Bom Buku: Pelecehan Dunia Literasi

Esai Sugiarti
Dimuat di Riau Pos, Minggu, 3 April 2011

Hakikat Keberadaan Buku

Buku adalah jendela dunia. Melalui buku mata kita akan terbuka melihat indahnya sudut-sudut dunia yang mungkin saja tak pernah terjangkau oleh panca indra. Buku telah menjadi ruang khusus bagi kita untuk melongok menyaksikan kemajuan-kemajuan di seluruh penjuru dunia. Bagaimana orang bisa hidup kaya dan maju, hidup sukses layaknya warga negara-negara maju, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahun dan seterusnya, semuanya dapat kita peroleh melalui teman setia yang tak pernah marah dan bosan menemani kita, dialah buku.

Tak ada juga yang mampu menyanggah bahwa buku adalah sang guru sejati. Guru yang selalu mau mengajari dan menemani kita kapan pun dimana pun dan dalam kondisi apapun. Buku mengajari pembacanya dengan telaten, ia tak se-killer guru matematika pada zaman dahulu yang akan memukul dan bersikap memarahi jika sang murid sulit mengerti dengan penjelasan. Buku adalah guru yang setia menemani kita pada saat dan situasi pikiran sedang seburuk apapun.

Ilmu dan informasi yang didapatkan oleh manusia salah satunya tersaji melalui kehadiran lautan buku. Ibarat menu makanan yang terhidang di meja makan, buku menyajikan aneka ragam gizi pilihan yang menyehatkan orang-orang yang mengkonsumsinya. Dapat dibayangkan bagaimana jika seseorang tak makan, ia akan kekurangan gizi, sumber tenaga dan pada akhirnya akan jatuh sakit. Inilah analogi serupa jika manusia jauh dengan buku. Buku layaknya makanan, ia akan memberikan suplai gizi pada kecerdasan seseorang. Intelektualitas seseorang akan meningkat jika ia gemar membaca aneka ragam menu-menu buku.

Menjawab Persoalan Bom Buku

Melihat begitu vitalnya peran buku di tengah kehidupan manusia, munculnya kasus-kasus teranyar soal bom buku menjadikan luka perih bagi para penggiat dunia literasi tanah air. Sebutlah misalnya kasus bom buku Utan Kayu yang dialamatkan kepada aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdala, atau kiriman paket buku serupa kepada musisi kondang Ahmad Dani. Kasus-kasus ini setidaknya memberikan beberapa analisa penting, yaitu; pertama, bom buku merupakan upaya konspirasi menjauhkan antara “si kutu” dengan si buku. Musuh bersama Indonesia yang harus diperangi adalah kebodohan. Buku merupakan salah satu obat kebodohan manusia. Jauh dari obat artinya tetap tak ingin sembuh dari penyakit. Bom buku merupakan cara yang cukup ampuh untuk membuat seseorang menjadi was-was, khawatir dan takut saat menyentuh buku.

Sadar tidak sadar, kasus bom buku memicu sebagian orang merasa takut untuk melakukan pembelian terhadap buku, membuka buku-buku baru dan melakukan transaksi pengiriman paket-paket buku. Hal ini tentu saja akan sangat berimbas pada stagnansi penyakit kebodohan yang memang telah ada pada lingkungan masyarakat Indonesia. Jika Indonesia bodoh, dapat kita terka siapa yang akan senang dengan kondisi ini, tentulah pihak-pihak yang tak menginginkan Indonesia terbebas dari beragam bentuk penjajahan akan bersorak gembira dengan kondisi ini.

Kedua, bom buku merupakan tindakan pelecehan terhadap dunia literasi tanah air. Menulis buku merupakan salah satu tradisi intelektual yang harus diwariskan dari generasi ke generasi. Munculnya kasus bom buku secara langsung menorehkan luka dan noda hitam terhadap dunia literasi yang selama ini cukup konsisten pada dunia edukasi. Tindakan pelecehan ini akan mendorong orang untuk beranggapan miring terhadap dunia literasi secara umum. Ujung dari anggapan miring itu sendiri adalah sepi dan matinya dunia perbukuan. Inilah imbas paling parah yang dikhawatirkan. Akibatnya Indonesia selamanya akan terjerat dengan keterpurukan multi krisis yang melilit bangsa dari masa ke semasa.

Ketiga, kasus bom buku memberikan lampu kuning kepada para penulis agar mulai memakai sabuk pengaman dalam menulis. Jika seorang penulis tak ingin mengalami “kecelakaan politik” dalam menulis, maka ada banyak hal kode etik yang harus diperhatikan seorang penulis dalam melahirkan karya. “Kecelakaan politik” dapat menyebabkan seorang penulis terjerat pada bidikan anak panah isu terorisme yang sedang menjadi kampanye perlawanan global di seluruh dunia.

Meskipun kasus bom buku secara menyeluruh menimbulkan keresahan di kalangan para penggiat literasi, penulis sebagai sang tokoh utama terbitnya sebuah buku tak perlu ciut nyali. Teror terhadap dunia literasi sejatinya justru lebih memicu semangat dan motivasi para penulis untuk terus menuliskan buku-buku bernilai edukasi, pencerahan dan manfaat kepada masyarakat.

Penulis adalah sumber mata air ilmu, ia akan kreatif menggali dan memandang menu kebutuhan yang berkembang di masyarakat untuk ia sajikan dalam bentuk buku. Hal terpenting bagi para penulis adalah membuktikan kualitas karya, bukan menimbulkan keresahan dengan karya-karya tersebut. Para aktivis buku juga perlu meyakinkan pada masyarakat, bahwa kasus bom buku sama sekali tak ada kaitannya dengan para penggiat dunia literasi itu sendiri. Ada kepentingan lain yang dititipkan melalui kasus-kasus bom buku.

Sugiarti, Ketua Bidang Humas Forum Lingkar Pena Wilayah Riau. Tinggal di Pekanbaru.

 

Nafi’ah Al-Ma’rab

Nafi’ah Al-Ma’rab, merupakan nama pena dari Sugiarti, S.Si. Sehari-hari mengelola bisnis jasa penulisan artikel online fashion shop. Menulis berbagai artikel, esai, cerpen, dan novel. Telah menulis 4 buku solo dan puluhan antologi. Saat ini berkhidmat di Forum Lingkar Pena Riau sebagai ketua. Novel terbarunya berjudul "Jodohku dalam Proposal" akan dirilis di bulan Maret 2016 oleh Penerbit Tiga Serangkai. Penulis bisa dihubungi di WA 085278740869 atau email: suzie_chem03@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *