Tana Toraja: Perjalanan Merayakan Kematian

Esai Tary Lestari
Dimuat di Femina edisi 40 th. 2010

“All journeys have secret destinations of which the traveler is unaware.” – Martin Burber

 

‘Negeri yang bulat seperti bulan dan matahari’ begitulah gelar untuk wilayah Tana Toraja. Orang Toraja menyebut dirinya to raya yang artinya keturunan para raja atau to riaja yang artinya orang yang berdiam di atas awan (pegunungan). Toraja termasuk salah satu wilayah propinsi Sulawesi Selatan, sekitar 350 kilometer sebelah utara kota Makasar. Toraja bisa dijangkau dengan dua cara menggunakan jalur darat dan udara; menggunakan bus dari Makasar atau pesawat kecil dari Bandara Sultan Hasanudin ke bandara Pongtiku.

Sejak dua tahun lalu, saya ingin melakukan perjalanan ke Tana Toraja, namun berbagai kesibukan selalu membatalkan rencana itu. Akhirnya saya memutuskan mengambil cuti tahunan saya dan melakukan perjalanan ke Tana Toraja. Saat riset lokasi-lokasi wisata lewat internet dan mencari informasi perjalanan, saya merasakan bahwa perjalanan saya kali ini bukanlah perjalanan biasa.

Warisan kebudayaan megalitik serta gaya hidup Austronesia menjadikan Tana Toraja menarik untuk dikunjungi wisatawan. Pemandangan alam yang indah dan nuansa tradisional Toraja mulai saya rasakan begitu bus yang saya tumpangi memutari kolam buatan di kota Makale. Atap rumah adat Toraja, tongkonan, yang bentuknya seperti perahu tampak indah timbul tenggelam di antara kabut yang menyelimuti kota yang dikelilingi pegunungan ini. Infrasuktur jalan di Toraja yang menghubungkan dua kota utama ; Makale dan Rantepao cukup baik. Dan selama perjalanan ini, saya memutuskan untuk menginap di Rantepao.

Pasar Bolu dan Wisata Pemakaman

Tepat pukul 9 pagi, saya menginjakkan kaki di Rantepao. Beberapa pengendara bentor (becak motor) menawari saya untuk mengantarkan ke hotel. Namun saya memilih naik pete-pete (angkutan umum). Pete-pete di Toraja bukan seperti angkutan umum biasa seperti di kota-kota lain. Kebanyakan pete-pete di Toraja adalah mobil Avanza yang digunakan sebagai angkutan umum dan sangat nyaman.

Setelah beristirahat sejenak dan berganti pakaian, saya tidak sabar untuk menjelajah Toraja. Lewat petugas hotel saya menyewa motor untuk transportasi ke lokasi-lokasi wisata yang ingin saya kunjungi.

Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah pasar hewan Bolu, Rantepao. Menurut petugas hotel hari ini adalah hari pasaran dan saya tak boleh melewatkannya. Berdekatan dengan lokasi pasar tradisional, pasar hewan ini tampak unik dengan hamparan tedong (kerbau) dan babi di areal tanah lapang yang luas. Tidak seperti pasar hewan yang biasa saya lihat di tempat lain, para penjual hewan di pasar ini semuanya laki-laki dan sebagian besar mengenakan sarung dipinggangnya. Terjadi sekali seminggu, dan hampir 90% kerbau yang dijual di pasar ini untuk upacara kematian. Tedong Bonga (kerbau belang) adalah kerbau yang sangat mahal dan langka. Harganya bisa mencapai ratusan juta. Saya melihat banyak wisatawan asing di pasar hewan Bolu. Mereka tampak antusias melihat keunikan pasar ini.

Saya lalu meneruskan perjalanan ke goa pemakaman Londa, setengah jam dari Makale ke arah Rantepao. Londa merupakan sebuah pemakaman purbakala yang berada dalam goa. Untuk memasuki goa pemakaman Londa saya menyewa lampu petromak dan diantar Toni, pemuda Toraja yang sejak kecil sudah menjadi pemandu wisata menjelajahi lekuk-lekuk goa Londa.

Menurut Toni, semua yang dimakamkan di goa Londa adalah dari garis keturunan Tatengkeng. Di bagian depan pemakaman tampak tau-tau (patung dari kayu nangka) yang mirip dengan mayat yang dimakamkan. Tau-tau itu di letakkan di pemakaman setelah melalui ritual tertentu. Menurut Toni, mereka yang patungnya berjajar di balkon pemakaman berasal dari kasta yang tinggi. Beberapa kali tau-tau itu dicuri orang sehingga sempat dibuatkan teralis dan dikunci.

Di depan gua saya juga melihat keranda dengan bentuk yang berbeda-beda. Toni menjelaskan bahwa bentuk keranda yang dipakai untuk mengantarkan jenasah ke pemakaman sesuai dengan status social atau kasta orang yang meninggal. Jenazah yang berkasta tinggi diantar dengan keranda berbentuk tongkonan, sementara jenazah yang berkasta biasa menggunakan keranda bambu. Peletakan jenazah di goa juga sesuai dengan kastanya masing-masing. Kasta tertinggi di letakkan di tempat paling tinggi sementara kasta biasa di tempat yang rendah. Orang Toraja masih mempercayai bahwa setelah meninggal, mereka akan menuju Puyo (surga) dan semakin tinggi mayat diletakkan maka semakin dekat mereka dengan Puyo.

Dengan penerangan lampu petromak saya merangkak memasuki goa. Saya harus berhati-hati agar tidak menyenggol tengkorak-tengkorak berusia ratusan tahun yang berserakan di sekeliling. Untuk menggeser tengkorak itu sedikit saja, harus melalui proses ritual. Di sekeliling tengkorak itu banyak tumpukan baju, gelas plastic aqua dan rokok. Saya pikir ini sampah yang ditinggalkan pengunjung, tapi ternyata saya salah. Tumpukan baju usang, gelas plastic dan rokok itu sengaja di kirimkan keluarga mayat. Orang Toraja berkeyakinan bahwa mereka yang sudah mati juga membutuhkan baju, makanan dan minuman seperti orang yang masih hidup.

Saya terus merangkak memasuki goa dan menemukan peti mati baru. Peti itu masih terlihat bagus dan rangkaian bunga yang melingkari peti belum layu. Menurut Toni, peti itu baru diletakkan tujuh hari lalu. Hingga sampailah saya di depan dua tengkorak yang saling bersisian. Dua tengkorak itu tampak dramatis berada di ruangan goa yang temaram. Menurut Toni, dua tengkorak itu adalah sepasang kekasih yang tidak direstui oleh orang tua mereka. Semacam kisah Romeo Juliet dari Toraja. Hm, ternyata setiap daerah selalu memiliki kisah-kisah yang romantic sekaligus tragis!

Tujuan selanjutnya adalah Lemo. Pemakaman alam yang dipahat sekitar abad XVI ini merupakan pemakaman leluhur Toraja. Di pemakaman batu Lemo ini ada 75 liang batu kuno dan 40 tau-tau yang tegak berdiri dan 75 lubang batu. Posisi tau-tau di Lemo berbeda dengan tau-tau di Londa. Tau-tau di Lemo mengangkat tangan ke atas dengan mata menatap langit sebagai prestise, status dan peran para bangsawan di Desa Lemo. Di beri nama Lemo karena salah satu model liang batu di sana berbentuk bundar dan berbintik-bintik seperti jeruk.

Tujuan berikutnya adalah To’Doyan, pohon besar yang menjadi tempat pemakaman bayi (anak yang belum tumbuh giginya). Pohon ini secara alamiah memberi akar-akar tunggang yang secara teratur tumbuh membentuk rongga-rongga. Rongga inilah yang digunakan sebagai tempat menyimpan mayat bayi. Namun, pohon ini sekarang tidak lagi digunakan sebagai pemakaman.

Pada masa sekarang, beberapa orang Toraja membuat Patane (rumah makam) yang lebih modern untuk tujuh turunan dan meletakkan di pinggir jalan sehingga mudah dijangkau. Rumah makam modern ini terbuat dari beton seperti laiknya bangunan di kota. Dari pemakaman bayi To’Doyan saya singgah di kampung tradisional Kete Kesu. Di kampung tradisional ini saya bisa melihat tongkonan-tongkonan tua yang atapnya terbuat dari bambu dan telah ditumbuhi ilalang. Di sekitar tongkonan tua ini saya juga menemukan beberapa perajin ukir Toraja.

Makanan dan Oleh-oleh Khas Toraja

Saat makan siang, saya berburu makanan khas Toraja. Sayang kalau saya tidak mencicipi makanan khas Tana Toraja. Meski sebagian besar penduduk Tana Toraja memeluk agama Kristen, tetapi di kota Rantepao kita bisa menemukan rumah makan-rumah makan khusus untuk muslim.

Selain kopi Toraja yang sangat terkenal, Tana Toraja juga memiliki berbagai makanan khas yang unik dan lezat. Salah satu contohnya adalah Papiong. Papiong merupakan lauk pauk untuk pelengkap makan dengan nasi. Dimasak dengan berbagai sayuran di dalam bambu dan memasaknya dengan cara dibakar. Campuran sayuran di dalam Papiong yaitu : daun bawang, serai, bawang putih, telor, merica dan bawang merah. Biasanya ada beberapa pilihan isi lauknya yaitu : ayam, ikan dan babi. Kalau di Jawa Papiong lebih mirip dengan pepes. Dimakan dengan nasi hangat sangat lezat.

Makanan khas Toraja yang lain adalah Pamarrasan dan Pangrarang. Pamarrasan berupa lauk pauk daging ayam, babi atau ikan yang sudah dibakar lalu dimasak menggunakan keluwek dan sayur pangi. Sayur pangi adalah kulit keluwek yang sudah di iris tipis-tipis dan dijemur . Keluwek dalam bahasa Toraja adalah Pamarrasan. Sementara Pangrarang adalah sate Toraja. Bedanya dengan sate di tempat lain adalah cara memasaknya. Pangrarang hanya di bakar dengan bumbu garam secukupnya lalu setelah dibakar matang dimakan dengan cabe ulek.

Untuk oleh-oleh kita bisa membeli deppa tori’, kue khas Toraja dan sirup Markisa yang belum dicampur dengan apapun. Kita juga bisa membawa oleh-oleh berupa ukiran, kain tenun Toraja, cinderamata berupa patung-patung dari kayu nangka juga t’shirt khas Toraja.

Perayaan Kematian

Dalam perjalanan, saya melihat sebuah areal luas dengan banyak rumah itu dihiasi kain warna merah, putih dan motif hitam diatas merah. Saya memutuskan berhenti. Pak Indra yang sedang bekerja di situ mengatakan bahwa minggu depan akan diadakan perayaan kematian atau lebih dikenal Rambu Solo’. Areal dengan deretan rumah dari bambu dan kayu ini disebut rante. Saya langsung antusias untuk melihat perayaan itu minggu depan. Tetapi saya tidak mungkin memperpanjang cuti saya. Maka, untuk mengobati kekecewaan, saya mendengar cerita Pak Indra tentang perayaan kematian Rambu Solo’.

Rambu Solo’ merupakan upacara kematian yang sangat meriah dan memakan waktu berhari-hari. Upacara ini biasanya dilaksanakan pada siang hari saat matahari mulai condong ke barat dan biasanya berlangsung dua sampai tiga hari, bahkan untuk kalangan bangsawan bisa sampai dua minggu. Jumlah kerbau dan babi yang dipotongpun berbeda sesuai status social. Jika yang meninggal dunia bangsawan, maka jumlah kerbau yang dipotong lebih banyak dibanding yang bukan bangsawan. Keluarga bangsawan akan menyembelih kerbau antara 24 sampai dengan 100 ekor kerbau. Sedangkan warga golongan menengah diharuskan menyembelih 8 ekor kerbau ditambah dengan 50 ekor babi. Sebelum jumlah itu mencukupi, jenazah tidak boleh dikuburkan di tebing atau di tempat tinggi. Maka, tak jarang jenazah disimpan selama bertahun-tahun di Tongkonan sampai akhirnya keluarga menyiapkan hewan kurban. Namun bagi penganut agama Nasrani dan Islam kini, jenazah dapat dikuburkan dulu di tanah, lalu digali kembali setelah pihak keluarganya siap melaksanakan upacara.

Prosesi dimulai dengan jenazah dipindahkan dari rumah duka menuju tongkonan pertama (tongkonan tammuon), yaitu tongkonan dimana ia berasal. Di sana dilakukan penyembelihan 1 ekor kerbau sebagai kurban atau dalam bahasa Torajanya Ma’tinggoro Tedong, yaitu cara penyembelihan khas orang Toraja, menebas kerbau dengan parang dengan satu kali tebasan saja. Kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu. Setelah itu, kerbau tadi dipotong-potong dan dagingnya dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir. Jenazah berada di tongkonan pertama (tongkonan tammuon) hanya sehari, lalu keesokan harinya jenazah akan dipindahkan lagi ke tongkonan yang berada agak ke atas lagi, yaitu tongkonan barebatu, dan di sini pun prosesinya sama dengan di tongkonan yang pertama.

Selanjutnya, jenazah diusung menggunakan duba-duba (keranda khas Toraja). Di depan duba-duba terdapat lamba-lamba (kain merah yang panjang, biasanya terletak di depan keranda jenazah, dan dalam prosesi pengarakan, kain tersebut ditarik oleh para wanita dalam keluarga tersebut. Jenazah tersebut akan disemayamkan di rante, di sana sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari bambu dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal para sanak keluarga yang datang nanti. Sesampainya di rante, jenazah diletakkan di lakkien (menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung). Jenazah dibaringkan di atas lakkien sebelum nantinya akan dikubur. Hiburan yang ditunggu-tunggu dalam perayaan kematian ini adalah ma’pasilaga tedong (adu kerbau). Adu kerbau sangat digemari orang-orang Toraja. Saya jadi teringat kerbau-kerbau di Pasar Bolu yang saya kunjungi pagi tadi.

Matahari mulai turun dan saya mengingat pesan petugas hotel, “lebih baik mbak kembali ke hotel sebelum malam. Karena setelah petang warga Toraja menghentikan kegiatannya dan lebih suka berdiam diri di rumah.” Tetapi baru saja berpamitan dengan Pak Indra perut saya keroncongan. Akhirnya saya berhenti di rumah makan kecil dengan lokasi yang memukau. Berbentuk panggung, pengunjung rumah makan bisa menikmati hamparan sawah dan gunung di kejauhan. Sambil menunggu ayam yang dimasak dalam bambu dan nasi putih hangat, saya menikmati secangkir kopi Toraja.

Dan gerimis mulai turun. Perjalanan hari ini sangat menakjubkan. Diam-diam saya merasakan aura mistis, saya seperti mendengar seseorang melakukan Ma’badong (menyanyikan lagu-lagu untuk mengenang jenazah) di upacara pemakaman Toraja, sementara ibu-ibu bersedu-sedan dan para pria berteriak penuh semangat. Setelah peti jenazah dimasukkan ke dalam liang batu di sisi tebing, maka masa berkabung telah lewat. Sebuah kematian boleh disertai rasa duka, namun juga harus dirayakan dengan kegembiraan. Karena manusia yang mati itu telah selesai tugasnya di dunia dan tidak lagi merasakan kesusahan. Bentuk penghormatan terhadap kematian dan kearifan falsafah local Toraja yang masih terjaga meski zaman telah digerus modernisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *