Puisi Mencintai Istri

Cerpen Aveus Har
Dimuat di Kedaulatan Rakyat Bisnis 13/12/09

 

“Aku mencintai puisi.”

Jika mata bisa menyerukan kata, apa yang mataku serukan mendengar kalimatnya? Serupa Columbus ketika menemukan benua baru setelah pengelanaan panjang melintas samudra dengan keraguan akan penemuan telah menggelayut kah? Daratan adalah apa yang Columbus yakini ada di nun sana dan dia berjuang membuktikannya. Ia bersikukuh daratan itu ada meski semua orang meragukannya. Ia membuktikan dan namanya tertulis dalam sejarah. Columbus tegar tidak menyerah.

Dan wanita ini adalah apa yang dulu aku yakini tercipta di dunia ini untuk menemaniku. Yang bahkan waktu membuatku ragu. Lalu, ketika keyakinan goyah dan aku menyerah, wanita ini hadir menyesakkan sesal.

Dulu aku menganggap usia selaksa batas. Ketika semakin bertambah dan menua, aku merasa telah sampai batas pencarian dan mengakhiri perjalanan. Aku bukanlah Columbus yang tegar.

Wanita ini bernama Kinanti. Dia adalah jutaan kalimat indah yang terangkum membentuk puisi. Menggetar lewat tatapnya. Merasuk lewat tutur. Menggolak bersama gerak. Membuatku ingin sekejap pergi dari realita dan berharap bisa menemukan jalan mengulang waktu.

Aku menemukannya bersama desah kelu ‘andai saja’. Dalam sebuah kebetulan meski kuyakin ini bukan kebetulan semata. Ini adalah jawaban. Untuk sebuah keyakinanku yang telah menguap. Untuk menegaskan kepecundangan diri.

Gerimis yang menderas di suatu siang berwarna sephia. Di bawah awning toko perhiasan yang tutup di hari minggu. Dia menyendiri bersandar teralis. Menenang diri ketika orang lain ricuh dalam gegas-gegas tak ingin terjebak.

Aku tengah duduk menulis puisi di seberang jalan sejak mendung menggayut sebelum gerimis merinai dan hujan menderas. Bertirai rajutan air aku memandangi, dan meyakini dia memandangiku. Naluri menggerakkanku menyeberang meski hujan belum usai benar.

“Sedang apa kau?” Aku bertanya, dalam lantunan hasrat.

“Menunggu. Kau?” Dia balas bertanya, dengan kalimat pendek.

“Menulis puisi,” aku menunjukkan kertasku. Dan matanya berbinar. Dan alisnya bergerak. Dan dia meminta notesku. Mencermati baris-baris di lembar-lembar kumal. “Aku mencintai puisi,” katanya.

Saat itu aku merasa bertemu metamorfosis rusukku yang mustinya kutemukan pada suatu waktu saat merindu. “Benarkah?” tanyaku takjub.

“Ya. Puisi adalah kehidupan, dan kehidupan adalah puisi1,” ujarnya dengan mata syahdu yang memandangku sekilas.

“Dan engkau adalah puisi,” kataku.

“Kau juga,” balasnya dengan binar menguar. Membuatku alpa pada sinyal bahaya atas puisi hidupku. Aku laki-laki beristri. Tapi istriku tidak mencintai puisi. Baginya, hidup adalah apa yang mengalir tanpa perlu berumit-rumit mencari diksi. Kata cukuplah jika bisa dimengerti.

Aku meyakini puisi adalah jiwa diriku. Dan istriku bilang dia mencintaiku. Tapi dia tidak mencintai puisi. Bagaimana dia bisa mencintai gelas tanpa peduli isi?

Lalu bersamaku kini seorang Kinanti yang mencintai puisi. Menawarkan percakapan yang tak ingin kusudahi. Seperti anak kecil menemu teman bermain dan tak ingin pulang meski lapar mendera.

“Kau tahu apa yang kupikirkan?” tanyaku, mungkin meretas jalan untuk merayu. Aku tak tahu. Lama tak kuberkata seperti itu. Lama kalimatku mengikuti istriku: kata cukuplah jika bisa dimengerti.

“Tapi pikiran tak bisa didengar. Maka bicaralah2,” katanya, lagi-lagi mengutip baris puisi.

“Jika saja waktu ini adalah dulu.”

“Jika saja dulu adalah kini,” dia membalas sama bersayap. Kami sama-sama mengulum senyum. Dan begitu gerimis terhenti, kami pun bergandengan pergi. Menelusuri jalan dan berbincang indahnya puisi.

Waktu pun menghilang dalam putaran yang berhenti. Manusia menghitung waktu dari putaran bumi. Tapi saat ini bumi telah berhenti dan kehidupan benar-benar menjadi puisi. Dia bisa direka sesuka hati. Dia bisa di tata dari bait-bait diksi.

Tangan kami menaut kian erat memintas ruang dan waktu. Mata kami saling mengerling. Langkah kami seirama menaiki anak-anak tangga menuju ruang di atas awang.

Di luar langit masih berjelaga. Gerimis kembali turun dan menderas.

Kinanti bertanya tentang istri yang membuatku mendesah kelu dan menguak fragmen alam nyata. Dadaku perih terpilin sesal yang tak semestinya. Egoku menggeram menyembunyikan kesadaran.

“Dalam hidupku tak kujumpai wanita yang menyukai puisi sebelum ini,” ujarku. Tidak, batinku berteriak. Aku pernah menjumpainya, namun dia tidak menginginkanku. Aku pernah menjumpainya, namun dia memilih laki-laki lain. Yang sebenarnya adalah, aku tidak pernah menjumpai wanita yang mencintai puisi sekaligus yang menginginkanku mendampingi. “Dan aku menikahi istri karena waktu, dan kebodohanku yang meragu.”

Kehidupan bukanlah takdir. Hidup memang takdir, tapi kehidupan adalah pilihan. Sebagaimana mati adalah takdir namun kematian adalah pilihan. Rejeki adalah takdir sedang bekerja adalah pilihan. Dan jodoh memang lah takdir, tapi seorang istri, bagaimanapun, dia adalah pilihan. Dan aku telah memilih istri bertahun sebelum hari ini.

“Jangan katakan kau tak mencintainya,” mata Kinanti menuntut. Dan itu adalah mata batinku.

“Apa yang harus kukatakan?”

“Kau telah menikahinya.”

Batinku terpilin perih. “Wanita sepertimu lah yang kuinginkan dalam hidupku(3).”

Sedang istriku, tidakkah aku menginginkannya dulu ketika kukatakan hendak menikahinya? Ketika kehidupan yang kupilih membawa kami bertemu. Ketika pertemuan kami membawa kesadaran akan kodrat. Manusia harus beranak pianak agar puisi hidup tidak berhenti.

“Kau telah menikahinya,” dia mengulang.

Kuteringat saat-saat itu. Ketika satu per satu teman yang seusia telah menikah, sebagian telah bermain bersama anak mereka, sementara aku masih belum menemukan gadis idaman. Lalu kubertemu seorang wanita, yang memberiku hari-hari menyenangkan. Yang bersamaku meniti hari bersama. Dia yang kemudian membuatku mengangguk saat bertanya akankah kami menikah.

Wanita itu, kini menjadi istriku. Menjadi ibu dari anak-anakku. Namun tak pernah bisa bersama menyelami untaian kata dalam puisi. Kehidupan lain yang kupunya dan kuhayati.

Kini, seorang wanita yang mencintai puisi, dan menginginkanku, kutemu saat hidupku tak lagi sendiri.

“Usiaku makin menua diambang batas,” keluhku, bersama petir yang menggelegar.

“Pernikahan tidak dibatasi usia. Kau tak akan menikahinya jika kau tidak menginginkannya.”

Untuk alasan apapun, aku memang menginginkannya. Kelebihan istriku kelewat banyak untuk selembar kertas A4. Ia adalah mahluk multisel dengan rambut gemerisik, yang malam hari, bila ia tidur, berbiak dengan anggun(4).

Yang tak pernah bisa kumengerti adalah selalu masih ada rindu untuk sesuatu yang tidak istriku miliki. Dan Kinanti memilikinya.

Karena dia mencintai puisi.

Berpuluh tahun waktuku sebelum bertemu Kinanti, selaksa memori yang akhirnya bertepi. Memberi sela untuk menyisipkan sebait puisi di tengah hujan dan langit yang kelam. Kurengkuh Kinanti seperti bocah merengkuh mainan yang selalu membayang di pelupuk dan akhirnya bisa memiliki.

Tapi tak bisa aku seutuhnya memiliki. Dia hanyalah sebait puisi. Dia ada karena aku menautkannya dalam benak. Karena aku membawanya serta di labirin otak. Dia tertinggal di sana, bertahta, masih dengan senyum dan binar mata yang menggoda.

Mata kami beradu dalam pijar birahi. Menggulung dalam desah napas. Mencabik-cabik kesadaran. Aku terhanyut dan kian alpa. Siapa aku, siapa dia. Yang ada kini jiwa yang dahaga dan menemu oase di padang pasir kehidupan.

Dalam ruang di atas awang, di antara gerimis yang melebat dan waktu yang terhenti, aku menyibak kain dan mendekap. Berbisik puisi dan menjalin puisi. Saling mengetuk, saling memasuki(5).

Penghianatan Adam atas sabda Tuhan-Nya membuat dia diturunkan ke bumi. Dan penghianatanku ini, menebar rasa perih mengusik nurani.

***

Goncangan perlahan menggoyang tubuhku. Aku masih memeluk Kinanti. Yang kini menjelma menjadi guling basah oleh keringat. Dan jutaan sperma berenang tanpa menemu labuhan hingga mati tercecer di selangka.

“Sudah siang, Mas. Katanya hari ini ada kapal hendak berangkat?” kata istriku, dalam waktu yang kembali mengada setelah terhenti di putaran mimpi. Dan ruang kembali menyekat setelah menisbi.

Aku kembali dalam puisi hidupku yang harus kurajut. Karena sesungguhnya aku telah menjadi kata dalam puisi hidup bersama istri dan anak-anak yang tidak mencintai puisi.

Tapi aku tak ingin merusak puisi hidup kami dengan memaksa Kinanti hadir senyata. Meski ia masih hidup di relung labirin benak, aku tak pernah bertemu lagi dengan Kinanti dan tak pernah mencari. Perbincangan bersamanya hanyalah imaji. Waktu yang terselam berdua dalam birahi hanyalah mimpi. Bahkan namanya pun kureka sendiri.

Yang ada, wanita itu pergi setelah sebuah mobil menghampiri. Yang ada, perkataan terakhirnya sebelum pergi adalah: “Aku mencintai puisi.”

***

00:22 waktu rumah imaji: untuk seseorang yang mengajakku berpuisi.
1. Umbu Landu Paranggi, dalam esai Wayan Sunarta.
2. Rondeau, Hans Magnus Enzensberger, diterjemahkan oleh Berthold Damshäuser dan Agus R. Sarjono.
3. Kalimat ini pernah kutemui entah di mana.
4. Kelebihan Istriku, Hans Magnus Enzensberger, diterjemahkan oleh Berthold Damshäuser dan Agus R. Sarjono.
5. Di dalam Hujam, Abdul Wachid B.S..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *