Lamno

Cerpen Arlen Ara Guci
Dimuat di Republika 03/04/2005

Meski rakit terkayuh, tapi Walis telah jatuh ke krueng, saat sepeda motor sumbangan Wapres hendak diseberangkannya ke kaki gunung Geurete. Bila seorang loreng itu tak mengulurkan tangan, alamat sepeda motor ikut terjun bebas ke dasar krueng yang baru jadi dibentuk oleh tsunami.

Sepuluh depa dari situ, camp loreng gagah menghadang ke samudera biru. Meski mereka puluhan, hanya satu membantu. Walis masih memahat kebencian pada semua yang ada. Mata elang Walis menghujam ke loreng yang berjasa menyeberangkan sepeda motornya. Tegur sapa pun tak ada di antara keduanya, saat pisah sambut itu usai.

Berbekal kuyup di badan, Walis memacu 80 km/jam di sepanjang lereng Geurete. Lintasan ingatan pada drama pilu di Geurete beberapa kurun silam, ketika GAM memuntahkan peluru dari puncak Geurete ke loreng-loreng yang sedang dititipkan tugas dalam paket DOM, tak menyiutkan nyali Walis memacu menuju Lamno. Bagi Walis GAM adalah saudara, loreng-loreng saudara juga, biru laut mengelilingi Banda, juga saudara. Siapa bersalah di antara ketiganya, kini justru membuat Walis meringis!

Mata Walis mulai berkaca hendak memasuki Meulha, karena Walis kembali menghirup anyir pahit yang sama, sejak dari Peukan Bada, Lhok Nga, Leupung, Lhok Seudu, Krueng Kala. Katanya, tahap darurat telah lewat, berarti evakusi tak ada lagi. Tapi, aroma itu, nyata-nyata masih ditemui juga.

Tak terhitung lagi jumlah petinggi negeri pulang-pergi menjenguk negeri Serambi. Masalah evakuasi, berapa jumlah jenazah yang ditimbun di Lambaro sebenarnya, Walis sinis, meski sekadar untuk percaya. Apalagi masalah jumlah pengungsi, aliran bantuan, barak, mustahil!

Meski dibesarkan di Banda, kecintaan akan tanah kelahiran sepanjang hayat di kandung badan. Walis mati-matian ingin membuktikan.

“Bang, bagaimana jadinya negeri Serambi…!?”

Geleng Walis di Meulego, Pendopo Gubernuran. Si Abang sebagai relawan menyayangkan sikap pejabat daerah terkesan lamban menenggarai korban yang selamat. Penanganan kelangsungan hidup antara ada dan tiada. Ragam bantuan, posko pengungsian adalah keakraban tak bertuan memayungi sepanjang siang-malam.

“Harus lewat jalurnya, Dek! Tau sendirilah macam mana sistem yang dipasang di negeri ini!”

Membubung sederas samudera sampai ke gendang telinga Walis, ketimpangan yang diberlakukan di negerinya. GAM, Darurat Sipil, Darurat Militer, sekalian Darurat Tsunami melengkapi patahan hati Walis memahami arti sebagai asli anak negeri.

“Tak ada yang lebih mencintai Aceh, selain putera Aceh itu sendiri. Para relawan yang datang dari berbagai pelosok negeri dan dari penjuru bumi, tak akan bertahan lama-lama di sini, suatu waktu, mereka akan kembali berkumpul dengan keluarga mereka, ke kampung asal mereka masing-masing. Kalau air mata telah banyak tumpah di negeri Serambi Mekah ini, darah juga sudah terlalu banyak tumpah di sini, yang kurang tumpah adalah tumpahan keringat!” seruan dai yang tengah naik pamor di negeri ini, menciptakan kepalan bulat-bulat, geraham Walis bertaut.

Pesan itu kembali menghampiri kupingnya saat sepeda motor yang dipacu kencang hendak memasuki Babah Dua menjelang petang.

Ditepikannya sepeda motor itu. Pendar pandangan Walis melumat di semua yang rata sudah dengan tanah. Terasa berat kaki Walis menginjakkan rumah Ahmad Amin, sepupunya, yang kini tersisa jenjangnya saja.

Ahmad Amin adalah sosok yang bisa dipercaya mewakili pemuda Lamno. Tak mau berdiam diri, selalu giat mencari, tepatnya pekerja keras.

“Sudah bertemu?”
“Belum.”
“Tak tanya sama orang desanya yang selamat?”
“Sudah, tetap tak ada.”
“Ke posko-posko pengungsian?”
“Sama saja.”

Keduanya hanyut mengenang Syuaibah, Inong mata biru berdarah Portugis, berumah di Kuala Daya. Di mana gerangan tergelimpang mayatnya, tak ada apapun yang bisa memberi kabar hingga masuk berbilang bulan lamanya.

“Sanak familinya tak satu pun yang selamat,” tutup Ahmad Amin hampa.

Rencananya hari raya haji kemarin, sepasang insan yang tengah digulung asmara ini akan disatukan atas nama perkawinan. Tapi, tsunami lebih dulu mengandaskan impian itu.
“Semua sudah rata!”

Keduanya mendekat ke Kuala Daya, tiba dekat pertigaan Ujong Muloh, dada Walis menyeruak sesak. Ada gedung berlantai dua miring retak menanti tumbang, itulah Pesantren Budi. Nurhida, kakak perempuan Walis semata wayang, pernah mencoba bertarung hidup dalam nyawa meregang ketika tsunami menerjang.

Tiga hari usai tsunami, selain pasar Lamno, hampir setiap sudut menjadi desa mati. Uluran tangan dari mereka yang selamat untuk mereka yang sekarat menipis. Puskesmas, saluran listrik, telepon, tak berfungsi sama sekali.

Semula orang menyangka Nurhida telah jadi mayat. Saat dijejerkan dalam kantong mayat, ada yang melihat kantong bergerak, pertanda Nurhida selamat, meski sama sekali tak lagi bersuara. Sekujur tubuh Nurhida lebam biru, kaki serta tangan dibalut darah kering, sebagian lain gosong dengan lumpur membalur. Saat tubuhnya diangkat, Nurhida layu seperti tak punya tulang, meski sekadar menegakkan punggung. Mata redup maut, bibir seakan berat dipaksa bergerak. Nurhida dilarikan ke Puskesmas dekat pasar, satu-satunya daerah tak dijangkau air maut itu. Di antara ratusan geletakan korban, perawat belum jua menyentuh Nurhida.

Malahan mereka gempar, saat tersiar kabar, air laut naik! Diboponglah tubuh Nurhida oleh Khairullah sepupunya, menaiki puncak bukit. Penduduk memekik menyelamatkan diri masing-masing.

Beberapa jam menunggu, ternyata kabar air naik isu belaka. Nurhida tambah tersiksa. Selama tiga hari itu tak ada nasi atau pun sepotong makanan yang masuk perutnya. Selama itu, Nurhida juga belum mampu sekadar bersuara. Tepat Subuh sedang bertabuh, Nurhida tak lagi kuasa menanggung segala.

Dan, Walis sekalian hendak menziarahi peristirahatan terakhir Nurhida, kakak yang sering memberinya petuah serta nasehat-nasehat akan kematian.

Kuala Daya juga rata sudah semua. Nyiur berbaris hijau yang dulu kemilau diterpa sang surya, kini sebagian berserakan, sebagian tertebang. Jalan-jalan rengkah malah berserak pindah beberapa lantak. Krueng Inong lalu lintas nelayan menjelma kubangan mayat. Kemana perginya udang-udang kesukaan yang selalu diburu Walis, ikan-ikan laut yang murah mengeluarkan aroma segar, karena tak perlu di es-kan seperti ikan-ikan kota, kemana lenyapnya perahu-perahu itu? Beribu gugatan, hanya disapukan angin buritan.

Di antara gunungan sampah, keduanya terus menyisir Lamno. Dari situ juga tampak satu camp loreng menghadang ke samudera. Walis meringis, sejak tsunami meluluh lantak negerinya, hampir setiap jengkal ditemuinya camp loreng-loreng. Tiada sedikit jua simpati menyirat di wajah mereka, selain pakaian kebesaran dan senapan. Walis muak menyemak menyaksikan semua itu.

Usai membasuh muka di puncak bukit, menengok makam Peutomeureuhom, keduanya berpisah di Babah Dua.

Hendak balik ke arah pasar, Walis menyaksikan para kaum ibu yang kini ditinggal mati suami ulah tsunami mengais sampah di pelosok Lamno.

“Bagaimana kabar ibumu?” salah seorang dari mereka mendekati Walis. “Hilang!”
“Bapak?”

“Bapak selamat sama adik dua orang. Kak Nurhida dan satu adik paling kecil ada ketemu mayatnya.”
Mata mereka berkaca. Walis sudah berjanji pada diri, tak akan mengeluarkan air mata bila kematian datangnya dari

Sang Pencipta kematian itu sendiri.
“Apa pekerjaan orang-orang sekarang?”
“Membersihkan sampah.”
“Siapa suruh?”
“Dibayar.”
“Sama siapa?”
“Panglima Laot.”
“Berapa?”
“35.000 rupiah perhari.”
“Uangnya darimana?”
“Tak tau!”

Dada Walis naik turun tak teratur, seakan tak ada lagi di tanah sendiri yang masih punya hati. Uang kini telah bicara atas nama kematian! Setidaknya itu pilu tak bertepi bagi anak negeri.

Di bawah siraman rembulan, Walis kembali menekan hati tak ada guna menitikkan air mata lagi. Gemintang tak kemilau menghadirkan risau. Di kaki bukit, Walis menanti pagi.

“Di sini berlaku jam malam!”
“Kenapa?”
“Kontak senjata!”
“Antara….!?”

Pagi merekah di Lamno, Walis sedang berziarah. Al-Quran mini digamit, bibit komat-kamit. Perlahan mendesah, kemudian menderas. Saat mentari pagi sepenggalan naik, Walis siap dengan kendaraannya kembali ke Banda. Di lereng Guerete, dar… der… dor…. Suaranya semakin nyaring. Walis terus memacu tak lagi peduli. Setiba di penyeberangan yang sama, loreng-loreng tengah berhamburan ke hutan-hutan.

Mereka siapa sebenarnya? Jaman begini sukanya main senapan!? batin Walis diterbangkan angin, sambil menarik tali gas.

Matahari menyisakan bayang setengah badan, ketika Walis memasuki kota Banda. Walis membujuk hati, kini saatnya berbunga, karena baru pulang dari tanah kelahiran, disitu asal muasal keluarganya. Sekaligus perjalanan perdana lewat darat usai tsunami.

Cerita ini akan diteruskan ke anak cucu, hiburnya pilu.

Sesampai di Seutui, Walis berhasil membuat bibirnya tersungging. Tak tahan sebungkus kebahagiaan baru saja direngkuhnya, Walis telah memekik dari kejauhan,

“Ayaaah…Ayaah…Walis pulang!”

Ushairy, adik laki satu-satunya membukakan pintu kayu,

“Lamno bagaimana, Bang?”
“Ayah kemana?”
“Temu kubur Kak Nurhida, Bang?”
“Ayah mana, Dek?”
“Inong mata birunya abis semua, Bang?”
“Ayah, dek!?”
“Bang, malam tadi Ayah…..”
“Kenapa!?”
“Dibawa…”
“Siapa…?”
Banda Aceh-Lamno, 02 Maret 2005
Hadiah cinta untuk adikku: Chairul Walis di Seutui. Percayalah, Allah begitu mencintai Banda Aceh dan seisinya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *