Ayat-Ayat Cinta 2 (bagian 3)

Oleh Habiburrahman El Shirazy
Dimuat di Republika, 07/01/2015

Kenalkan saya Fahri Abdullah. Sebut saja, saya peneliti tamu di sini, kawan baik Professor Charlotte. Saya menyelesaikan Ph.D saya di bidang philology di Albert-Ludwigs-Universitat Freiburq, Jerman. Bidang yang semestinya diajarkan Professor Charlotte kepada kalian hari ini. “

Fahri membuka tasnya dan mengeluarkan dua buah buku.

“Profesor Charlotte mengatakan kepada saya, kalian telah di beri tugas untuk membaca tuntas karya James Turner, yaitu Philology: The Forgotten Origins of the Modern Humanities. Dan buku On Philology yang dieditori oleh Profesor Charlotte sendiri. Benar?”

“Ya, benar.”

Fahri tersenyum. la memandangi para mahasiswa dari berbagai negara itu. Ada yang jelas berwajah Cina, berwajah India, berwajah Arab, juga berwajah Eropa.

“Ah, ini mungkin akan sedikit terasa seperti saat kita ada di sekolah dasar, tapi saya harus menanyakannya, sebab ini amanat. Apakah di antara kalian ada yang belum membaca dengan tuntas dua buku itu?”

“Ada. Saya. Maaf” Seorang perempuan cantik berwajah oriental, bermata sipit angkat tangan.

“Siapa nama Anda?”

“Juu suh.”

“Juu suh?” Fahri mengulang jawaban perempuan itu untuk meyakinkan ia tidak salah dengar.

“Aye,1 Juu suh.”

Suasana jadi terasa sedikit tegang, meskipun Fahri menanyakan sambil tersenyum.

“Ah, kenapa jadi ada interogasi, seperti anak kecil saja?” gumam lelaki berkumis berwajah India. Fahri tersenyum mendengarnya.

“Kan saya sudah berterus terang akan sedikit terasa saat kita ada di sekolah dasar,” sahut Fahri.

“Jadi Juu Suh, saya diminta Professor Charlotte untuk mengeIuarkan siapa saja yang ikut mata kuliah ini dan belum menuntaskan membaca dua buku itu. Saya harus menjaga amanat. Juu Suh, silakan Anda keluar dari ruangan ini.”

“Tapi … ?”

“Tidak ada tapi, dan tidak ada alasan apapun. Maaf!” tegas Fahri.

Wajah Juu Suh memerah. la mengambil tasnya dan beranjak melangkah keluar dan menutup pintu. Setelab Juu Suh keluar, Fahri beranjak membuka pintu dan memanggil gadis bermata sipit itu. Gadis itu mendekat dengan wajah bingung.

“Ada apa lagi?”

“Silakan masuk, kau boleh ikut kuliah ini jika kau mau.”

“Anda tidak sedang mempermainkan saya?”

“Sama sekali tidak. Saya tidak mungkin mempertaruhkan kredibilitas saya dengan bersika naif.”

Mahasiswi itu kembali masuk dan duduk di tempatnya semula. Para mahasiswa saling memandang, agak sedikit heran.

(Bersambung)

1 Aksen Skotlandia sama dengan “yes”

http://epaper.republika.co.id//main/index/2015-01-07
http://epaper.republika.co.id//main/index/2015-01-07

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *