Garnish

Genre: Novel
Penulis: Mashdar Zainal
Penerbit: Diva Press
Tebal: 224 hlm

diva press
diva press

Buni

Mama tak pernah menyukai anaknya menjadi seorang chef. Katanya, memasak adalah pekerjaan perempuan. Mama bersikeras bahwa aku harus menjadi seorang ekonom seperti Papa. Sebuah pekerjaan yang keren dan tidak dipandang sebelah mata. Puncak kemarahan Mama adalah, ketika Mama menumpahkan nasi goreng yang telah kubuat khusus untuknya, di hari ulang tahunnya, ke kantung sampah. Persis seperti menumpahkan kemarahannya yang tak pernah tuntas.

Seperti puncak kemarahan Mama yang membuat nasi gorengku berakhir di kantung sampah, kesabaranku pun terhenti pada saat yang sama. Sambil menumpahkan saus dan kecap ke sekujur tubuh, kukatakan pada Mama: aku akan hidup dengan bumbu-bumbu ini, akan kubuktikan, bahwa memasak bukanlah pekerjaan perempuan. Detik itu aku pergi dari rumah, untuk mencari sebuah pembuktian, bahwa aku punya cara sendiri untuk menjadi berarti.

Anin

Papa memperlakukanku seperti Tuan Putri, atau tepatnya boneka yang sangat istimewa. Semua tindak-tandukku telah diatur dalam ‘buku keluarga’. Aku harus makan tepat waktu. Aku harus tidur tepat waktu. Bahkan aku tak boleh pergi seorang diri. Karena Papa orang yang sangat sibuk, maka Papa membayar seorang pelayan dan seorang sopir yang matanya terus mengawasiku. Membuatku merasa ditelanjangi.

Puncak kekesalanku adalah ketika Papa melarangku melukis. Kata Papa melukis adalah pekerjaan seniman pengangguran yang berantakan. Aku tak boleh melukis. Kata Papa, melukis akan membuatku kotor dan berantakan dan tidak seperti seharusnya perempuan. Sebuah opini bodoh yang tidak berdasar. Sambil menumpahkan semua cat air ke wajah dan sekujur tubuh, kukatakan pada Papa: Aku akan hidup dengan ini, dan tak ada seorangpun yang bisa mencegahku. Hidupku adalah kanvasku. Hanya aku yang berhak mewarnainya. Bukan orang lain. Detik itu aku pergi dari rumah, dan mulai mewarnai kanvas hidupku sendiri.

***

Buni dan Anin dipertemukan dalam keadaan kacau satu sama lain. Buni dengan sekujur tubuh penuh saus dan kecap. Sedangkan Anin dengan sekujur tubuh dipenuhi tumpahan cat air. Mereka sama-sama kabur dari rumah. Mereka sama-sama jengkel dengan keadaan, dengan orang tua mereka. Pada pertemuan yang serba konyol dan kebetulan itu, mereka mulai mengenal satu sama lain.

Seiring waktu, mereka bahu-membahu untuk membantu mewujudkan mimpi-mimpi mereka satu sama lain. Mereka kian karib satu sama lain. Garnish (sebuah kafe sekaligus galeri), merupakan pembuktian yang nyata bahwa mereka berdua tak pernah main-main dengan ucapan dan mimpi-mimpi mereka. Bahwa mereka bisa membuktikan, mereka bisa menjadi berarti dengan cara mereka sendiri.

Bagi mereka, mimpi dan cita-cita adalah sesuatu yang tersimpan di ketinggian. Untuk mendapatkannya mereka harus melakukan pendakian. Mereka akan melewati jalan-jalan yang berbatu, jurang-jurang yang curam, ceruk ngarai yang dalam, sebelum sampai di puncak tertinggi dan mendekap mimpi-mimpi mereka. Mereka menyebut itu sebagai kebahagiaan, kebahagiaan yang sangat sederhana, sesederhana cinnamon madu yang terhidang di pagi hari…***

NB:
Insyaallah edar bulan depan, tapi sudah bisa dipesan mulai sekarang.
Pemesanan online silakan sms Kak Nita di nomor 0818 0437 4879 / BBM pin 275C67ED (diskon 25%)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *