Lutut

Cerpen Sakti Wibowo
Dimuat di Republika 13/04/2003

Setelah semalam bermimpi mengerikan, bangun dari tidur pagi itu, Dirjo merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Orang hitam bersayap tanpa paras mendatanginya dengan membawa gada besi berduri. Selagi ia tertegun memperhatikan, orang aneh itu mengayunkan gada ke lututnya. Dirjo mengerang. Lelaki tanpa paras itu berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagaimana datangnya.

Ia tergeragap dan bangun dengan keringat dingin, melirik weker di ujung meja: Sembilan pagi. Telah terlambat untuk sarapan, bahkan sekadar mengucap selamat pagi pada istrinya. Si tambun jelek itu, seperti biasa, menyambutnya dengan makian di depan pintu, lantas bantingan keras iklan di tivi. Wajahnya kuyu mengerti seminggu ini harus mengencangkan ikat pinggang lagi.

Bah, mimpi sialan itu merampas tidur yang nyenyak. Ia memaki-maki. Mungkinkah karena semalam ia kalah hampir setengah juta? Huh, kali ini ia merasa telah dicurangi. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa selain segera pulang, lebih awal dari biasanya. Wanita itu tentu akan ngomel-ngomel lagi, pikirnya. Dasar wanita, hatinya pasti terbuat dari kalkulator sehingga yang dipikirkan cuma angka.

Hampir ia menarik selimut kembali, namun urung saat menyadari ada keanehan di lututnya. Sakit? Apa ini? Mungkinkah pengaruh mimpi itu? Apa yang dilakukan orang bersayap tadi?

Ia segera menyibak selimut dan mengamati. Tak ada luka. Tapi, kenapa terasa sakit?

Dirjo hendak mengangkat kakinya untuk memeriksa lebih lanjut. Tapi aneh, ia tak bisa mengangkat lutut itu dan mendekatkan ke wajahnya seperti biasa. Ia mengernyit heran. Dirjo mulai panik. Beberapa kali ia mencoba mengangkatnya tetapi tetap saja tidak bisa.

Ia melolong. “Toloooong…! Kenapa dengan kakiku?”

Istrinya tergopoh-gopoh tiba dengan muka berminyak. “Ada apa kau melolong seperti orang kesurupan? Tidak tahu orang lagi sibuk bikin makanan? Kerjamu hanya mengacau saja.”

“Kakiku…” serunya tertahan. “Kenapa dengan kakiku? Kenapa kakiku tidak bisa diangkat? Aduh, mati aku….”

“Huh, paling kena encok. Semalaman duduk main kartu ya begini hasilnya,” gerutu si tambun itu, namun wanita itu segera mendekat dan memeriksa lutut suaminya.

Di bawah sinar matahari yang menembus genting kaca, dua pasang mata itu sibuk meneliti. Tak ada luka. Benar-benar tak ada. Tapi….

“Hei… di mana lututmu?”

“Ya, mana lututku?”

Tempurung lutut Dirjo tidak terlihat. Tempat seharusnya berada tempurung itu kini berisi gumpalan daging. Istrinya segera memeriksa lebih lanjut.

“Kenapa di sini? Pak, kenapa tempurung lututmu di sini?”

Dirjo tertegun. Tempurung lutut itu berubah letaknya menjadi di belakang. “Kenapa lututku menjadi begini?”

Dirjo melipat kakinya ke depan. Benar saja. Kaki itu ternyata bisa ditekuk kalau ke arah yang berlawanan dari lazimnya.

“A… aku… tidak mimpi? Kenapa kakiku menjadi begini? Bu, panggil dokter. Suruh dia memeriksa kakiku.”

***

Dokter angkat tangan. “Tidak sekadar tempurung lututnya saja yang berubah, Pak. Ini kasus baru dalam dunia medis. Struktur tulang dan syarafnya pun ternyata berubah. Ini jelas kasus langka. Kalau sekadar tempurung lutut yang bergeser, itu mungkin bisa disebabkan pukulan benda tumpul. Bisa dioperasi. Tapi tempurung Anda tidak semacam itu.”

Apa yang menimpa dirinya benar-benar tak bisa diterima akal. Dokter pun tak tahu jawabannya. Mereka malah menjadikan lutut Dirjo sebagai objek penelitian, bukan hendak mengobati.

Tak ada kelainan genetis, itu kesimpulan tim medis. Mungkin cacat bawaan. Tapi Dirjo membantah. Semua hanya berlangsung tak sampai bilangan jam. Laki-laki hitam bersayap dan bertanduk panjang itu hanya memukulkan gada berduri ke lututnya malam itu lantas semua berubah.

Tetangga menjadi gempar mendengar penyakit aneh yang menimpa Dirjo. Baru sekali ini ada kejanggalan seperti ini. Orang-orang ramai membincangkannya, bahkan ada yang memotret untuk dikirim ke media massa. “Barangkali bisa masuk museum rekor,” alasannya.

“Itu bukan penyakit, tapi kutukan…!” kata seseorang.

***

Malamnya Dirjo bertemu dengan orang tak berparas itu lagi. “Apa yang kaulakukan padaku?”
“Perintah Tuhan,” jawab orang itu singkat.

“Katakan, di mana aku bisa bertemu Tuhan. Aku ingin tahu alasannya kenapa dia membuat kakiku seperti ini.”
“Dia Mahacahaya, kau tak akan bisa melihat-Nya.”

“Kalau begitu, katakan siapa dirimu.”

“Aku malaikat.”

“Malaikat? Oya? Kalau begitu kau pasti tahu kenapa lututku seperti ini.”

“Aku tak tahu.”

“Bohong. Kalau begitu kau pasti malaikat gadungan.”

“Ada yang lebih tahu daripada malaikat.”

“Siapa?”

“Manusia. Karenanya, malaikat malah diperintahkan sujud kepada manusia, yakni Adam.”

“Kalau begitu, bawa aku pada Adam. Aku ingin bertanya padanya tentang lututku. Bagaimana aku bisa membiarkan ini terjadi padaku dan aku membiarkannya tanpa alasan?”

“Sayang, aku tak bisa membantumu. Tapi, seharusnya kau bisa menjawabnya sendiri sebab kau manusia. Banyak hal diajarkan Allah pada manusia tetapi tidak diajarkan kepada malaikat.”

Lantas malaikat itu pergi. Dirjo memaki-maki tak henti. Aku harus bertemu Adam atau kalau perlu… Tuhan.

***

Dirjo terus berjalan tersaruk-saruk. Ia beberapa kali terjungkal jatuh karena sulit menjaga keseimbangan. Langkah kakinya terasa aneh tapi ia terus berjalan. Ia ingin mendapat jawaban atas keanehan ini.

Tiba-tiba ia bertemu ular tanah yang merayap bergegas-gegas. Begitu melihat kaki Dirjo, ular bertanya, “Ada apa dengan kakimu? Baru sekali ini aku melihat manusia sepertimu.”

“Huah, jangankan kau. Aku juga tak mengerti kenapa kakiku begini. Kau tahu, karena kakiku semacam ini maka aku tidak nyaman untuk duduk ataupun berdiri. Aku juga sulit menjaga keseimbangan sehingga berkali-kali jatuh.”

“Kasihan sekali. Lantas, sekarang kau akan ke mana?”

“Mencari Adam.”

“Dengan kaki semacam ini?”

“Kalau kau kasihan padaku, kau tentu mau membantuku.”

Oleh ular, dipinjamkanlah untuk Dirjo tulang-tulang tubuhnya. Daging, kulit… dan seluruh perangkat badan Dirjo menerima tulang pinjaman ular tanah itu. Karenanya, Dirjo merasa nyaman. Tak lagi ada keanehan ia rasakan.

“Terima kasih…!” katanya pada ular tanah.

“Lanjutkanlah perjalananmu mencari Adam.”

“Ah, kurasa tak perlu. Aku sudah merasa nyaman sekarang. Aku ingin segera pulang dan berjudi lagi. Malam kemarin aku kalah setengah juta.”

“Berjudi? Tulang-tulangku itu kupinjamkan bukan untuk berjudi semalaman. Ku harus melata dan merayap-rayap di atas tanah.”

“Apa?” Dirjo memperhatikan anatomi tubuhnya. Ia tak melihat kaki, tangan.. atau apapun. Yang ia lihat hanya kilatan sisik-sisik keras. “Bagaimana aku akan duduk bermain kartu? Apa yang terjadi?”

“Jangan banyak mengeluh. Kalau kau meliuk dan melata seperti yang telah diperintahkan Tuhan, kau akan merasa nyaman.”

Pfuaah…! Mata Dirjo merah. Amarah. “Kembalikan tulangku…!”

***

Sayang, ular tanah itu tak bisa membantu. Tulang Dirjo telah lumat menjadi abu. Ia tersaruk-saruk berusaha melata di atas pasir. Ia bergegas pergi.

Udara panas sekali. Pasir membara. Dirjo merasa tubuhnya terbakar. Bagai mendidih rasanya. Karena itu, begitu melihat laut, ia segera mencebur.

Kali ini ia bertemu ikan paus.

“Jangan katakan kau juga tak tahu. Aku ingin bertemu Adam yang katanya mengetahui banyak hal dari malaikat.”

“Adam tidak tinggal di laut.”

“Lantas di mana?”

“Mungkin di pulau seberang yang jauh.”

“Aku akan ke sana.”

“Bagaimana bisa? Kau telah dimangsa hiu sebelum sampai di sana.”

“Antarkan aku.”

Di pulau yang jauh itu, Dirjo bertemu sesosok manusia. Hitam. “Apakah kau Adam?”

Orang itu tak menjawab.

“Apakah kau Adam? Hei, angkuh benar kau. Apakah kau Adam?”

“Dia telah mati,” jawab ikan paus. “Dia bukan Adam.”

“Kalau begitu, bisakah kupinjam tulang-tulangnya agar aku kembali menjadi manusia?”

***

Di darat, Dirjo bisa berjalan seperti biasa. Tapi, ada satu yang tidak lengkap dari orang itu. Dia tidak punya hati.

Dirjo tak peduli. Tanpa hati… ia tak merasa sakit. Ia berjalan terus mencari Adam.

“Tapi Adam telah mati,” kata orang yang ditemuinya.

“Kalau begitu, siapa yang bisa membawaku menemui Tuhan? Aku ingin bertemu Tuhan dan menanyakan takdirku.”

“Kenapa sampai kau Mencari-Nya? Padahal, Tuhan tak pernah meninggalkan umatnya. Atau kau yang telah meninggalkannya?”

“Jangan cerewet!”

“Tapi, Tuhan hanya bisa ditemui dengan hati.”

“Celaka! Aku sekarang tidak punya hati. Bolehkah kupinjam tubuhmu?”

Orang itu termangu. Agak ragu. “Begitu pentingkah untuk bertemu Tuhan?”

“Ya, untuk bertanya tentang lututku.”

“Ada apa dengan lututmu?”

“Tempurungnya berpindah ke belakang.”

“Oh, Tuhan! Lantas bagaimana kau rukuk dan sujud kepada Tuhan jika tempurungmu berada di belakang?”

“Aku tak pernah rukuk dan sujud.”

“Kalau begitu, bagaimana kau akan bertemu Tuhan?”

“Aku….”

“Kalau kau tak mau rukuk dan sujud, untuk apa kau menuntut takdir lututmu sekarang?”

“…!!”

 

Cikutra, Januari 2002
Ide dari ceramah ustad FX Rusharyanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *