Maulid dan Teladan Ibadah Nabi

Oleh Untung Wahyudi
Dimuat di Kabar Madura, 30 Desember 2015

pesona-ibadah-nabiSetiap tahun, tepatnya 12 Rabiul Awal, umat Muslim lazim memperingati Maulid Nabi, hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Nabi terakhir yang diutus Allah untuk menyebarkan risalah Islam. Banyak hal yang umat Muslim teladani dari sosok Nabi Muhammad yang dikenal sebagai sosok pemimpin berpengaruh itu. Di antaranya adalah keberanian, keadilan, kejujuran, kecerdasan, dan sifat-sifat lain yang melekat pada diri beliau.

Selain itu, hal lain yang perlu diteladani adalah bagaimana beliau menjalankan ibadah sehari-hari seperti salat, haji, puasa, zakat, sedekah, dan ibadah lainnya. Meneladani cara Rasulullah Saw. beribadah adalah hal penting yang perlu dilakukan agar ibadah lebih sempurna karena langsung mencontoh cara-cara beliau. Melalui buku Pesona Ibadah Nabi, Ahmad Rofi’ Usmani memaparkan kisah-kisah teladan seputar ibadah keseharian yang lazim dilakukan umat Muslim.

Bab pertama buku ini memuat kisah-kisah teladan seputar salat. Ada banyak kisah yang dipaparkan dalam bab ini, di antaranya adalah perintah salat lima waktu, azan sebagai seruan untuk salat, bagaimana menjawab azan, hingga tentang tempat ibadah di dalam rumah.

Sebelum azan ditetapkan sebagai seruan untuk salat, para sahabat terlebih dahulu berdiskusi bersama Rasulullah Saw. Ada yang mengusulkan agar seruan itu menggunakan lonceng seperti kaum Nasrani. Usul itu kurang berkenan di hati para sahabat yang lain. Lalu, yang lain mengusulkan agar ditiup trompet seperti yang biasa dilakukan tetangga mereka yang memeluk agama Yahudi. Lagi-lagi usul itu kurang berkenan.

Kemudian, Umar ibn Al-Khaththab berpaling kepada Rasulullah Saw. dan berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, mengapa tidak engkau perintahkan seseorang menyerukan panggilan salat?”. Mendengar ucapan sahabatnya yang terkenal tegas itu, Rasulullah menoleh ke arah Bilal ibn Rabbah Al-Habsyi. Sahabat yang pertama kali masuk Islam dari kalangan sahaya itu terkenal memiliki suara merdu nan syahdu. Sebelumnya, Rasulullah telah mengajari Bilal ucapan-ucapan azan. Lalu, Rasulullah pun berkata, “Bilal, berdirilah engkau! Lantunkan azan!”

Sejak itulah, seruan azan dikumandangkan. Orang-orang yang hendak salat pun berkumpul, membuat barisan, dan salat secara berjemaah. Nama Bilal akhirnya juga dikenang sebagai muazin pertama yang mengharumkan seruan azan (hlm. 28).

Kisah-kisah teladan tentang ibadah puasa dikisahkan dalam bab kedua. Pembaca bisa membaca dan meneladani kisah-kisah seputar puasa hari ‘Asyura’, tentang pidato menyambut Ramadan, seputar utang puasa, doa orang berpuasa, hingga tentang beda hari dalam memulai puasa Ramadan. Semua dikisahkan dengan sangat detail sehingga pembaca bisa lebih mengenal hal-hal yang berkaitan dengan puasa (hlm. 106).

Sementara itu, pada bab ketiga dijelaskan tentang kisah-kisah seputar zakat, infak, dan sedekah. Zakat adalah satu rukun Islam yang diwajibkan kepada semua kaum Muslim yang memiliki kekayaan tertentu. Kekayaan yang wajib dikeluarkan zakatnya harus mencapat hitungan atau nishab.

Di sisi lain, zakat merupakan akibat pasti setiap seorang Muslim terhadap persoalan produksi atau kegiatan ekonomi yang bermanfaat. Hal ini menunjukkan bahwa seakan-akan keimanan seorang Muslim tidak sempurna, kecuali jika dia berhasil mewujudkan produksi ekonomis yang memenuhi keperluannya, lalu kelebihannya yang mencapat nisab dikeluarkan sebagai zakat (hlm. 180).

Kisah-kisah seputar zakat ini bisa pembaca nikmati dalam sejumlah kisah seperti bagaimana jika sedekah salah alamat, bagaimana hukum menginfakkan harta suami, hingga tentang kisah orang yang diperbolehkan meminta-minta.

Sementara itu, pada bab keempat, bab terakhir dari buku ini, pembaca bisa membaca kisah-kisah teladan seputar haji dan umrah. Menurut Ali Syariati dalam karyanya, Haji, yang terpenting dari ibadah haji adalah kesungguhan untuk menangkap pelajaran sejarah dari tokoh-tokoh yang diperankan, dengan tokoh utamanya Ibrahim a.s. Menunaikan ibadah haji adalah memikul peran sejarah Ibrahim a.s. yang selama perjalanan hidupnya senantiasa memasrahkan seluruh kecintaannya kepada Allah.

Selain itu, ibadah haji juga menunjukkan pembinaan moral yang esensinya adalah sikap menghambakan diri kepada Allah dan menyembah-Nya dengan sepenuh hati. Dalam ibadah ini terkandung tindakan kembali pada fitrah manusia yang azali. Selanjutnya, simbol ibadah haji merupakan simbol kesederajatan sesama manusia, karena sesama jemaah haji sama-sama berdiri di hadapan Sang Pencipta dalam pakaian yang sama, tanpa perbedaan satu dengan yang lain (hlm. 251).

Kisah-kisah yang ditulis Rofi’ Usmani dalam buku setebal 348 ini sangat menarik untuk dikaji sebagai rujukan beribadah sehari-hari. Karena, sering kali dalam hal beribadah, kita dihadapkan pada sikap dan pendapat yang berbeda. Gesekan-gesekan kecil dalam kehidupan sosial sering kali terjadi antara lain disebabkan oleh perbedaan pendapat seputar ibadah. Buku ini hadir untuk menjawab berbagai persoalan yang ada di tengah-tengah masyarakat, khususnya umat Muslim. (*)

Judul: Pesona Ibadah Nabi

Penulis: Ahmad Rofi’ Usmani

Penerbit: Mizania, Bandung

Cetakan: Pertama, September 2015

Tebal: 348 Halaman

 

Sumber: http://www.untungwahyudi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *