Ayat-Ayat Cinta 2 (bagian 4)

Oleh Habiburrahman El Shirazy
Dimuat di Republika, 08/01/2015

Sebelum kita diskusi panjang lebar tentang philology. Satu hal yang harus kalian catat, hal pertama yang harus dimiliki seorang philologist adalah amanah. Saya diminta oleh Professor Charlotte untuk mengeluarkan dari kelas ini siapa saja yang belum membaca dua buku itu. Tanpa pandang bulu. Maka saya harus amanah. Tadi Juu Suh sudah saya keluarkan dari kelas ini. Dan selanjutnya, adalah kewenangan saya untuk memberinya kesempatan masuk kembali ke dalam kelas. Amanah Profesor Charlotte sudah saya laksanakan. Dan prinsip saya untuk tidak menolak siapa saja yang mau belajar bersama saya, juga saya lakukan.”

“Ah oke, ini bukan sekolah dasar lagi,” sela mahasiswa dari India itu sambil berdiri dan bertepuk tangan diikuti yang lain.

“Sudah, sudah silakan duduk! Says berharap, apa pun yang diminta Profesor kalian yang berkaitan dengan pematangan keilmuan kalian, penuhilah dengan baik. Apalagi jika kalian nanti sudah menulis tesis. Kata-kata supervisor, kalian ibarat titah raja yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh dan dituruti, jika kalian ingin hasil terbaik.”

Fahri kemudian membimbing para mahasiswa itu untuk memasuki diskusi serius tentang philology. Penguasaan Fahri akan materi dan manajemen kelas, membuat diskusi yang seharusnya berat itu terasa hangat dan ringan. Tidak terasa, telah satu jam Fahri berdiskusi. Fahri melihat jam tangannya. Sudah jam satu lebih dua puluh menit. Zhuhur di Edinburgh telah masuk enam menit yang lalu.

“Maaf, bagi saya ini sudah tiba waktunya untuk ibadah. Apakah kalian terganggu jika saya shalat di sini? Jika kalian terganggu, saya akan shalat di office saya, lalu balik ke sini. Atau kalian merasa cukup maka akan saya sudahi kelas ini.”

“Perlu berapa lama Anda ibadah?” tanya mahasiswi dari Cina.

“Kira-kira lima menit.” “Kalau begitu Anda ibadah di sini saja, kami tidak masalah.”

“Baik. Saya shalat dulu. Di antara kalian, ada yang Muslim selain saya, boleh ikut.” Fahri melirik mahasiswa berambut keriting berwajah Arab. Tetapi dia biaasa-biasa saja dan tidak bergerak dari tempat duduknya. Fahri memaklumi mungkin meskipun berwajah Arab tapi dia bukan Muslim, atau dia Muslim tapi mau shalat nanti selesai kuliah.

Fahri kemudian shalat di pojok ruangan itu menghadap kiblat. Sebagian mahasiswa terutama dua orang mahasiswa bule dan mahasiswi bermata sipit itu memerhatikan gerakan Fahri dengan saksama. Selesai shalat, Fahri kembali memimpin diskusi. Fahri membuat seluruh mahasiswa menyampaikan pendapatnya. Fungsi utamanya sebagai pakar pengganti Profesor Charlotte ia jalankan dengan baik. Simpul-simpul yang rumit tentang ilmu philology ia uraikan dengan bahasa sederhana yang tuntas. Diskusi itu telah melewati batas waktu yang semestinya, para mahasiswa seakan tidak mau bergeser dari tempat duduknya dan ingin lebih lama lagi menyerap ilmu dari pakar philology jebolan Universitas Al Azhar Mesir dan Uni-Freiburg Jerman itu.

 

(Bersambung)

http://epaper.republika.co.id//main/index/2015-01-08
http://epaper.republika.co.id//main/index/2015-01-08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *