Bawang Merah dan Ibunya

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jawa Pos, 14 Juni 2015

Sejak berusia tiga tahun, karena pipinya selalu bersemu merah dan matanya kerap berair ketika tertawa saking senangnya, ia dipanggil Bawang Merah. Tentu saja bukan ayahnya yang memulai, melainkan teman-temannya. Lambat-laun, mungkin karena mendapati anak gadisnya tak keberatan dengan pangggilan itu, sang ayah pun memanggilnya begitu. Sebenarnya ketika Bawang Merah baru saja masuk sekolah dasar, ayahnya sudah bertanya.

“Kau mendengar cerita Bawang Merah dan Bawang Putih?”

Bawang Merah menggeleng.

“Gurumu belum menceritakannya?” tanyanya lagi.

Bawang Merah menggeleng lagi. “Aku baru memakai seragam merah-putih sepuluh hari, Yah.”

Sang ayah mengangguk-angguk.

“Tapi lima harinya kami disuruh menggambar saja. Guru-gurunya sering rapat. Memangnya apa itu rapat, Yah?”

Sang ayah hanya tersenyum. Lalu ia menjelaskan dengan cara yang bertele-tele. Seharusnya guru-guru di sekolah sudah memberi pengertian tentang arti sebuah kata sebelum menyerang telinga anak-anak dengan kosakata yang baru bagi usia mereka. Bawang Merah akhirnya mengangguk setelah terdiam cukup lama dengan kening berlipat. Sang ayah tahu, anaknya mengangguk bukan karena paham, melainkan bingung dengan penjelasannya. Anak zaman sekarang memang pandai bersandiwara. Ini adalah efek televisi yang selalu gagal ia singkirkan karena Bawang Merah seperti tak bisa hidup tanpanya. Kotak keparat itu seperti menjelma menjadi pengganti ibunya yang pergi meninggalkan mereka lima tahun lalu.

“Nanti gurumu pasti akan menceritakan dongeng itu.”

“Sepertinya tidak, Yah,” jawab Bawang Merah polos.

“Kenapa?” tanya ayahnya penasaran.

“Kemarin aku sudah tanya-tanya pada Bawang Putih. Di sekolah kami tidak ada pelajaran mendongeng.”

Jawaban itu seperti kabel telanjang yang menyetrum kupingnnya. Bagaimana ia lupa kalau sejak dulu pelajaran mendongeng di negeri ini diampu oleh orangtua yang seringkali tak kalah sibuknya dengan para guru yang mengikuti seminar dan pelatihan ini-itu untuk mendapatkan gaji tujuh juta per tiga bulan atas nama sertifikasi. O ya, yang lebih membuatnya kesetrum adalah nama teman anaknya.

“Benar, Yah!” jawab Bawang Merah agak kesal ketika sang ayah menanyakan pertanyaan yang sama untuk keempat kalinya. “Dia dipanggil Bawang Putih karena kulitnya seputih bawang putih tetapi bau tubuhnya tak sedap walaupun ibunya selalu membedakinya usai mandi. Dia juga sama sepertiku. Hanya memiliki satu orangtua. Bedanya, aku punya ayah sedangkan dia punya ibu. O ya, katanya ayah sering main ke rumahnya. Ayah sering mengajak ibunya keluar untuk membelikannya jagung bakar rasa nano-nano. Ayah jahat!

Sang ayah benar-benar tak menyangka: bagaimana anaknya memiliki kemampuan bicara seperti menyanyikan sebuah lagu pendek dengan melodi tak terduga pada reffrain. Ia mengejar Bawang Merah yang berlari menuju kamarnya. Ia tahu, pintunya sengaja tak dikunci: yang diharapkan perempuan merajuk adalah seseorang yang ia sayangi memeluknya diam-diam dari belakang. Ah, ia baru tahu, kalau itu juga berlaku untuk perempuan kecil seusia Bawang Merah.

“Maafkan Ayah, Sayang,” kalimat itu terdengar minor, seperti pembukaan lagu himne yang murung. Ia mengelus kepala Bawang Merah yang ditutupi boneka bebek berwarna kuning yang ia beri nama Beki. Pasti Bawang Merah sudah menunggu momen ini hingga ia bisa mempraktikkan adegan ngambek seorang gadis yang dimarahi ayahnya karena pulang lewat pukul sembilan malam di sinetron yang sering ia tonton.

Bawang Merah membalikkan tubuhnya. Ia tidak—atau memang gagal—menangis. Bagaimanapun, tak mudah menjadi pemain sinetron. Anak-anak memang tak tahu kalau gadis dalam sinetron yang mereka tonton telah meneteskan obat mata pada matanya sebelum adegan ngambek itu diambil. “Jadi mulai sekarang Ayah juga akan membelikanku jagung bakar rasa nano-nano, kan?”

Sang ayah bernapas lega. “Kau juga suka jagung bakar, sayang?” tanyanya dengan senyum kemenangan.

Bawang Merah mengangguk. “Tapi aku belum pernah makan jagung bakar rasa nano-nano. Kata Bawang Putih, rasanya seperti sosis yang dicelupkan ke saus tomat lalu dilumuri abon ikan.”

O, anak-anak kadang memiliki selera sastra dalam mengungkapkan sesuatu yang rumit—yang nano-nano.

“O ya, kenapa Ayah tidak menikah saja dengan ibunya Bawang Putih?” Apa? Untung saja ayahnya tidak mengidap penyakit jantung. “Jadi Ayah tidak harus bolak-balik ke rumah kita dan rumah Bawang Putih hanya untuk membelikan kami jagung bakar rasa nano-nano?”

***

Bawang Merah dan Bawang Putih kini memiliki orangtua yang lengkap. Mereka sering melakukan aktivitas bersama-sama; jalan-jalan ke mall, nonton bioskop, berenang, berkebun, dan tentu saja makan jagung bakar rasa nano-nano.

Sang ayah sebenarnya merasa sangat bersalah pada mantan istrinya yang kini memilih tinggal di rumah kayu di utara kota yang berjarak dua puluh kilometer dari rumah mereka. Ketika akan bercerai dulu, sebagaimana umumnya, mereka meributkan hak asuh anak mereka satu-satunya. Walaupun perseteruan itu dimenangkan olehnya, namun ada dua syarat yang harus ia penuhi:

  1. Membolehkan istrinya bertemu kapan saja dengan anaknya.
  2. Ia tidak menikah lagi.

Celakanya, ia telah mengingkari syarat-syarat itu. Syarat pertama ia langgar ketika Bawang Merah merayakan ulang tahun keduanya. Ia baru bisa menyebutkan kata “Ibu” dengan bunyi “Wu” ketika ayahnya mengatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia satu tahun sebelumnya. Namun, waktu dan kebersamaan dengan keluarga baru telah membuatnya abai pada risiko pelanggaran.

“Aku akan selalu memantau kehidupanmu dengan caraku sendiri. Bila kau melanggar perjanjian itu, aku takkan membiarkan kehidupan kau dan keluarga barumu berjalan lama.” Ancaman istrinya kala itu terdengar sangat menyeramkan. Namun, hari ini, ancaman itu dikenang sebagai lelucon. Memangnya siapa kau hingga bisa mencelakakan kami?

Bawang Merah dan Bawang Putih tiga minggu lagi akan menghadapi ujian kenaikan kelas dan guru mereka belum juga menceritakan dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih. Mereka belajar di rumah dari pulang sekolah hingga pukul sembilan malam. Tentu saja pernyataan ini sangat hiperbolis karena sebenarnya mereka juga masih punya waktu tidur siang, mandi sore, makan malam dan bersendagurau bersama keluarga. Pada suatu malam, ketika berdua saja dengan ayahnya, Bawang Merah mengeluhkan tabiat saudara dan ibu tirinya.

Ketika ayah tak ada di rumah, katanya, Bawang Putih selalu mendapatkan jatah makan lebih banyak, waktu tidur siang dan mandi sore lebih lama, dan boleh bertanya tentang PR kepada ibunya berkali-kali, sedangkan aku tidak. Itu sudah berlangsung lama. Sebenarnya, katanya lagi, itu sangat bertolak belakang dengan sifat Bawang Putih dalam dongeng, tukasnya dengan wajah yang sedih bercampur kesal karena baru hari ini terpikir untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Jadi, gurumu sudah menceritakan dongeng itu, Sayang?”

Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih rupanya lebih menarik perhatian ayahnya daripada diskriminasi yang menimpa putri kandungnya.

“Pada hari ketika aku tak masuk sekolah karena flu, Bu Guru mendongeng di kelas. Kata teman-teman, Bu Guru sengaja mendongeng pada hari itu agar aku tidak tersinggung dengan isi ceritanya.”

“Ohhh….” Ayahnya merasa sangat bersalah. Ia bermaksud meraih Bawang Merah ke dalam pelukannya tapi anak gadisnya itu menjauh.

“Sejak itu Bawang Putih selalu bilang kalau aku anak jahat karena yang namanya Bawang Merah itu pasti jahat! Bu Guru juga bilang kalau bawang putih selalu lebih enak dipandang dan lebih dihargai daripada bawang merah. Buktinya: para petani lebih senang menanam bawang putih karena di pasar harga bawang putih lebih mahal daripada bawang merah. O ya, Bu Guru menambahkan: daya tahan tubuhku lebih buruk sehingga lebih mudah sakit yang membuatku tidak bisa berangkat ke sekolah hari itu, sedangkan Bawang Putih selalu sehat. Benarkah begitu, Yah? Benarkah harga bawang putih lebih mahal daripada bawang merah? Benarkah saudara tiriku lebih sehat? Aku baru sakit sehari kan, Yah? Aku menyesal mengikuti saran Ayah tidak masuk sekolah hari itu hanya karena flu ringan.”

Ayahnya terdiam. Ia memendam kegeraman pada guru anak-anaknya di sekolah.

“Kenapa ayah menamaiku Bawang Merah?” suaranya melengking sebelum tiba-tiba putus.

“Bukan Ayah, sayang, melainkan…”

“Kenapa Ayah membiarkan saja teman-teman memanggilku Bawang Merah?” Bawang Merah menangis. Ia berlari menuju kamarnya. Kali ini ia mengunci pintunya dari dalam.

Keesokan paginya, Bawang Merah tak ada di kamarnya. Ia meninggalkan pesan di atas secarik kertas. Aku ingin bekerja untuk nenek sakti. Aku ingin Bawang Putih tahu bahwa akulah yang berhak mendapatkan upah labu berisi emas permata dari nenek karena aku anak yang baik, bukan dia seperti yang diceritakan dongeng itu!

Perasaan cemas dan gemas bertabrakan dalam dada sang ayah. Anak kecil memang pengkhayal yang berbahaya. Ia menunjukkan kertas itu pada istrinya dan Bawang Putih. Hampir saja Bawang Putih tertawa apabila ujung kakinya tidak diinjak oleh ibunya. Mereka pun mulai memainkan peran, memasang wajah seperti awan bulan Januari.

Sang ayah mencari Bawang Merah ke mana-mana, termasuk ke rumah mantan istrinya yang kini lebih layak disebut gubuk. Di sana ia hanya menemukan seorang perempuan renta yang tak pernah menjawab pertanyaannya karena pikun. Ia pikir mantan istrinya sudah lama pindah dari rumah itu karena seorang duda kaya yang kesepian berhasil menemukannya dan memboyongnya ke istana. Ia tak pernah berpikir kalau anaknya baru saja disuruh nenek pikun itu menyapu halaman belakang gubuk itu.

Dua minggu kemudian, menjelang siang. Bawang Putih dan ibunya terkejut mendapati Bawang Merah berdiri di muka pintu dengan gaun merah yang mahal, giwang berlian di kedua telinganya, dan kalung mutiara pada lehernya yang kelihatan lebih jenjang dari sebelumnya.

“Kalian pasti terkejut, kan? ujarnya dengan senyum pongah. “Walaupun minggu depan ujian kenaikan kelas akan dilaksanakan, tapi aku datang bukan untuk belajar bersama. Lagi pula, aku pasti tak diijinkan Bu Guru ikut ujian karena terlalu sering bolos. Akhir-akhir ini pasti Bu Guru sering mendongeng di kelas, kan? Apalagi harga Bawang Putih masih mahal dan aku tak kunjung masuk kelas bukan karena sakit, melainkan malas atau lari dari rumah. Wah, Bawang Merah memang tak bisa sebanding dengan Bawang Putih yang baik, selalu sehat, dan kabar-kabarnya sudah bisa mengatasi bau badannya dengan mengoleskan deodoran di kedua ketiaknya.” Ia memandang Bawang Putih yang masih dikerubungi keheranan dengan senyum yang lebih mirip seringaian. “O ya, aku boleh masuk, kan?” kata-katanya bukan hanya terdengar pongah, melainkan juga lebih dewasa.

Bawang Putih dan ibunya saling pandang. Mata mereka menyimpan pertanyaan dan keheranan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

“Aku hanya ingin menunjukkan kepada kalian kalau labu berisi emas-permata itu benar-benar ada dan benar-benar aku dapatkan. Tidakkah kalian juga ingin melihatnya? Hemm, atau ingin dapat bagian?”

Bawang Putih dan ibunya memberi jalan. Keheranan bercampur ketakjuban membuat mereka abai mencurigai cara bicara Bawang Merah yang lebih mirip orang kerasukan.

Bawang Merah menuju kamarnya dengan langkah paling anggun dalam sejarah hidupnya. Seolah dikomando, tentu saja karena keinginan mendapatkan emas-permata, Bawang Putih dan ibunya mengikuti.

“Ini!” bawang Merah menunjukkan labu sebesar bola kasti kepada ibu dan saudara tirinya.

Bawang Putih hendak mencangking labu itu tapi ibunya mencegah. Bagaimana kalau isinya ular, kalajengking, lipan, lintah, dan binatang beracun dan mematikan lainnya?”  tanyanya ragu-ragu.

Sejujurnya ia belum pernah melihat labu seukuran bola kasti. Artinya, buah labu yang diberikan Bawang Merah saat ini adalah labu yang kecil. Dugaannya menjadi sempurna ketika Bawang Merah mengeluarkan labu seukuran bola sepak dari balik rok gaunnya yang mengembang. “Atau kalian lebih memilih yang ini?”

Bawang Putih dan ibunya langsung menggeleng. Dongeng tentang akhir hayat Bawang Merah yang tragis—akibat digigit binatang-binatang mematikan yang keluar dari labu yang lebih besar—mengiang-ngiang dalam benak mereka.

“Ah, mengapa pula kita harus cemas, anakku. Kau Bawang Putih, bukan Bawang Merah!” seru ibunya kesal sebelum mengempaskan labu kecil yang ada di tangan Bawang Putih  ke dekat kaki Bawang Merah. Perempuan itu memang licik. Apabila isi labu kecil itu adalah binatang-binatang mematikan, tentu Bawang Merahlah yang pertama kali digigitnya.

Begitu labu bola kasti itu pecah, isinya berhamburan, Bawang Merah refkleks melompat menjauh. Namun tidak dengan Bawang Putih dan ibunya. Seperti kesetanan mereka memungut isinya. Bawang Merah tak habis pikir, bagaimana mungkin mereka memungut ular, kalajengking, lipan, dan lintah, dengan riang gembira.

Bawang Putih dan ibunya masih seperti kesetanan, mengenakan binatang-binatang menjijikkan itu di bagian tubuh mereka, seolah mengalungkan kalung mutiara di leher, gelang emas di kedua pergelangan tangan dan kaki, giwang bermata rubi di kedua centil telinga, dan bros dari berlian di dekat dada dan kerah baju. Bulu kuduk Bawang Merah bergidik melihat semuanya. Tiba-tiba ia ingat kata-kata seorang nenek yang mengaku-aku sebagai ibunya (pengakuan yang sulit ia terima namun tak berniat dibantah):

“Berikanlah labu kecil kepada ibu dan saudara tirimu agar mereka tahu bahwa dongeng tak layak diimani. Kebaikan hanya milik yang benar dan keburukan untuk yang serakah.”

Beberapa menit kemudian, ibu dan saudara tirinya mengerang kesakitan. Bawang Merah sebenarnya ingin menyingkirkan binatang-binatang menjijikkan itu dari tubuh mereka tapi ia takut binatang-binatang itu malah menyasarnya. Kini, Bawang Merah justru keluar kamar. Menguncinya dari luar. Di ruang tengah, nenek yang mengaku ibunya sudah berdiri dengan kedua tangan terbuka, seolah siap menerimanya dalam pelukan.

“Mana ayah?” tanya Bawang Merah ketus.

“Tentu saja aku tak tahu,” jawab perempuan tua itu sembari menurunkan kedua tangannya. Sepertinya ia kecewa dengan sikap Bawang Merah yang tak menggubris rentangan tangannya.

“Bohong! Kau pasti telah memainkan sihirmu untuknya pula!”

“Mengapa kau sepanik ini? Aku benar-benar tak tahu. Siapa tahu dia memang belum pulang kerja. Kita tunggu saja.”

“Aku mengkhawatirkannya. Ayah tidak jahat seperti ibu dan saudara tiriku,”’ jawabnya dengan napas megap-megap

“Tapi ia jahat padaku. Ibumu.”

“Aku tidak percaya. Ibuku sudah mati dan tidak mungkin hidup lagi sebagai nenek sihir. Lagi pula, mana ada penyihir yang baik!”

“Ayahmu menyiksaku. Ia bermain serong dengan perempuan yang akhirnya menjadi ibu tirimu. Ialah yang membuatku rela menjadi penyihir yang berwajah empat puluh tahun lebih tua dari usia aslinya demi membalaskan dendam itu! Kata-kata itu hanya bergeliat dalam kepala perempuan itu.

Kini, ia berdiri dalam geming dengan mata yang nanar. Ia akan menunggu kedatangan pengkhianat itu untuk mengatakan bahwa ancamannya dulu sesungguhnya tidak main-main. Anaknya benar. Mana ada penyihir yang baik. (*)

Lubuklinggau, 25-26 Mei 2013

Sumber: https://lakonhidup.wordpress.com

Benny Arnas

Benny Arnas lahir di Lubuklinggau, 8 Mei 1983. Buku-buku cerpennya adalah Bulan Celurit Api (2010) dan Jatuh dari Cinta (2011). Ia meraih sejumlah penghargaan sastra, di antaranya Anugerah Batanghari Sembilan (2009), Krakatau Award (2010), Fiksi Terbaik dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia (2012), dan Anugerah Pena kategori Kumpulan Cerpen Terpuji untuk buku Bulan Celurit Api (2013).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *