Dia Menjatuhkan Cinta dan Puisi-Puisi Lain

Oleh Benny Arnas, Riau Pos, 17 Juni 2012

Pelepah Kurma

Sebutir nasi, empat, lima atau lebih, tidak menjadi gula di parutan nasibmu yang menjulur dari rimbun miang tebu

Rumpun miang tebu pun terbelah, mempersilakan kelelawar-kelelawar di lambungnya kenyang oleh daging-
daging segar beraroma nabi-nabi

Nabi-nabi memang tidak pernah kalah namun siapa tahu pernah
sial karena sebutir kurma, dua, enam atau sepuluh, yang lupa dicicipi

Yang lupa dicicipi bagimu adalah nasi yang ditanak-lagi untuk melunakkan celaka

Melunakkan celaka yang paling ampuh adalah memetik-makan kurma dari pohonnya ketika sial baru saja terbang dari pelepah

(Lubuklinggau, 2011)

Nama-Mana

Jangan tanya angsa yang berlayar di atas payau yang ruah oleh air tawa; sayapnya yang hijau kehitaman tiba-tiba
memekat ketika lamat-lamat basah dalam
keharuan yang redam

Keharuan yang redam adalah kecambah kebahagiaan dari dasar bumi yang lengang dan pekang bagai angsa yang dipeluk
lumpur dari lelehan garam-garam yang ditabur untuk memancing terjawabnya kepenasaran

Untuk memancing terjawabnya kepenasaran, dilemparlah tali ke payau yang menghilir; di mana angsa yang terakhir kehilangan ejademi sebuah makna

Demi sebuah makna
Ke nama?

(Lubuklinggau, 2011)

Dia Menjatuhkah Cinta

kami menerakan nama-Mu di ubun-ubun, lalu menukarnya
dengan bukit-bukit yang dililit embun-embun

kau mengembuskan cinta pada harap yang menjadi tempias,
lalu menjatuhkannya seperti mengelir wajah yang pias

kami merasa terbang padahal sayap-sayap kami lunas
Kautebang

(Lubuklinggau, 2011)

Kotak-kotak

kotak-kotak dalam kepalaku terbuka. kau melompat dari sana.
satu, dua, tiga, atau lebih. aku tahu, mereka adalah kau yang memiuh ketika aku mencumbu, berlalu, sekaligus cemburu. pada rumah-rumah yang kotak. yang membawa sesiapa
ke alam yang berwarna
merah toska, seperti kata-kata dalam kepala

(Lubuklinggau, 2011)

Kelopak Bunga Raya, Hanya

bukan karena perutmu yang makin hari makin menyerupai buah are
raksasa, hingga Sungai Musi kebingungan; ke mana harus dialirkan
cinta yang merah serta-merta. ikan-ikan seluang bertelur  tiba-tiba, Putri Kembang Dadar mengayuh sauh sebuah perahu dari pelepah kelapa, bujang-bujang tanggung pandai berpantun, nenek-nenek mengunyah sirih tanpa bangka dan kapur siang. tak usah bertanya, mengapa
semua bergerincah, wahai sayang.
tak bermaksud menyalip apa-apa yang Tuhan tuliskan di lauhul mahfuz, tak bermaksud mempermainkan malaikat-malaikat yang meredam pertanyaan hingga bersitumpuk; bagaimana mungkin seorang lelaki mencintai seorang perempuan yang dititis dari kelopak bunga raya? bukankah belum pernah para tabiin menceritakan itu kepada khalayak?  telah dicari-teliti dengan saksama, tak ditemukan sanadnya. atau ada perawi lain yang lupa kitab catat-simpankan. ah, ini tentang cinta,
kisanak. tentang cinta yang berputik di dahan yang tak berbatang, di tanya yang tak berapi, dari duri yang tak bertangkai, dari bulan yang tak bertiang, dari wajahku ke wajah yang menyaru seorang bidadari tanjung di sepertiga malam yang moksa.
dan mana mungkin pula setetes susu dapat kuisap bila
malam tak pernah memaklumatkan bahwa dua butir semangka telah bosan bergaun, dan lebih nyaman menempel di dadamu daripada melekat di sulur-sulur yang menjadi jembatan yang kubentang, kaubentang, orang-orang bentang, bila rindu bertandang. ahai  alangkah nikmatnya mak oiii! mari, marilah, ke sini, wahai perempuan yang dititis dari kelopak bunga raya, mari kuajak kau memasuki bokor raksasa yang kupinjam dari Mak Surah. ia baru saja pergi
ke taman kesturi di sebelah selatan surga. dengan binar wajah mengalahkan kilau matahari bulan Muharram, ia bercerita: ada kita berdua di sana!

(Lubuklinggau, 2011)

Kanji
; buat Desy Arisandi

mari sambut mata-mata celik yang berperadu
di lembah tempat burung kuaw mematuk buah kam yang hanyut
di sungai yang tersuruk di ari-ari
bulan jatuh! dari petang hingga subuh yang menguncup jadi api-api, kita bercengkerama sembari memungut matahari yang pecah
di rumah kita. kepalamu pun kehilangan tonggak, sementara telingaku berdengar, airtawaku buncah hingga membanjiri sarungku dan kain lasemmu. berapa anak ingin kita buat, sayang?

(Lubuklinggau, 2011)

Mak Embun
; Hasan Al Bana

kukunjungi utara pulau yang membujur bagai pisang batu yang ramping. kaukenalkan sepohon pinang yang berbonggol. kapankah akan pecah ia, bang? hanya menunggu oli yang dioles pada jarum pendek arloji bekerja sesegera masa, lagakmu sangat prosaik. aku tertawa, dan siang menjaring matahari dengan semena-mena.

kita tidak jadi pergi ke istana, bang. jadi,
tak terpahat sedikit pun ingatan pohon pinang yang bersongkok abu-abu pekang itu; padahal tak lama lagi aku akan terbang ke ujung katana yang melintang di tengah semut-semut bengak yang berkerumun di antara bulu ayam kampung yang mak celupkan ke dalam andai-andai tentang seorang abang dan istri yang setia?
kapankah akan pecah ia, bang? dan kau akan menjelma lelaki
durhaka bila tak menyelipkan segulung kabar
di ketiak burung muliman yang terbang ke lubuk
hati: kita memang disatukan ratusan pesan pendek, firasat yang bertikai, dan air kesedihan yang menyelinap di keranjang
pusaka, namun tentu tiada akan ia mengalahkan pertautan kau dengan pohon pinang yang baru saja melahirkan embun
yang menetes dengan begitu indah, begitu cinta. begitukah?

(Lubuklinggau, 2011)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *