Ayat-Ayat Cinta 2 (bagian 6)

Oleh Habiburrahman El Shirazy
Dimuat di Republika, 08/01/2015

Jawaban secara antropologis, sosiologis, juga politis, silakan dicari sendiri. Saya ada analogi sederhana. Jika kalian punya pohon apel atau mangga yang sedang berbuah, dan kau sudah merawat sebaik-baiknya. Bisakah kalian pastikan seluruh buahnya baik? Tidak ada satu pun yang busuk? Tidak ada yang jauh dari pohonnya sebelum matang?”

Mahasiswi dari Cina spontan menjawab, “Tidak bisa. Selalu ada satu dua dari pohon itu yang buahnya tumbuh tidak seperti yang diharapkan. Satu dua tetap ada yangbusuk. Tidak bisa semua buahnya sempurna.”

“Kalau kau punya pohon apel, hanya satu dua saja buahnya yang busuk, apakah fair mengatakan seluruh pohon apel itu busuk?”

Gadis berwajah oriental dan para mahasiswa pascasarjana itu mengangguk-angguk. Fahri mengakhiri kuliahnya dan langsung bergegas masuk ke ruangan office-nya.

Fahri menghela nafas. Ia hidupkan lampu office dan pemanas ruangan. Ia tanggalkan jasnya dan melepas dasinya. Ruangan itu rapi. Separoh ruangan nyaris berisi buku-buku dalam bahasa Arab, Inggris, dan Jerman. Di atas meja kerja tampak beberapa buku berserakan, Tampak kalau buku-buku itu sedang dibaca atau diperlukan.

Di sebuah dinding tergantung lukisan karikatur dari crayon. Itu karikatur dirinya dan istrinya, Aisha, dengan latar belakang Candi Borobudur. Meskipun berbentuk karikatur yang lucu, baginya Aisha dalam gambar itu tetap cantik. Memandangnya selalu menghangatkan jiwa Fahri. Karikatur itu selalu mengingatkan masa-masa indahnya yang singkat bersama Aisha selama di Indonesia. Karikatur itu sendiri dibuat oleh seniman Malioboro, Yogyakarta. .

Fahri memandangi foto Aisha. Kedua matanya berkaca-kaca. Ia lalu memejamkan kedua matanya dan memanjatkan doa kepada Allah, agar Allah terus mengasihi istrinya, baik ia masih hidup ataukah telah tiada. Sejurus kemudian ia tersadar, ia tidak boleh terus terbawa perasaan melankolis. Pertanyaan mahasiswi bermata sipit itu adalah kenyataan bahwa tantangan dakwah begitu besar. Dan ia merasa harus mengerahkan segenap kemampuan yang diberikan oleh Allah untuk ikut berperan menghadapinya.

Fahri menghela nafas. Ia lalu duduk di depan meja kerjanya dan menyalakan komputer. Riset postdoc-nya tentang karya ulama asal Yaman yang ia temukan salinan tulisan tangannya di Solo sudah selesai, hanya tinggal perbaikan saja.

Ia melakukan kajian tahqiq dan ta’liq secara ilmiah atas kumpulan wasiat Al ‘Allamah Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahr berjudul Majmu’ Washaya yang manuskripnya ia temukan di perpustakaan pribadi Habib Assegaf Solo, Indonesia. Sebelum masuk tahqiq dan ta’liq, ia meneliti sejarah bagaimana kumpulan wasiat itu sampai di Solo, lebih tepatnya ia mengurai jaringan ulama Yaman dalam berdakwah di Indonesia.

(Bersambung)

gambar: epaper.republika.co.id
gambar: epaper.republika.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *