam, FLP amat membutuhkan kekuatan dan kebesaran aura eksistensialnya guna merekrut sebanyak mungkin anggota dan menembak seluas mungkin sasarannya. Di antara sekian kandidat dengan pelbagai kriterianya, terpilihlah Habiburrahman el Shirazy.

Melihat “militansi literer” para anggota FLP yang ribuan itu, tentu saja penerbit tidak tinggal diam. Hasrat untuk menebar dakwah pun “berjabat tangan” dengan kapitalisme.

Dengan demikian, menjustifikasi novel Ayat-ayat Cinta sebagai “gerakan industrialisasi” jelas merupakan sikap yang kurang arif. Si penilai hanya melihat dari segi penerbit (proses produksi), tidak dari segi penulis (proses kreatif dan karya), dan Forum Lingkar Pena (basis ideologis yang turut membidani kelahiran karya tersebut).

Selain itu, juga tidak sepenuhnya benar jika dikatakan bahwa budaya massa “merambah” sampai ke dua sastra Islam karena FLP justru dengan sengaja menggunakan budaya massa tersebut sebagai kendaraan operasionalnya.

Ahmadun Yosi Herfanda melihat fenomena berkomprominya antara karya sastra (idealisme) dan kepentingan penerbit (kapitalisme) dengan lebih optimistis. Ia menyadari sepenuhnya bahwa bagi dunia industri, keuntungan adalah segalanya. Penerbit memiliki “kepentingan untuk mengembalikan modal dan meraih keuntungan, serta kesadaran untuk memberikan royalti yang layak guna meningkatkan kesejahteraan penulis…. Royalti dan apresiasi yang memadai tidak akan didapat penulis jika buku-bukunya tidak laku”.

Dengan demikian, gerakan industrialisasi buku sastra (jika mau disebut demikian) tidak selamanya merugikan dunia sastra Indonesia. Dengan harga yang lebih murah, kemasan menarik, dan format yang praktis, ia justru berkesempatan mengalami pendistribusian yang lebih luas. Ditambah dengan bahasanya yang relatif mudah dicerna, masyarakat calon pembaca tidak akan enggan menghampirinya.

Senada dengan itu, Tamar Djaja, 68 tahun lalu, menyimpulkan bahwa “bahasa cerita roman itu berguna bagi masyarakat kita di Indonesia” (KPG, 2000). Dengan kalimat lain, penyebaran novel populer yang lebih baik dapat membantu meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia bagi masyarakat luas. Saya kira, untuk konteks masa kini, FLP, dengan novel-novel remaja Islaminya, telah memberikan kontribusi itu. Tidak terlampau berlebihan kiranya jika Taufik Ismail pernah memuji FLP sebagai “anugerah bagi bangsa Indonesia”.

Jadi, pertama, berbicara sastra Islam adalah berbicara tentang konsep dan sejarah yang teramat panjang dan berliku. Ia telah melalui banyak sekali proses, seperti akulturasi, asimilasi, sofistikasi, dan dialektika sehingga membuat definisi tentangnya harus disertai dengan genealoginya yang sudah pasti memerlukan ruangan yang lebih luas.

Kedua, novel populer, roman picisan, seni rendah, atau apa pun namanya, bukanlah fenomena kekinian dan tidak mesti ditanggapi degan sinis dan penuh curiga. Ia adalah bagian dari sejarah sastra kapan pun. Disukai atau tidak, diakui atau tidak, ia adalah bagian tak terlepaskan dari tradisi sastra mana pun, entah itu sebagai anak kandung, anak tiri, atau anak haram sekalipun. Selain itu, ia tidak melulu diproduksi oleh masyarakat massa yang materialistis dan mayoritas “tidak berbudaya” itu.

Baik Hamka maupun FLP, misalnya, memiliki tujuan luhur dalam memproduksinya. Kalaulah di perjalanannya terdapat banyak sekali hal yang tidak sesuai dengan harapan, seperti yang dikatakan Hamka, “Kita berusaha membuat ceritera yang bagus…. Tetapi di luar tahu kita, ada juga agaknya kesalahan itu. Kesalahan itu diketahui oleh ahli keritik bilamana ceritera itu telah keluar” (KPG, 2000).

Jadi, ketimbang pesimistis dan cenderung menghakimi sebuah karya dengan sebutan “seni rendah”, “budaya massa”, atau “gerakan industrialisasi” (walaupun Anda mengutip istilah terakhir ini dari Hawe Setiawan), alangkah lebih baiknya jika Anda mengkritisinya dengan penuh tanggung jawab dan apresiatif yang tentu akan lebih berguna bagi si pengarangnya sehingga di hari kemudian ia akan menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Maka, turunlah sejenak dari menara gading dan simpanlah dahulu terminologi-terminologi yang terlampau melangit itu guna melihat segala yang ada di “tempat rendah” secara lebih benar.

* Topik Mulyana, Pegiat FLP Bandung dan editor Penerbit Syaamil Cipta Media

Sumber: cabiklunik.blogspot.com

One thought on “Sastra: FLP, Sastra Islam, dan Seni Tinggi

  • 13/03/2016 at 1:01 AM
    Permalink

    Artikel bertopik Islam ini adalah sebuah rintisan . Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya .

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *