Mengejar Kupu-Kupu

Juara 1 Sayembara Penulisan Karya Sastra, Dewan Kesenian Melayu – Riau 2007

Sudah beberapa hari Ayah tidak pulang, tadi kulihat bayangannya memasuki ladang dengan kaus kelam kotor. Dari gerakan tubuhnya aku tahu dia sangat lelah. Bau keringatnya khas. Kulihat di tangannya plastik hitam yang ujungnya diikat erat dan samar-samar terdengar dengung anak lebah; Ayah pulang membawa madu.

“Mana ibumu, Gunta?” tanyanya kasar, seraya membanting tubuh ke balai-balai. Bau keringat bercampur aroma hutan dan semut rangrang memenuhi ruangan.

Aku berlari ke belakang, menemukan Ibu tengah meniup-niup bara di tungku.

“Macam awak dengar suara ayahmu. Apa dia pulang?”

“Ya,” jawabku, mematung di pintu, menarik ujung kaus kumalku dan menggigit-gigitnya. Aku tak tahu harus bergembira atau bersedih karena Ayah pulang. Tapi, Ibu pasti gembira. Aku bisa menyimpulkan hal itu dari gegas langkahnya menuju pintu.

“Lanjutkan membuat air panas, Gunta,” pesan Ibu. “Mungkin ayahmu mau membersihkan badan. Sudah malam, dingin kalau mandi di pancuran.”

Aku menggantikan Ibu meniup bara di tungku. Bunga api memercik ke muka saat kutiup, dan asap sabut sawit membuat mataku perih sehingga berair; tak jelas apakah ini air mata karena sedih atau karena perih. Ayah selalu menghina kebodohanku membuat api dan itu membuatku sedih.

“Semakin susah mencari madu di hutan,” gerutu Ayah saat kami semua bergabung di ruang tengah. Ayah sudah selesai membersihkan badan, dan Ibu menghidangkan ubi menggalo rebus di meja. Aku, meringkuk di belakang Ibu.

“Jasmiran semalam pulang bawa sawit,” kata Ibu di tengah kebisuan antara kami. “Dapat sekeranjang,” lanjutnya, “dijuallah itu sawit ke pasar. Tadi ada mobil hijau dari kota Duri. Jasmiran dapat dua ratus lima puluh ribu.”

Ayah masih diam, memantik api dan menyulut ujung gulungan tembakau yang diambil dari saku celananya yang lusuh. “Patroli makin ketat, tak bisa sembarangan memetik sawit.”

“Ya, aku dengar begitu,” sahut Ibu, mengangsurkan gumpalan gula aren untuk Ayah mencicip kopi. “Hansip-hansip perkebunan sekarang tak bisa ditakut-takuti. Minggu kemarin tiga ninja ditangkap, dibawa ke kota, tak tahu apa nasibnya.”

“Hidup makin susah. Untuk maling saja susahnya setengah mati, apalagi berburu kancil. Madu juga makin jarang. Harus berani masuk ke tengah hutan yang jauh baru bisa ketemu madu.”

Ibu menebah tanganku memintaku bangkit dari meringkuk di belakangnya, sambil terus mengobrol dengan Ayah, “Habis panen ini, kita harus mencari ladang baru. Sudah tiga tahun kita di sini.”

Ayah berdehem. “Susah mencari ladang baru, do! Sudah habis hutan dibuka diganti akasia dan sawit. Tambang-tambang makin banyak, dan ikan-ikan raib.” Ayah mencecek ujung gulungan tembakaunya ke asbak. “Seminggu awak tak pulang. Miko dengar kabar Ogek? Sebelum awak berangkat, dia bilang nak ke kota.”

“Bersama orang-orang bathin, to? Tak ada kabar sampai sekarang.”

“Dia bilang mau unjuk rasa.”

“Demo, katanyo. Minta pabrik kertas membayar ganti rugi pencemaran sungai. Air sungai sekarang tak bisa dipakai mandi, bikin kulit gatal-gatal.”

“Jadi belum pulang, ko?”

“Belum. Satu pun belum.”

Ayah menghela napas. “Kalau pulang, mereka banyak uang,” kata Ayah sambil merebahkan badannya ke dipan. “Capek sekali, macam habis diremuk-remuk tulang awak. Nak tidur dululah. Bawa budak ko tidur di dalam.”

Ibu kembali menebah lenganku memintaku bangkit, lalu membimbingku menuju dipan kayu di bagian dalam.

—–

Ruangan ini sederhana tanpa barang-barang berharga. Hanya bilik dengan dinding kulit kayu dan atap rumbia. Kalau malam aku bisa mencuri langit dari sela rumbia yang tidak menutup rata dan berfungsi sebagai tempat matahari menyambangi ruangan kala siang.

Ruang ini terasa luas saat Ayah tak ada. Aku leluasa merajuk, berlari ke sana kemari, dan Ibu hanya akan berpesan supaya hati-hati. Kalau jatuh atau celaka aku tak boleh menangis. Sedangkan bila Ayah ada di rumah, aku hanya berani meringkuk di dekat Ibu, takut Ayah marah. “Budak dungu! Jangan berlarian tak keruan macam lebah begitu. Bikin pusing kepala. Diamlah kau barang sekali. Meledak kepalaku kalau kau ribut begitu.”

Bagaimana ruangan tidak menjadi sempit bagiku sedangkan aku hanya berani meringkuk di dipan sebelah dalam, di sampingku Ibu yang tak henti membujukku supaya tidur.

“Ayah sudah tidurkah?” tanyaku.

“Ssst…! Jangan keras-keras. Nanti ayahmu bangun kau nak dimarahi.”

Aku tak kunjung bisa tidur, ingin bermain keluar memandang bulan tapi pasti Ayah tak bolehkan itu. Apalagi kalau sampai membangunkan tidurnya yang mendengkur halus itu. Lalu aku menggarit-garit dinding dengan ujung kuku. Kuku itu menghitam, terlihat samar-samar, hitam karena getah damar waktu bermain ke hutan siang tadi sementara ibu menangkap ikan di sungai.

Ibu menebah tanganku lagi memintaku tidur. Tebahannya kini lebih keras sehingga lampu teplok di dinding ikut bergoyang-goyang. Kutarik tanganku dari dinding dan kini aku diam terlentang. Sepi sekali. Suara angin basah musim hujan bergerak pelan, dan burung deruk bersiul-siul di tempat jauh.

“Cepatlah tidur!” bisik Ibu lagi. Kali ini dengan suara lebih lunak. Dengkur Ayah semakin keras di dipan sebelah.

Kalau tak tidur, kau nanti macam burung deruk, menangis sendirian sepanjang malam.”

“Kasihan burung itu, Bu!”

“Itu akibatnya kalau susah dibilangi orang tua.”

“Apakah burung itu susah dibilangi orang tuanya? Ibu bilang dulu, burung-burung itu menyanyi mencari kekasihnya yang terbang ke bulan.”

“Nyanyiannya mengganggu orang tidur, makanya ia banyak tidak disuka orang.”

“Burung itu sekarang sendirian, tidak ada kekasihnya, kata Ibu. Ia sendirian seperti Ibu kalau Ayah pergi ke hutan.”

“Tapi ayahmu pulang bawa madu, besok dijual ke pasar Duri, jadi duit, dapatlah kau makan enak. Nak makan apa kau, rupanya?”

Aku menggeleng. Pikiranku masih bertumpu pada burung deruk yang bersiul-siul. Ibu bilang itu bukan bersiul tetapi merintih. Entah mana yang benar. Tapi, suaranya memang lebih mirip rintihan, seperti aku waktu didera Ayah karena tak sengaja menumpahkan kopinya.

“Tak pingin kau nasi pecel?” lanjut tanya Ibu. “Pisang goreng?”

Aku kembali menggeleng. “Ibu, burung deruk itu, adakah anaknya kecil seperti aku?”

Ibu menatapku lama, lalu mengusap rambutku. “Kenapa kau tanya macam tu? Dia punyalah anaknya kecil, tidur di rumah. Ibunya pergi mencari makan. Besok pulang, anak-anaknya kenyang.”

“Yang di bulan itu bapaknyakah?”

“Tentulah itu bapaknyo. Kalau ibunya, tak akan sangguplah ia jauh lama-lama dari anak-anaknya yang kecil.”

“Kalau ditinggal pergi, apakah anak-anaknya tidur tenang atau main perang-perangan?”

“Mereka tidur tenang, do! Maka kau tidurlah juga yang tenang.”

Aku heran dengan burung-burung itu. Siangnya tak bangun, lalu malam pun tidur tenang. Pagi-pagi makan kenyang. Kapan mereka bermain? Seperti aku yang setiap pagi bermain di hutan? Tak ada temanku sebaya jadi aku selalu bermain dengan Ibu. Setiap pagi Ibu ke hutan untuk mencari rotan dan damar. Kadang-kadang menangkap ikan untuk dimakan atau dijual ke pasar Duri. Kalau hari baik, Ibu tak perlu ke pasar Duri, ada mobil hijau milik tengkulak yang datang ke ladang-ladang untuk membeli barang dari petani.

Ibu mungkin menyangka aku tidur, sehingga tak lagi menebah tanganku. Aku juga memilih diam walaupun mataku masih memicing. Aku menikmati betul-betul suara burung di hutan belakang itu. Aku ingin bisa merasakan kesedihannya.

Ayah bangun tengah malam. Ibu menghampirinya, cukup lama. Aku ditinggalkan seperti anak-anak deruk. Dalam sendiri itu aku menikmati embus angin yang menyelusup dari sela dinding. Lampu teplok telah lama mati, mungkin kehabisan minyak. Sore tadi seingatku kuisi penuh.

Lalu kudengar bisik Ibu, “Makin hari, Gunta makin tak kenal denganmu.”

Aku baru menyadari bahwa Ayah dan Ibu telah saling berbisik sejak beberapa waktu lalu dan namaku disebut.

“Ke hutan tak cukup sehari. Kau tahu sendiri, do! Seminggu baru bisa dapat madu.”

“Tentu tak perlu seminggu kalau tidak pakai mampir ke rumah Ningsih.”

“Apa pula tengah kau pikir, he? Masih juga cemburu sama orang Rawas tu. Awak sudah bilang, sudah tidak ada hubungan apa-apa dengannyo. Awak sudah tidak ketemu lebih dari tiga tahun.”

Aku dengar Ibu mendengus, tak menanggapi. “Kalau sesekali pulang, kasihlah perhatian sikit anakmu. Tegurlah budak tu! Ajak dia bicara. Apa miko suka darah dagingmu takut padamu?”

“Dia selalu lari pada saat awak datang.”

“Bagaimana tak lari macam tu kalau miko selalu berkata kaso dan menakut-nakuti?”

“Laki-laki tak boleh gampang takut. Tak boleh cengeng. Besar sedikit ia harus bisa memanjat sawit, menganyam damar dan rotan, lalu menggarap ladang.”

“Gunta pengin sekolah seperti pamannya di kota Duri.”

“Ah, mau pakai apa kau nak sekolahkan dia? Tak usahlah mimpi terlalu siang! Besak dia dapat jodoh, mengolah ladang, beranak pinak, selesai!”

“Selesai dia. Selesai kita. Tapi anak-anaknyo, anak-cucu kita belum selesai. Hutan semakin sempit. Kancil hilang, ikan-ikan raib. Madu saja miko perlu seminggu untuk memperoleh. Besok lusa miko butuh sebulan. Anak-anak kelak perlu setengah tahun baru bertemu madu.”

Ayah diam, tak terdengar suaranya, sampai Ibu kembali menyambung, “Gunta nanti nak sekolah. Kata Ogek, banyak anak Bathin yang sekolah dibiayai pemerintah.”

“Pemerintah?” dengus Ayah. “Macam mana nak kau bentuk anakmu tu? Disekolahkan pemerintah macam orang laut itu, begitu pandai bekerjalah dia di perkebunan jadi sipir. Gunta nanti jadi hansip perkebunan, centeng perusahaan, dan dia pula agaknya yang akan menangkap ayah dan orang-orang seladangnya.”

“Zaman menuntun demikian, do!”

“Tidak! Zaman tetap sama. Bedanya, sekarang banyak orang rakus. Hutan itu pusaka nenek moyang orang Bathin. Orang-orang rakus itu harus dihentikan dari memakan hutan dan ladang-ladang milik orang Bathin. Kalau hutan kembali aman, kita bisa hidup tenang seperti nenek moyang kita.”

“Buktinya hutan makin habis. Tanah ulayat mengecil. Orang-orang Bathin sengsara hidupnya. Perusahaan-perusahaan pengolah kayu dan kertas lebih suka mempekerjakan orang Jawa dan Bugis. Orang Bathin dianggap bodoh karena tidak ada yang sekolah.”

Ayah kembali mendengus, lebih keras. Tak kudengar jawabnya menimpali kalimat Ibu. Mungkin percakapan mereka telah berakhir. Lalu aku melihat Ayah bangkit. Ibu menyusulnya, kemudian menyalakan lampu teplok. Aku pura-pura memejamkan mata, takut Ibu tahu kalau aku belum tidur.

“Kemarin Jasmiran pulang bawa sawit? Di mana dia petik sawit tu?”

“Tak tahulah awak! Cuma kulihat dia bawa sawit sekeranjang. Dibeli mobil hijau dua ratus lima puluh ribu.”

“Kalau begitu, biar awak cuba malam ini memetik sawit.”

—–

Semalam, saat aku pura-pura memejamkan mata, akhirnya aku benar-benar tidur. Pagi bangun, Ibu sedang di belakang meniup-niup bara di tungku. Ibu merebus ubi menggalo. Rupanya sudah tidak ada padi di rumah. Padi yang ditanam juga belum saatnya dipanen. Masih hijau. Tapi, beberapa emprit sudah mulai berdatangan. Kalau siang, Ibu mengajakku mengusir burung emprit dan gelatik yang memakan bulir-bulir padi.

Pagi ini Ibu mengajakku kembali mencari damar dan rotan. Kata Ibu, aku harus belajar menganyam mulai sekarang. Tapi aku malas sekali. Aku masih ingin bermain-main. Kebetulan, aku melihat seekor kupu-kupu berwarna merah kuning yang hinggap di atas daun alang-alang. Aku mendekatinya pelan, mengintipnya dengan saksama dan bergerak dengan sangat lambat agar kupu-kupu itu tidak curiga.

“Hap!” aku menangkapnya. Terkena di dua lembar sayapnya yang bawah. Dua sayap yang di atas menggelepar-gelepar.

“Buat apa kau tangkap kupu-kupu macam tu? Tak enak pula dia dimakan. Lebih baik biarkan terbang,” kata Ibu yang melihatku melonjak-lonjak girang.

“Mengapa dilepas, Ibu? Aku ingin menjadikannya mainan. Aku tak punya banyak mainan.”

“Dia punya nyawa juga macam kau. Kasihan kalau dijadikan mainan. Pakailah mainan barang-barang yang tidak bernyawa.”

Aku tercenung, memerhatikan kupu-kupu yang pasrah di tanganku itu. “Ibu, apakah kupu-kupu ini lelaki atau perempuan?”

“Perempuanlah pasti,” kata Ibu. “Tak kau lihatkah ia bersolek dengan warna yang menarik? Indiak ado laki-laki yang bersolek macam tu.”

“Kalau begitu, apakah dia masih anak-anak ataukah sudah besar?”

“Dia sudah besar do! Anak-anak tak ada yang main sendirian, pasti ditemani ibunya.”

“Kalau kupu-kupu itu sudah besar, apakah dia ada juga anaknya kecil seperti aku?”

Ibu diam sejenak, menghela napas, dan menggeleng-gelengkan kepala. “Ya, dia ada anaknya kecil yang sedang kelaparan di rumah. Karena itu, lepaskankan kupu-kupu itu biar bisa pulang membawa makanan.”

Aku segera melepaskan kupu-kupu itu. Ia langsung terbang tinggi dan hilang di antara pepohonan hutan. Aku segera mengikuti Ibu yang berjalan bergegas menaiki jalan setapak menuju hutan. Aku berharap mudah-mudahan Ibu menemukan sarang lebah dan bisa memanen madu. Ibu pernah memperolehnya di pokok pohon yang tinggi. Ibu memanjat pohon itu dengan berani, dan baru pertama kali itu aku melihat Ibu ternyata pandai memanjat pohon, tak kalah dengan lelaki.

—–

Sebenarnya aku enggan belajar menganyam, tapi Ibu tetap mendudukkan aku di tepi ladang sambil mengusir burung emprit. Tangannya beberapa kali mempraktikkan cara membuat anyaman dari daun pandan. Cara memulai anyaman, kata Ibu, bergantung pada jenis benda yang ingin dihasilkan. Anyaman tikar misalnya, boleh dimulai di tengah-tengah ataupun di bucu. Tetapi, tudung saji mesti dimulai di puncaknya yang berbentuk kon.

Terampil sekali kulihat tangan Ibu membuat kelarai anyaman dengan pelbagai motif. Ada kelarai bunga atur, berembang, cengkih dan cengkih beranak, bunga tanjung, pucuk rebung, dan tampuk jantung pisang.

“Perhatikan jumlah mata dan langkah bilah daun yang dirangkai, Gunta,” kata Ibu. “Kalau kau sudah bisa membuat kelarai seperti ini, nanti kau segera belajar membuat kelarai belah ketupat, kisar mengiri, beras patah dan madu manis.”

Aku masih tidak berselera untuk belajar menganyam. Rupanya Ibu menyadari, dan segera menghentikan tangannya yang sibuk membuat kelarai. “Kau tak ingin membuat anyaman?”

Aku menggeleng. Pada Ibu, aku berani menggeleng. Tidak dengan Ayah.

“Kenapa?”

“Kelarai ikan dan kupu-kupu di atas tudung saji itu, apakah dia perempuan atau laki-laki?” tanyaku.

Ibu tak menjawab, kembali menganyam pandan. Beberapa saat kemudian dia bergumam, “Besok ada mobil hijau ke ladang. Kalau selesai membuat tikar dan tudung saji, besok bisa kaujual, dapat uang, lalu beli nasi pecel. Kau nak beli apa? Nasi pecel atau pisang goreng?”

Aku tak menjawab. Tak kuhiraukan pertanyaan Ibu. Aku berganti melihat ke segerombolan burung emprit yang menyambangi ladang. Dengan ketepil, aku mengusirnya hingga beterbangan menjauh. Lalu aku melihat bubungan asap di kejauhan. Kata Ibu dulu, itu adalah asap dari pabrik pengolahan kayu.

—–

Sampai malam hari Ayah tidak kelihatan pulang. Aku baru sadar bahwa sejak tadi pagi saat aku bangun tidur, Ayah sudah tidak terlihat di rumah. Mungkin Ayah ke hutan lagi mencari madu.

Malam hari, bulan purnama bulat penuh. Ibu menggelar tikar di halaman dan melanjutkan menganyam pandan untuk dijadikan tikar. Aku meringkuk di sampingnya sambil menatap bulan, menikmati angin basah dan mendengar nyanyian burung deruk dari hutan di belakang rumah.

Di langit, aku melihat bintang berkelip-kelip. “Indah nian bintang-bintang tu,” kataku.

Ibu menghentikan sejenak tangannya yang menjalin daun pandan. “Sudah malam. Udara semakin dingin. Sebaiknya kau segera tidur di dalam. Udara malam tidak baik. Nanti kau sakit.”

“Apakah Ibu juga sakit?”

“Tidak. Ibu tidak sakit. Ibu bekerja, jadi tidak takut angin malam.”

“Kalau begitu aku bantu Ibu bekerja, biar tak sakit kena angin malam.”

Ibu menatapku sejenak, lalu tangannya meraih beberapa lembar pandan dan mengangsurkannya padaku. “Anyamlah. Kalau sudah lelah dan mengantuk, segeralah tidur di dalam.”

“Aku nak menganyam sambil melihat bintang,” jawabku. “Lihat, Ibu, bintang-bintang itu begitu indahnya. Apakah ia bintang-bintang itu punya nyawa seperti kupu-kupu?”

“Tidak. Bintang-bintang itu tidak bernyawa.”

“Kalau begitu, bolehlah aku memetiknya satu untuk kujadikan mainan.”

“Tak bisa. Tanganmu kecil. Nanti kalau sudah besar dan menjadi orang pintar, kau bisa memetiknya satu. Mau kau apakan bintang-bintang itu?”

Aku menggeleng, malu mengatakannya. Aku ingin menggantungkan bintang itu di telinga Ibu biar wajahnya cantik. Orang-orang dari kota Duri memakai anting-anting di telinganya dan itu membuat mereka tampak cantik. Kalau Ibu memakai anting bintang-bintang itu tentu wajahnya lebih cantik.

“Kapan aku besar dan menjadi orang pintar?”

“Kalau kau menjadi anak yang baik, kemudian sekolah yang rajin.”

“Aku ingin sekolah. Besok apakah aku bisa sekolah?”

“Besok belum. Tunggulah beberapa saat lagi. Ibu akan membeli seragam sekolah dulu. Besok kita jual tikar, dapat uang banyak buat beli baju seragam.”

Tak berapa lama kemudian, Ibu mengemasi tikar pandan yang baru diselesaikannya. “Ayo, berangkat tidur. Tikarmu di dalam sudah menunggu.”

Aku bergegas bangkit. Sebenarnya enggan karena aku masih ingin melihat bintang-bintang yang indah dan mimpi tentang sekolah. Aku akan belajar di sekolah dengan memakai baju baru. Pasti menyenangkan.

—–

Sudah lama Ayah tidak pulang. Ibu terus membuat anyaman tikar pandan sambil menunggu padi panen. Kata Ibu, sehabis panen kami akan pindah ke ladang yang baru. Tapi, aku ingat kata-kata Ayah malam itu bahwa sekarang susah mencari ladang baru. Sudah banyak hutan dibuka dan semakin sedikit ladang yang bisa ditempati. Di tempat ladang-ladang itu banyak berdiri pabrik-pabrik pengolahan kayu.

Kata Ibu, hutan-hutan ditebang, kayunya dibuat kertas. Kertas dipakai untuk membuat buku. Buku-buku dipakai untuk belajar, biar anak-anak menjadi pintar.

… lalu hutan-hutan habis. Bekas ladang yang dibuka, dibakar. Asapnya membubung tinggi. Kalau malam, bintang-bintang hilang. Kata Ibu karena tertutup asap. Tapi aku khawatir bintang-bintang itu benar-benar hilang.

“Aku ingin lekas sekolah,” kataku. Tanganku menggarit-garit dinding. Kuku-kuku tanganku menghitam samar bekas getah damar.

Ibu menebah tanganku, memintaku tidur lekas-lekas. Tapi susah sungguh untuk pejam ini mata.

“Besok, apakah boleh aku sekolah?”

“Belum. Tunggulah sekejap sampai ayahmu pulang.”

“Aku ingin cepat besar, biar bisa memetik bintang-bintang. Aku takut bintang-bintang itu hilang.”

“Kalau sudah tidak ada asap, bintang-bintang itu akan kembali terlihat. Kau tak usah takut. Tidurlah. Tak ada yang mencuri bintang-bintang itu.”

“Apakah Ayah akan pulang kalau sudah tidak ada asap?”

“Ya. Karena itu tidurlah segera.”

Aku diam. Hatiku tidak tenang sehingga aku tetap tak bisa tidur walaupun mataku kupaksa pejam. Lalu, tengah malam, aku menyadari Ibu bangkit dari dipan, mematikan lampu teplok di dinding. Ibu duduk sejenak di tepi dipan. Kubuka sedikit mataku, sangat sedikit, biar Ibu tak tahu aku belum tidur. Kulihat Ibu memandangiku. Wajahnya sedih. Apakah Ibu seperti burung deruk yang merintih di hutan belakang rumah itu, memanggil kekasihnya yang ada di bulan?

… nyatanya burung deruk itu tetap merintih meskipun bulan hilang ditutup asap, kekasihnya hilang dari pandangan.
Ibu mengusap rambutku sayang, lalu mencium keningku lama. Embus napasnya hangat. Lalu ada air yang meleleh jatuh di keningku. Pasti Ibu menangis; kekasihnya hilang dari pandangan.

Ibu melangkah menjauh dari dipan. Aku meliriknya. Aku mengingat-ingat sudah berapa lama Ayah tidak pulang. Sudah sangat lama, sejak malam ia datang, dan pergi sebelum pagi. Diam-diam, aku rindu juga pada Ayah, pada dengkurnya yang halus serta bau keringat yang bercampur aroma hutan dan semut rangrang.

… kulihat, Ibu membuka pintu dan melangkah pergi. Aku sendirian di rumah ini, sepi. Burung deruk masih merintih di hutan belakang. Burung deruk itu, ada anaknya kecil seperti aku, kata Ibu. Anak-anak deruk itu pasti sedang menunggu ibunya pulang, sedang ayahnya bermain di bulan.

—–

Sampai siang hari Ibu tak pulang. Ada ubi menggalo di meja dan kujadikan sarapan. Setelah itu, aku bermain-main ke ladang sendirian. Di ujung jalan, orang-orang berkumpul mengerubungi mobil hijau dengan sepasang lelaki perempuan dari kota Duri. Mereka membeli barang-barang dari orang ladang. Beberapa hari yang lalu, Ibu menjual dua lembar tikar pandan dan membelikanku baju seragam. Bajunya putih bersih, pas sekali di badanku. Celananya agak kebesaran berwarna merah indah. Aku akan memakainya saat nanti sekolah.

Orang-orang ladang sama berciap seperti ayam, menawar ini menawar itu, membicarakan apa saja.

“Tak ada yang menjual sawit?” tanya si orang kota Duri.

“Tak ada yang punya sawit. Ada patroli lagi tadi malam,” jawab salah satu orang ladang.

“Ya! Dengar-dengar, semalam ada dua ninja sawit ditangkap dan dibawa ke kota,” sahut orang ladang yang lain.

Katanya, salah satunya perempuan.”

Segerombolan burung emprit menyambangi ladang. Aku bergegas meraih ketepil dan mengusir burung-burung itu. Di atas alang-alang, kulihat kupu-kupu hinggap, warnanya indah putih dan merah, serupa betul dengan seragamku sekolah. Kudekati hendak kutangkap. Tapi, aku ingat ia ada anaknya kecil seperti aku, tengah menunggu ibunya pulang membawa makanan.

… lapar sekali perutku. Ibu belum pulang. Ayah juga belum pulang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *