Sepenggal Impian Sederhana

Cerpen Novia Syahidah
Dimuat di Suara Pembaruan 04/09/2005

Senja merambat. Perempuan itu masih tertegun menatap rintik hujan yang cukup deras di luar sana. Dengan menyibak sedikit tabir jendela, ia bisa mengamati jarum-jarum bening itu meluncur membasahi bumi. Wajahnya terlihat resah, namun sesungguhnya di balik keresahan itu tersemat sebuah asa yang entah bermakna apa. Hanya ia yang tahu, bahwa tetes-tetes hujan di luar itu adalah sesuatu yang sangat dinantikannya.

“Sudah lama …. sudah sangat lama aku menantikannya,” gumam perempuan itu di antara desau angin yang menyelinap lewat jendela. “Aku yakin, hari ini aku akan melihatnya. Aku akan melihatnya.”

Mata perempuan itu tampak berbinar, binar yang lagi-lagi hanya dia yang tahu maknanya. Ketika orang-orang berharap hujan tak mengguyur bumi karena ancaman banjir yang mencemaskan, maka tidak demikian dengan dirinya. Nyaris dalam setiap ulangan langkah yang diayunnya, terselip sebait doa agar hujan segera turun. Bahkan jika bisa, ia ingin setiap hari yang bergeser adalah hujan, hujan dan hujan. Karena dengan demikian ia merasa setiap hari yang dilaluinya adalah harapan demi harapan. Harapan untuk bertemu dengan impian yang ia rajut dalam keheningan jiwanya.

“Ah, sebentar lagi hujan pasti reda. Dan aku akan bisa melihatnya…” Lagi-lagi ia bergumam. Dan kali ini ada lengkungan senyum tersamar di bibir mungilnya. “Dia… dia akan muncul di penghujung cuaca, aku bisa merasakannya. Ya, aku yakin ia akan muncul hari ini! Menatapku dengan raut pucat dan senyum pasinya.”

Ia semakin merapatkan tubuh ke jendela dan melihat rintik di luar sana semakin reda. Dadanya seakan berdesir halus melihat senja yang sebentar lagi akan menyelubungi alam. Dan kegelapan akan segera merajai setiap sudut dan ruang. Inilah saat yang ia nanti-nantikan di sepanjang hari yang dilaluinya. Tak ada yang lain.

“Aku bukanlah sosok yang sempurna. Aku hanyalah dedaunan yang tak lagi hijau. Jika kau bersamaku, maka kau tak kan pernah bisa meriah impianmu. Aku tak sanggup hadirkan kesempurnaan itu untukmu, meski seluruh hatiku begitu menginginkanmu. Selalu ingin bersamamu.” Kalimat itu terngiang di telinganya dengan sangat jelas. Sejelas detak jantungnya yang kian bergemuruh.

“Aku tidak menginginkan sebuah kesempurnaan darimu. Aku hanya inginkan kesejatianmu dan berharap selalu ada di sisimu. Itu sudah cukup bagiku,” jawabnya waktu itu.

“Tidak. Kau harus dapatkan impianmu yang sempurna karena kau sendiri adalah kesempurnaan. Kau lihatlah purnama di atas sana, ia begitu indah dan sempurna. Warnanya yang kuning kemasan sangat pantas kaumiliki. Itulah dirimu.”

“Bagaimana kau begitu yakin bahwa impianku seperti itu?”

“Setiap orang selalu bermimpi yang sempurna, seperti purnama itu. Bahkan aku pun dulu memiliki impian sesempurna itu, sebelum akhirnya waktu melibas segalanya dan menyisakan untukku sepotong impian yang telah remuk. Impian yang bagi orang lain hanya akan berbuah cibiran. Tapi itulah bagianku dan itulah aku.”

“Tapi bagaimana jika kukatakan bahwa impianku tak seperti purnama itu?”

“Lalu seperti apa?”

“Aku memiliki impian yang sederhana. Seperti rembulan pucat yang pesonanya bukanlah gemerlap kuning keemasan ditemani gemintang, melainkan kilau pucat pasi ditemani sapuan awan tipis, sisa hujan senja hari.” Ia berusaha menjelaskan.

“Entahlah, aku tidak tahu rembulan seperti apa yang sedang kau bicarakan. Atau kau sedang mengarang cerita tentang kesemuan agar aku terlihat sedikit berharga? Tidak. Aku tetaplah aku, sosok yang telah cacat di mata semua orang. Tapi sudahlah, aku harus pergi, membawa segenap kerinduanku yang mungkin tak kan pernah berakhir padamu.”

“Tunggu. Jangan pergi dulu! Aku ingin tunjukkan padamu seperti apa impian yang kumaksud itu. Bersabarlah sampai musim hujan tiba, dan kau akan melihat rembulan itu,” pintanya sungguh-sungguh.

Namun sosok itu tak peduli. Ia telah kehilangan segalanya, termasuk keyakinan pada dirinya sendiri. Baginya, menghadirkan impian yang sempurna bagi perempuan itu adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. “Tidak. Maafkan aku. Aku hanya ingin mempersembahkan impian yang sempurna untukmu, karena hanya itu yang pantas bagimu. Sesederhana apapun impian yang kau ceritakan itu, aku tak yakin itu bisa membuatmu bahagia. Sebab, ketidaksempurnaan itu hanya bagianku!”

“Kenapa kau selalu mengatakan bahwa hanya purnama yang memiliki kesempurnaan? Kenapa hanya purnama yang layak dipuji dan dijadikan lambang impian yang sempurna?”

“Karena itulah yang dimaklumi oleh semua orang.”

“Tapi tidak denganku!”

“Terserah dirimu. Maafkan aku…”

“Dan kau… tega meninggalkanku?” Perempuan itu tertegun menatap sosok yang kini melangkah menjauhinya.

“Kau adalah purnama, dan kau hanya layak mendapatkan impian seindah purnama…”

“Tapi kau belum melihat seperti apa rembulan yang kuceritakan itu!”

“Tidak perlu. Karena di mata orang-orang, purnama adalah kesempurnaan.” Sosok itu semakin menjauh.

“Tapi kau juga salah! Tidak semua orang terpesona pada purnama yang bulat sempurna. Tidak semua orang menginginkan gemerlap kuning keemasan! Ada yang lain! Yang lebih berharga dari sekadar apa yang tertangkap oleh mata!” serunya keras, berharap sosok itu menghentikan langkahnya dan berbalik. Namun tak seperti harapannya, sosok itu malah semakin menjauh, tertelan malam yang mandi cahaya.

Ia terpaku tak percaya. Untuk beberapa jenak ia hanya bisa menahan napas yang menyesak di dada. Dan pada jenak selanjutnya, kepala perempuan itu terangkat, menatap purnama yang masih tersenyum di atas sana.

“Dan kau! Kenapa semua orang mengatakan kau begitu sempurna hanya karena wajahmu yang bulat tanpa cela dan sinarmu yang kuning keemasan itu? Padahal tidak ada yang sempurna di dunia ini!” Kegeraman membias di parasnya yang kini mulai digenangi tangis.

Sejurus kemudian ia menghentak, meninggalkan segumpal kecewa di tiap jejak kakinya waktu itu.

“Ah, andai saja saat itu kau mau sedikit bersabar…” Perempuan itu masih berdiri di depan jendela kamarnya yang tersibak. Belaian angin yang dingin menerpa pipinya. Hujan di luar sana semakin menunjukkan tanda-tanda akan reda. Dan menyadari hal itu, ia kembali mengukir senyum samar di bibirnya. Asa itu, semakin memenuhi ruang hatinya.

“Aku merasakannya…. merasakan kehadirannya malam ini…,” gumamnya yakin. Binar di matanya kian terlihat saat senja makin temaram, menjemput malam yang ia nantikan.

Detik dan menit terus berlalu hingga ia merasa sudah saatnya untuk keluar, menerobos udara lembab di awal malam itu. Dan memang benar. Kini langkah-langkah semampainya sudah menapak di halaman yang juga lembab. Sesekali ia melebarkan langkah, menghindari genangan air yang bertebaran. Ia tampak tak sabar ketika menghentikan langkahnya di sudut halaman. Sebagaimana tak sabarnya ia untuk mendongak ke atas, menatap langit yang masih terlihat gelap tertutup sisa mendung.

“Mana dia?” bisiknya sambil mencari-cari. Dan semakin ia mencari, semakin tak ia jumpai apapun selain pekat. “Dia pasti datang. Tidak mungkin kali ini ia mengecewakanku lagi. Sudah berbulan-bulan… berbulan-bulan aku tak melihatnya. Tolong, datanglah untukku malam ini…”

mata perempuan itu terlihat liar, mencoba menekan kesabaran di dadanya. “Kau, impian sederhanaku! Jangan siksa aku dengan penantian panjang ini,” mohonnya setengah memaksa.

“Oh, aku tahu!” Ia seperti teringat sesuatu. “Kau memang bukan purnama yang selalu muncul menetapi janjinya tuk benderangi malam di setiap waktu yang telah ditetapkan. Kau hanyalah sepenggal rembulan pucat yang muncul selepas hujan senja hari. Kau, adalah rembulan yang tak bulat sempurna karena sapuan awan selalu mengiringi kemunculanmu, kemudian menelanmu dan membawamu pergi untuk jeda yang tak tentu lamanya.”

Malam kian jauh meninggalkan senja, merambat menuju titik nadir yang mencemaskan hati perempuan itu. Genangan air di tanah sudah semakin berirama resah. Matanya sudah mulai terlihat letih, mencari-cari di antara ruang langit yang tak bercelah. Ya, langit masih terlihat pekat, meski hujan telah alam berhenti. Bahkan gumpalan mendung yang sudah menipis pun tak menjanjikan wajah rembulan yang ia nantikan itu.

“Kau ….. mengecewakan aku lagi,” desahnya tanpa memedulikan lehernya yang terasa pegal. Ia sadar, waktunya tidak lama lagi. Karena ketika genangan air hujan di tanah mengering, maka ia menganggap penantiannya sudah harus diakhiri untuk malam ini. Baginya, genangan air itu adalah bagian dari kesempurnaan impian sederhananya. Ya, genangan air, udara dingin dan lembab, sepenggal rembulan yang pucat, serta sapuan awan sisa mendung senja hari, adalah sebuah kesatuan dari impian yang ia bangun. Jika salah satunya tidak ada, maka baginya itu bulan lagi gambaran dari impian sederhana miliknya.

Dan ketika asa di hatinya kian mengerucut, tiba-tiba sebuah celah terbuka di atas sana. Gumpalan mendung itu menguak perlahan dan …

“Oh! Akhirnya kau datang juga!” pekiknya tertahan. Buncahan seri merondai wajahnya. Dan ia seakan tak berkedip ketika perlahan-lahan sang rembulan yang pucat itu muncul, menyapanya dengan senyum pasi.

“Kau… begitu indah! Aku merindukanmu, sangat merindukanmu…” bisikan itu telah berbaur dengan keharuan yang memuncak. Getarnya begitu nyata di sela suaranya yang serak.

“Andai saja orang-orang tahu bahwa kau lebih menggetarkan dari purnama, bahwa kau lebih berharga karena kehadiranmu yang tak senantiasa , maka mereka pasti akan berbaris menunggumu. Dan aku… tentu tak lagi bisa memilikimu seutuhnya, untuk diriku sendiri!” Perempuan itu tersenyum penuh arti. Ada cemburu yang syahdu di balik senyumannya.

Namun, senyum di bibirnya itu tiba-tiba menyurut ketika dengan tiba-tiba pula sosok itu berkelebat di ingatannya. Sosok yang telah pergi, dan sampai detik ini masih diharapkannya tuk kembali.

“Andai malam ini kau ada disini, maka akan kutunjukkan padamu seperti apa impianku itu. Inilah dia! Kau akan melihat pesona yang tiada duanya pada wajah rembulan itu. Dan seharusnya … kau percaya padaku. Karena sesungguhnya aku memandangmu seperti aku memandang impianku yang sederhana. Aku tidak pernah berharap kau jadi sosok yang sempurna dan memberiku impian yang sempurna pula. Sama sekali tidak! Tapi kau tak percaya, kau malah pergi…” Matanya merebak. Memanas.

“Dan kau,” ia menunjuk rembulan di atas sana dengan tatapannya yang sendu, “jangan pernah tinggalkan aku seperti dia meninggalkanku. Tetaplah hadir untukku, meski tanpa janji yang pasti. Sebab aku akan terus bersabar menunggumu di setiap senja yang bermandikan hujan.”

Dan matanya, seakan tak rela ketika perlahan-lahan segumpal awan pekat berarak menelan impian sederhananya; rembulan yang pucat di atas sana. Dan ketika rembulan itu benar-benar lenyap tak bersisa, ia hanya bisa menghela napas dalam. Hari-hari penuh penantian akan kembali dilaluinya, namun tetap dengan satu harapan bahwa rembulan itu akan muncul lagi suatu saat kelak.

Perlahan ia mengayun langkahnya, meninggalkan halaman yang masih basah. Tapi…

“Aku telah menyaksikan impian sederhanamu! Dan andai saja aku tahu sejak awal, betapa ia lebih indah dari purnama, maka tak kan pernah aku meninggalkanmu.”

Perempuan itu membalik secepat bayangannya. Sosok itu… kini telah berdiri tempat di hadapannya. “Kau…?”

“Tahukah kau, sejak aku meninggalkanmu kala itu, aku telah kehilangan seluruh rasa di hatiku, karena… sesungguhnya hatiku telah tertinggal bersamamu!”

“Dan kau, kembali hanya untuk mengambil hatimu yang tertinggal itu, lalu pergi lagi?”

“Kenapa aku harus mengambilnya darimu, sementara aku yakin ia lebih damai bersamamu!” Sosok itu tersenyum, penuh rindu.*

 

Gambar: http://bhargavi-feelings.blogspot.co.id/2011/08/rain-story.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *