Mengkhawatirkan Anak-anak

Puisi Benny Arnas
Dimuat di Lampung Post, Minggu, 12 Mei 2013

Presiden, Pohon, Ibu

Lelaki itu muncul lagi di layar terlevisi. Entah, ini kali ke berapa aku melihatnya. Ia selalu tampak gagah dan berwibawa. Ia pandai sekali berpidato. Ya, aku sangat ingin seperti itu. Seringkali, sepulang dari sekolah aku mempratikkan caranya berpidato. Aku sering melakukannya di atas salah satu dahan pohon jambu di sebelah kanan rumah. Mungkin kalian heran mengapa aku sangat suka berada di atas pohon

Begini; aku sangat menyayangi ibu. Ibu sangat menyayangi pohon-pohon yang ditanamnya. Dan, karena pohon jambu itu adalah pohon yang paling besar—yang paling tinggi—di antara tanaman-tanaman yang lain … kupikir pasti waktu yang ibu habiskan untuk merawatnya lebih lama dibandingkan tanaman-tanamannya yang lain, di antara pohon-pohon yang lain

Ketika aku berada di atas pohon itu, aku seolah tengah berada di dalam rumah yang dibangun ibu. Hmm, ibu pasti senang kalau sekarang ia masih hidup. Untung aku tak bercita-cita menjadi presiden hingga ibu dapat menyayangiku
seperti ini

Wasiat yang Agung

Batu permata yang tidur. Segenap marah yang subur. Mengurai dua demi dua batubata yang rekah dari rumah baru. Ke mana nian akan kita buang ruang-ruang yang menyelubung di antara jemari anak-anak yang lupa membaca kitab. Memang, semua pertanyaan—termasuk yang baru saja dibunyikan—tak ditanyakan karena tandatanya lupa diselipkan di ujung; lalu apa arti perpisahan bila batu permata itu tidak lagi menumbuhkan bungaraya-bungaraya beraroma hujan di gigir buku (bukuku atau juga  bukumu). Memang senantiasa ada perumpamaan yang cerlang untuk sebuah perjumpaan yang melupakan pulang sebagai bagian dari perjalanan. Tak ada pengecualian, rupanya. Termasuk bagi prahara yang mungkin nanti akan membuat Tuhan mempersilakan kau dan aku membuang batu permata itu. Ia terlalu berkilau, katamu. Ia menyerupai cermin, balasku tak mau kalah.

Jangan, jangan biarkan ia memantulkan dosa-dosa kita dengan begitu terang kepada anak-anak yang sekarang sedang meriap di rumah baru mereka, masing-masing.

Nasihat

Nasihat itu sudah singup hingga tidak lagi membekas pada jarak yang diciptakan oleh kepak-kepak burung kuaw yang selalu datang berombongan dari pintu rumah baru anak-anak. Sekarang mereka sudah besar-besar, kasar-kasar, dan pakar-pakar, hingga yang tampak di mata kita (ya, kita; bukan hanya aku): Sebatang pohon beringin yang rindang, seram, dan penuh dengan kegeraman. Mereka bukan pohonnya. Mereka bukan daunnya. Mereka adalah akar-akarnya yang menolak tumbuh dari tanah. Akar-akar itu tempat kita bergantung sekaligus bergelantung sekaligus luntang-lantung sekaligus terkatung-katung. Kau jatuh, mereka geming. Aku bangun, mereka pening. Kita berjalan, mereka membuka kantung-kantung. Kantung-kantung yang dibuat dari daun-daun beringin yang dilekuk-kunci seolah dianyam dengan serta-merta dan begitu indah. Seperti sihir yang indah, memang. Seperti kepandaian yang tercurah. Dengan tiba-tiba sehingga; kau pun malu, aku pun gagu. Siapa yang digugu; aku-kau-atau-anak-anak. Kita telah lama lupa dan menghapus nasihat dari daun-daun dan pohon-pohon. Tak terkecuali dari beringin, rupanya.

Sebenarnya Kami Tak Rela Bila Merahnya Buah Ceri Menjadi Sebegini

Anak kami yang kami sayangi hari ini akan mencari perigi-perigi di dekat sebatang ceri yang tumbuh di antara sulur-sulur perenggi. Mereka memang jarang mandi seakan-akan minum kopi dapat mengantar mereka ke surga yang dijanjikan Ilahi. Pagi-pagi mereka tak menegur kami lagi. Malam hari mereka masuk ke kamar yang dikunci. Seolah kami sudah pergi. Seakan mereka hidup sendiri. Doa-doa kami adalah nama anak kami yang kami sayangi hingga haram bagi benci untuk dibiarkan semi di jantung, hati, dan sela-sela gigi. Ke mana nak dicari kekasih yang selama ini dijampi-jampi dengan daun serimpi dan bunga matahari. Kami tak menangis lagi sebagaimana duri-duri yang belum tumbuh dari ketakutan yang kami tanam sendiri. Mempunyai bidadari tanpa sayap di bahu kanan dan kiri sudah takhenti aku mensyukuri, gumamku di telingamu yang merah buah ceri. Merah buah ceri? Aku hanya mencoba menghibur diri sendiri, wajahku merah buah ceri. Merah buah ceri? Wajahmu berseri, lalu binar mataku menari-menari. Alangkah gerimisnya hidup ini: Bahkan sebilah kalimat lebih mampu membuat kami hidup kembali daripada anak kami yang kami sayangi. Ya, kami hidup kembali, merasa hidup kembali. Paling tidak, tertawa sendiri seperti ini.

Hari Ini Adalah Mulut Mereka

Kami sudah menjadi semangka yang dipetik lalu dihangatkan di bawah mentari yang tiba-tiba turun lalu disimpan di dalam karung gandum yang kering. Biarkanlah anak-anak tidak lagi mengenal; di mana kedua mata yang kerap menangisinya, di mana tangan-tangan yang bersetia memangkunya, di mana mulut-mulut yang meninabobokkannya—ah, mereka sudah sangat benci bahkan muak dengan mulut-mulut kami. Mulut kami adalah lubuk neraka yang menyemburkan nasihat basi, peringatan yang memekakkan, dan dongeng-dongeng yang sarat kebohongan. Mulut mereka adalah kecipak ciuman, hujatan yang menyenangkan, caci-maki yang dibenarkan, dan madu-madu yang tiba-tiba dibagikan di hari yang penting dan mendebarkan; pidato politik, pemilihan kepala daerah, lobi proyek, dan kasih-yang-melayang kepada anak yatim.

Benny Arnas

Benny Arnas lahir di Lubuklinggau, 8 Mei 1983. Buku-buku cerpennya adalah Bulan Celurit Api (2010) dan Jatuh dari Cinta (2011). Ia meraih sejumlah penghargaan sastra, di antaranya Anugerah Batanghari Sembilan (2009), Krakatau Award (2010), Fiksi Terbaik dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia (2012), dan Anugerah Pena kategori Kumpulan Cerpen Terpuji untuk buku Bulan Celurit Api (2013).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *