Jarak

Cerpen Ragdi F. Daye
Dimuat di Riau Pos 05/02/2006

SUDAH tak bersirobok jalan ke Solok.
Begitulah, Attar disuruh pulang, tetapi dia tidak tahu bagaimana memulai jalan. Solok yang hanya enam puluh kilometer dari Padang seolah-olah terpisah dari bumi. Begitu jauh dan tak terjangkau. Begitu berat kaki untuk diajak melangkah. Hanya Bukit Barisan yang dipandanginya dengan sedih. Benarkah aku tak lagi mempunyai rindu?

“Pulanglah, Tar. Jenguklah ibumu yang sakit marasai1
. Tak takutkah kau dikutuk sebab ‘lah durhaka?”
“Tetapi tak mungkin aku menjelang Solok. Tak mungkin aku menyesap ludah yang terbuang di tanah. Aku telah dibuang dan membuang diri.”

“Solok hanya sejengkal dari sini, tak bisakah kau sedikit melunakkan hati?”

“Tidak, tidak, tidak! Aku tak akan pulang ke Solok. Ruas jalan telah dipancung. Aku tak akan kembali!”

***

ATTAR ingin mencari Iskandar Zulkarnain. Seorang tukang kaba gaek2 telah bertutur kepadanya tentang laki-laki penakluk itu. Dia begitu terpesona padanya. Darahnya menggelegak menyimak pertarungan Sang Raja dengan Darius di Gaugamela. Raja Persia berhasil dibuatnya lari lintang pukang ke pelosok pegunungan. Kalah. Attar ingin menjadi manusia seperti Iskandar.
“Yang utama adalah taklukkan ketakutanmu!” Begitu ujar si tukang kaba menirukan Iskandar Zulkarnain.

“Apakah aku bisa seperti dia?”

“Tentu, sebab kau adalah keturunannya. Leluhurmu adalah orang buangan dari Pagaruyung. Dan raja Pagaruyung itu kau tahu, dia adalah keturunan raja Iskandar Zulkarnain.” Tukang kaba itu adalah pekerja sawah neneknya. Attar senang sekali bersamanya, dia selalu bercerita padanya sewaktu merintang waktu di dangau kecil di tengah sawah. Atau ketika sedang manggaro3 burung pipit dan tempua. Dia berbeda sekali dengan bapaknya yang sangat pendiam dan pemberang.
“Aku akan menaklukkan dunia!” Teriaknya keras membuat gerombolan burung pipit di batang-batang padi terbang berkirab.

Tukang kaba itu, Pak Hok, menyahut mengangguk-angguk. “Lakukanlah, Attar! Kau adalah masa depan kampung Sawah Sianik ini!”

Mereka belajar silat di lereng Bukik Sirah. Sekali-sekali Pak Hok membawa Attar ke Ampang Kualo untuk belajar berkuda pada seorang temannya. Mereka begitu akrab dan dekat. Attar lebih sering ke sawah sepulang sekolah daripada menunggui kios minyak milik bapaknya.

Suatu ketika bapaknya kawin lagi. Rumah papan di belakang rumah gadang orang Sikumbang itu retak. Nenek hilang kasih. Ibunya acap menangis. Setiap hari terpaksa berkuli di sawah orang. Kampung terasa gersang. Attar menjadi jarang bersama Pak Hok karena ibunya selalu melarang dia pergi ke sawah neneknya.

“Itu sawah orang, Tar. Jangan kau datang-datangi juga. Nanti dikira kita hendak mengambil punya orang. Kita di sini hidup menumpang.” Begitu ibunya menegur.

Kita di sini hidup menumpang. Kalimat itu menggores hatinya. “Tapi ini kampung bapakku. Rumah gadang itu punya nenekku.”

Kalimat itu menggores hatinya. “Tapi ini kampung bapakku. Rumah gadang itu punya nenekku.”
“Kita orang Minang, Tar, meski segalanya telah berubah, tetapi kampungmu tetap di kampung ibumu, di Simawang.”

“Kalau begitu, marilah kita ke Simawang, Mak. Untuk apa tinggal di Sawah Sianik yang sempit ini.”

“Tidak bisa begitu, Yuang. Nenek dan kakekmu di sana telah mati. Rumah telah terjual, sawah telah tergadai. Sanak habis, pusako4 tandas. Kita tak mungkin pulang ke Simawang.”
“Kalau begitu kita pindah saja ke kota, Mak.”

“Sudahlah, Tar. Urus saja sekolahmu. Nanti kau akan mengerti bahwa hidup tak semudah yang kaukira.”

“Tapi aku akan menjadi Iskandar Zulkarnain kata Pak Hok.”

“Sudah! Sudah! Segeralah kau ke sekolah, dan jangan pergi-pergi lagi ke sawah nenekmu. Nanti dikira orang kau hendak mencuri tanah.”

Maka dia mencoba bertahan untuk betah. Tetapi terlalu susah. Semakin hari semakin terasa olehnya bahwa hubungannya dengan orang kampung telah putus atau yang lebih menyedihkan adalah tidak ada sama sekali. Bapaknya sibuk di rumah istri barunya di Lukah Pandan. Orang-orang tak sudi memandangnya. Tak hiba melihat ibunya yang kian marasai mencari makan untuk dia dan adik-adiknya. Bapaknya tak lagi peduli. Begitupun neneknya. Perempuan tua yang rajin ke surau dan wirid yaasiin tiap malam Jumat itu bahkan tak menjawab sapanya, seolah lupa pada namanya. Padahal dulu dia sering menyuruhnya mengambil talang ke Bukik Sirah untuk membuat lamang bila akan masuk bulan puasa, hari raya, atau bulan maulid. Attar tak habis pikir, apakah semudah itu tali putus?

“Aku akan menjadi Iskandar Zulkarnain!” katanya berapi-api ketika bertemu dengan Pak Hok setelah shalat Jumat di Masjid Al Manar. Matanya merah. “Akan kutaklukkan orang-orang Sawah Sianik ini. Akan kubuat mereka berlutut di bawah kakiku!”

“Nak, tak baik seperti itu.”

“Aku akan menjadi Iskandar Zulkarnain!”

Tamat SMP, Attar pergi dari Sawah Sianik. Pergi dari Solok. Ditinggalkannya ibu dan adik-adiknya yang menghuni sebuah pondok buruk di pinggir kampung Sawah Sianik. Dia merasa mereka telah dibuang seperti penyakit. Dia berjanji tak akan kembali sebelum sanggup membeli orang sekampung itu.

***

KAPAl Miracle masih tersandar di Teluk Bayur. Attar sedang minum kopi di kafe Hotel Bumiminang bersama dua orang rekannya. Sudah sebelas tahun dia tak melihat Solok. Sudah sebelas tahun dia tidak menginjak tanah Sawah Sianik. Apakah masih lunak dan basah?

“Uda diminta pulang. Ibu Uda sakit sudah sebulan, sebaiknya tengoklah juga sebelum maut menjelang.” Begitu kata Junir, seorang anak Solok yang dikenalnya di Pelabuhan Teluk Bayur. Dari Junirlah dia mendapat kabar tentang kampung dan sesekali menitipkan uang dan barang untuk ibu dan adik-adiknya bila dia singgah di Teluk Bayur dalam pelayaran.

“Apakah Mak sudah pindah dari tepi sawah itu?”

“Sudah, Da. Ibu Uda kini tinggal di bekas tanah Sapei. Rumah telah dibangun, tanah sudah dibeli.”

“Terima kasih, Dik. Tetapi aku tak mungkin datang ke Sawah Sianik. Aku tak hendak pulang.”

“Tetapi Da, ibu Uda berpesan, tolong Uda pulang, dia begitu sakit menahan taragak5.”
Attar tak bergeming. Jalan ke Solok tak bersirobok dalam pikirannya. Bertahun-tahun dia mencari untung. Mulanya jadi kuli angkut di pelabuhan, kemudian pergi dengan kapal bagan penangkap ikan, kemudian pergi dengan kapal barang, kemudian pergi dengan kapal dagang, kemudian berkenalan dengan orang asing pemilik Miracle, maka dia berlayar-berlayar-berlayar, berlayar untuk mengelilingi dunia seperti Iskandar…

Seperti Alexander. Ya, Alexander. Alexander atau Iskandar Zulkarnain memang tak menyeberangi laut untuk menaklukkan dunia, tetapi itu persoalan cara. Dia tengah mengumpulkan dolar demi dolar.

“Pulanglah, Tar. Jenguklah ibumu yang sakit marasai. Tak takutkah kau dikutuk sebab ‘lah durhaka?” Hatinya berseru-seru.

Tapi dia tidak mau. “Belum saatnya!”

Kepada Junir dititipkannya sejumlah uang dan pesan beserta salam untuk ibu dan adik-adiknya. Tahun ini dia belum akan pulang. Harap bersabar. Semoga ibu lekas sembuh. Usah pikirkan dirinya. Dia sudah pandai menjaga badan. Suruh adik-adiknya bersekolah. Kalau uang kurang beritahu Junir.

“Bawakan aku beberapa biji jarak yang masak.” Pintanya ada Junir.

“Untuk apa, Da?”

“Akan kutanam untuk obat.”

***

SUDAH tak bersobok jalan ke Solok.

Dia juga tak kunjung bertemu dengan Iskandar Zulkarnain atau Alexander. Hanya sekeping cerita yang dia dapatkan dari tukang kabar yang lain. Tentang seorang laki-laki rapuh yang menjadi boneka bagi obsesi ibunya dan akhirnya mati sunyi di negeri asing.

“Tiap tanah, setiap perbatasan yang kulewati, aku selalu memotong-motong ilusi.” Ucap si penakluk itu melalui mulut si tukang kabar.

“Apakah aku juga hanya memotong-motong ilusi?!” Attar bertanya pada dunianya yang biru, laut dan langit. “Apakah Alexander hanya ilusi? Apakah Iskandar Zulkarnain hanya ilusi?”

“Dia tak pernah mati.” Kata Pak Hok dulu. Tukang kaba gaek yang sering diundang ke kampung-kampung untuk badendang6 itu selalu meyakinkannya, “Dia tak pernah mati, Attar! Dia ada dalam dirimu. Kau harus yakin itu! Kau dapat menaklukkan dunia ini bila kau berhasil menaklukkan dirimu, ketakutanmu, nafsumu, energimu.”
Biji jarak yang ditanamnya di pot plastik telah tumbuh setinggi lutut. Tanaman itu gersang diserang angin garam. Attar selalu memeliharanya, merawatnya sebaik mungkin agar tanaman itu tidak mati.

“Ambiaklah daun jarak ka jadi ureh.”

“Ambiaklah ureh palarai damam.”

(Ambillah daun jarak untuk jadi ureh7

Ambillah ureh untuk obat demam)

Hari itu dia merasa badannya terpanggang. Demam. Telah berhari-hari dia meriang. Dia teringat ibunya, teringat adik-adiknya, teringat bapaknya, teringat neneknya yang bukan neneknya, teringat Pak Hok, teringat teman-teman masa kecilnya, teringat orang-orang kampung yang tidak menganggapnya apa-apa.

“Aku demam. Aku demam.” Dia mengambil pil di kotak obat, tetapi tak jadi meminumnya. Dia ingat kalau dia sakit, biasanya dia akan diberi ureh daun jarak. Maka dipetiknya tujuh helai daun jarak. Dicucinya. Dimasukkannya ke dalam mangkuk. Diberinya air dingin. Diberinya seumil beras. Dia tak mendapatkan sekupil kunyit. Dia duduk. Siapa yang akan mendoakan ureh ini?

Attar tak jadi minum. Dia merasa tak mampu untuk membaca Al Fatihah dan salawat Nabi. Ditaruhnya mangkuk di atas meja. Menerawang. Apakah aku tak rindu? Apakah aku tak taragak?

***

ATTAR singgah lagi di Teluk Bayur. Bersama temannya dia menginap di sebuah hotel besar di Padang. Dia telah membawa uang beberapa ratus ribu dolar. Tetapi kakinya tetap berat untuk menempuh jalan ke Solok yang hanya enam puluh kilometer dari Padang. Dia hanya minta tolong kepada Junir untuk mengantarkan sejumlah uang dan oleh-oleh.

“Pulanglah ke Solok, Tar!” suruh hatinya.

Tetapi dia tetap tidak bisa. Sepertinya jalan telah tertutup. Dia tak punya lagi rindu. Dia tak punya lagi taragak. Dia pernah berharap jarak dapat merapatkan hatinya pada kampung seperti yang dialami orang-orang lain. Dia ingin bisa memiliki sedikit rindu pada bapak yang menelantarkannya, pada nenek yang mengabaikannya, pada orang kampung yang membuangnya. Tetapi dia tidak mampu. Bahkan kebencian itu berhasil menekan keinginannya untuk bertemu dengan ibu dan adik-adiknya. Mungkin dia akan benar-benar menjadi Alexander dalam hal harus mati sunyi di negeri asing.

Sewaktu kembali ke atas kapal, Attar segera mengambil tanaman jarak dalam pot plastik yang daunnya telah kembali hijau segar. Pot beserta tanaman itu dia buang ke laut. “Aku tak punya kampung!” jeritnya sambil memegang kepala dengan napas tersengal.***

Padang, 30 Januari 2006
1. merana, menderita, sansai
2. orang tua yang membawakan sejenis prosa (sastra) lisan Minangkabau
3. menghalau burung dari sawah
4. pusaka, harta milik kaum yang diperuntukkan bagi perempuan
5. rindu
6. dengang, nyanyian Minangkabau
7. ramuan obat, biasanya berupa air yang diberi daun dan dimantrai

One thought on “Jarak

  • 17/04/2016 at 9:56 PM
    Permalink

    Keren…selalu terpesona dengan cerpen bang ade.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *