[Sosok] Sayap-sayap Pena Helvy

Oleh Amir Sodikin

”SEWAKTU masih kecil, saya pernah datang ke TIM untuk ngamen. Dua puluh tahun kemudian saya datang lagi, tapi untuk menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta,” tutur Helvy Tiana Rosa. Menulis telah mengubah hidupnya lebih dari yang ia bayangkan, bahkan lebih dari yang dibayangkan banyak orang.

Helvy Tiana Rosa [KOMPAS/AMIR SODIKIN]
Saat menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Annida, era 1999-2001, hobi ”mengamennya” tak kunjung sembuh jua. ”Saya ngamen jualan Annida di bus dalam perjalanan pulang ke Depok. Sambil bawa majalah, saya memperkenalkan diri kalau saya Pemred Annida. Tentu saja orang tidak percaya, tapi majalahnya laku,” katanya.

Di era Helvy, Annida mencapai ketenarannya. Kenapa sampai tega ”menggadaikan harga diri” pemred dengan ngamen? ”Daripada bengong di bus,” katanya.

Ketua Majelis Penulis Forum Lingkar Pena ini memang mendedikasikan hidupnya untuk menulis. Sejak 1996 hingga kini, lebih dari 40 bukunya diterbitkan.

Tetapi, bukan statistik itu yang membuat dia unik. Keunikan Helvy karena ia mau berbagi pengetahuan menulis. Pena Helvy telah bersayap dan menebar virus menulis kepada ribuan orang.

”Saya berasal dari keluarga sederhana. Dulu, saya tinggal di rumah tepi rel kereta api. Kalau ada kereta lewat, jemurannya terbang,” kenang istri Tomi Satryatomo ini.

Kemiskinan tak menghalangi ritme keluarganya hidup terpola dan terpelajar. ”Ibu saya selalu menulis buku harian. Ibu tamatan SMA, tapi memotivasi anak-anaknya sekolah dan menulis.”

Sejak bocah, Helvy tertarik dengan buku. ”Di belakang rumah ada penyewaan buku, tapi saya tak bisa pinjam karena tak ada duit. Sejak itu saya bertekad, suatu saat buku-buku saya akan ada di rak buku itu,” katanya.

Hasrat menulis sudah tertanam sejak SD. Cita-cita kecilnya sederhana: memiliki mesin tik untuk menulis.

”Saya ngamen puisi agar bisa beli mesin tik, tapi tak berhasil. Pernah ngamen di TIM (Taman Ismail Marzuki Jakarta), tapi motivasinya pengin lihat tokoh- tokoh sastrawan di sana,” kenang Helvy yang kini mengajar di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Di SMP dan SMA, tulisan Helvy sudah menghasilkan uang. ”Ketika kuliah di Fakultas Sastra UI, saya sudah membiayai kuliah sendiri, menjadi redaktur hingga Pemred Annida,” ujarnya.

Alasan menulis

”Awalnya menulis itu untuk cari duit,” Helvy mengaku. Hadiah menulis berupa buku dikumpulkannya dan disewakan kepada teman-teman.

”Kalau mau bisa pinjam buku gratis, cukup dengan menjadi sahabat saya. Kalau orangnya kaya, dia harus sewa, nanti uangnya buat beli buku lagi,” katanya.

Helvy lega, dia sekarang bisa membantu orangtua. ”Ibu saya perjuangannya luar biasa. Dia jualan seprai, berjalan kaki jauh supaya ketika pulang bisa membawa buku bacaan untuk anaknya.”

”Setiap pulang, ibu saya tak lupa membawa buku walau buku pinjaman. Buku itu lalu saya sampulin,” tambahnya. Pelajaran berharga yang ia petik: perlakukan buku sebagai anakmu.

”Ibu saya banyak memberi teladan. Saya dilahirkan dari keluarga penuh warna. Ibu saya, Maria Erry Susianti, keturunan Tionghoa dan ayah saya, Amin Usman, dari Aceh. Ayah seniman dan pengarang lagu,” katanya.

Helvy meyakini semua orang bisa menjadi penulis. ”Komposisinya 10 persen bakat dan 90 persen tekad dan latihan.” Adiknya, Asma Nadia, juga penulis. ”Dia sudah menulis 50 buku, royaltinya lebih besar dibanding saya.”

Buku Helvy sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, seperti Inggris, Perancis, Jerman, Swedia, dan Arab.

”Buku saya, Mc Alliester, pertama kali terbit di London. Ini novel bersambung di majalah Inthilaq, dari bahasa Indonesia diterjemahkan ke bahasa Arab, kemudian ke bahasa Inggris, baru diterbitkan,” paparnya.

Tetapi, penerbitan itu menyimpan kepelikan. ”Buku itu saya tulis dengan nama Hamasah. Nama Hamasah oleh penerbitnya dianggap penulis Timur Tengah. Jadi saya tak mengurusi lagi,” katanya.

Persoalan hak cipta juga mengemuka di Malaysia. Tahun 1996 karya Helvy, Spasiba Brat Komarovich, diklaim seorang doktor sebagai karyanya dan diterbitkan di Malaysia. ”Padahal, tulisan itu sudah terbit di Annida. Saya cuma pengin dia mencabut klaim itu, bukan minta duit,” katanya.

Forum Lingkar Pena

Tahun 1997 bersama teman-teman, Helvy mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP). Komunitas ini berkembang pesat, menyebar ke berbagai pelosok dan mancanegara. Waktu pertama kali dibentuk, anggotanya 30 orang.

Hingga 2008, ketika Helvy menerima Danamon Award, jumlah anggota FLP mencapai 7.000 orang dan sudah menerbitkan 1.000 judul buku. Pantaslah FLP sering dijuluki pabrik penulis.

Ke mana pun jika pergi ke berbagai kota, relatif ada FLP. FLP berkembang layaknya waralaba. Di luar negeri juga ada FLP. Helvy pernah diundang untuk pelatihan di Hongkong, dengan peserta pembantu rumah tangga.

”Ketika berhasil menulis buku, mereka dikejar-kejar wartawan untuk diwawancarai bagaimana pembantu bisa menerbitkan buku. Ada juga yang naik jabatan gara-gara buku,” ceritanya.

Helvy juga pernah mendampingi buruh pabrik. ”Ada anggota FLP, buruh panggul pabrik roti, sekarang sudah menulis 20 buku.”

Tradisi menulis juga dia turunkan kepada anak-anaknya, Abdurahman Faiz (13) dan Nadya Paramitha (2). Masih ingat kan sebait puisi, ”Bunda, aku mencintai Bunda seperti aku mencintai surga”. Frase puitis ini trademark Faiz ketika ia berusia tiga tahun.

Apakah anak penulis selalu didorong menjadi penulis?

”Oh, tidak, kami hanya berusaha menanamkan gemar membaca dan menulis. Ketika anak saya lahir, pertama kali yang harus ia lihat selain ayah bundanya adalah buku,” katanya.

Biodata

• Nama: Helvy Tiana Rosa
• Lahir: Medan, 2 April 1970
• Suami: Tomi Satryatomo
• Anak: – Abdurahman Faiz (13) – Nadya Paramitha (2)
• Situs web: helvytr.multiply.com
• Pendidikan: – S-3 Pendidikan Bahasa UNJ (sedang berlangsung) – S-2 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI – S-1 Fakultas Sastra UI
• Pekerjaan: – Pengarang – Dosen Fakultas Bahasa dan Seni UNJ – Direktur Lingkar Pena Publishing House – Redaktur dan Pemimpin Redaksi Annida (1991-2001) – Sutradara Teater Bening (1990-2003)

• Organisasi: – Anggota Majelis Sastra Asia Tenggara (2006-kini) – Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (2003-2006) – Wakil Ketua Persatuan Sastrawan Muslim Sedunia Wilayah Indonesia – Anggota Komite Kuntowijoyo Award (2008-kini) – Ketua Majelis Penulis FLP (2005-2009) – Pendiri dan Ketua Umum FLP (1997-2005) – Pendiri dan Pembina Bengkel Sastra UNJ (2008-kini)

• Penghargaan antara lain:
– Danamon Award mengusung FLP yang ia dirikan (2008)
– Tokoh Perbukuan IBF Award, Ikapi (2006) – Tokoh Sastra Eramuslim Award (2006)

• Karya buku antara lain: – Bukavu, kumpulan cerpen (2008) – Catatan Pernikahan, kumpulan esai (2008) – Tanah Perempuan, drama

Sumber: Kompas, Selasa, 8 September 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *