Malam-malam Tabu dan Puisi-Puisi Lain

Hatshepsut

kau menyaru Fir’aun, menduduki tahta kekuasaan
saat angin selatan pecah mengabarkan segala keganjilan.
lalu mantera-mantera digemerincingkan dengan
ketukan yang teramat magis. tak ada seorangpun yang
mengenalimu saat tongkat emas yang kau genggam
menghentak tanah. debu-debu beterbangan seperti lalat,
menelanjangi setiap pandangan mata.

petuah ibumu, Thutmosis II yang lemah,
selalu menjelma istana yang megah di kelopak telingamu.
mengaum-ngaum seperti harimau betina yang kelaparan.
kau lalu ditempa menjadi manusia baja, manusia setengah
dewa, manusia yang tahan dikurung dalam kerangkeng
penindasan sesadis apapun. hingga ibumu tutup usia,
kata-kata yang pernah terlontar dari kecubung bibirnya,
tak pernah menyusut dalam ingatanmu yang paling perawan.

kau kenakan pakaian kebesaran, lalu janggut Fir’aun
yang sangat jantan. mata tajam kau kepakkan seperti
jarum matahari yang dapat membakar apa saja.
dan ketika bilik sunyi kau datangi, baju kebesaran kau
tanggalkan. wajah jelita memantul di cermin hias dengan
begitu buas. kau lantas tersenyum, tersenyum dengan
senyuman yang seperempuan-perempuannya.

Pekanbaru, 2014

***

Malam-malam Tabu

dalam jeruji-jeruji kata yang memenjarakan geming
ada malam yang terlampau tabu untuk dikisahkan

malam itu, jarum jam mendesah rapuh
berceceran dalam embus badai setubuh

logika pecah menjeda sangka curiga
dalam ilusi, perjalanan bayang kian pasi
penuh imaji, namun gelap kian meneluh lenguh kita

aku dan kau masih bermain di beranda yang remang
beranda malam tempat melentingkan puisi jalang
biar peluh mericis, desah mantera tak henti di semburkan

selisir atap mengertap seperti lolong anjing
hingar mengecup di cabang bijih peluh kita

kita tertawa, meningkahi aroma ruang
menderas lumatan, dalam puncak birahi yang dikebiri

Pekanbaru, 2014

***

Venerable Bede

entah kuncup kembang mawar, entah mahkota kembang
tulip yang menumbuhkanmu menjadi biarawan kala itu.
sejak putihnya awan musim semi memayungi kepalamu,
dan kuku-kuku mentari setengah lingkaran berhenti mencakar
ubun-ubunmu. kau dimandikan dengan air telaga mantera,
dengan batang-batang lilin yang menyala benderang.

orang-orang gereja menamaimu sebagai ensiklopedia berjalan
yang bisa ditanyai apa saja, terutama tentang sejarah Inggris.
kaulah sejarahwan pertama yang menuliskan waktu peristiwa
dari masa kelahiran Yesus. kau tumbuh dan menua dalam
balutan firman-firman al-kitab yang paling suci.

kau seperti mutiara di atas gundukan pasir yang maha luas,
mengunggunkan sinar terang, seperti jemari-jemari kejora
yang memeluk Kitab Kells dari pulau Lona yang halamannya
dihiasi celtik, yang melukiskan wujud Santo Matius. sosokmu
begitu utuh dan sempurna, sesempurna Nabi Adam yang
pernah menetap di surga, atau sesempurna ketampanan Nabi
Yusuf yang digila-gilai kaum hawa?

Pekanbaru, 2014

***

Cileungsi
:vindi

cinta beraroma merah soka
pernah kita semai di sini
di pinggiran cileungli yang pikuk
kita berpelukan begitu rapat

‘vindi, i love you…’ desismu,
sepeti biasa, dengan nada klise,
tetapi selalu kurindukan

kau tanam purnama
ke tanggul dadaku yang kosong
sinarnya menerangi tapak kita
yang masih begitu belia
mengharumi pinggang tanah

lalu aliran parit di sekeliling kita
mendesaukan ricik beku
meningkahi rayuan paling gombal
dan percintaan paling labil

dan rimbunnya pohon cemburu
bertunas tiba-tiba
memaksa kriminal bercabang
tanpa menunggu logika menggugurkan
daun-daunnya terlebih dulu

ah, akhirnya jemari-jemari hitammu
sampai juga di jenjang leherku
kau cekik aku
lalu pukulan balok kayu yang menari-nari
menggenapkan usia tualang kita

Pekanbaru-Bogor 2014

***

Minamoto Yuritomo

aku ingin menceritakan tentang sketsa perang di puisi ini.
di mana kau ada di sana, mengenakan pakaian kebesaran di
suatu petang yang dingin. kau manfaatkan sengketa dan
kekacauan yang berkembang biak di ladang pertikaian yang
mengakibatkan runtuhnya kekuasaan klan Fujiwara, kala itu.
ambisi berbisamu terbang serupa kepak elang yang
menjerit-jerit karena dirubung busung lapar teramat sangat.

musuh-musuh yang membelatungi singgasanamu adalah
iblis-iblis penghianat, termasuk anggota keluarga besarmu
sendiri. mereka merayap seperti rayap yang menggerogoti
apa saja, termasuk bilik suci tempat kau memuja dewa-dewa.
kau menjelma samurai yang mengenakan pakaian besi,
mengibas pedang seperti aturan bushido yang sangat kejam
dan mengerikan.

kau terus berlari, menyibak duri-duri yang mencakar-cakar
kaki-kaki telanjangmu. hingga namamu berkibar dan menjadi
perbincangan hangat di setiap tempat peristirahatan, kuil dan
kelenteng. semua mengelu-elukan namamu sebagai jenderal
agung penakluk kaum barbar. dan kini, aku hanya mampu
membaca suratmu dari secarik kertas usang yang kutimang-timang saban petang. masih merekahkah senyum kembang
sakuramu di tempat peristirahatanmu yang terakhir kini?

Pekanbaru, 2014

***

Kuncup Dara Bunga Kantan

menelisik ke kedalaman relung matamu
perih berjelaga mengunyah bunga kantan
merebak tanpa aroma makam
napasmu tergolek dalam pasung
redup, murung, bercebis kulai azal

embus bersemu darah tlah kau dedahkan
pusara yang kau sakralkan dalam jantung
dalam lenguh, dalam keletup setubuh yang lepuh

sepuluh tahun lalu, aib itu kian bercabang kini
mengiris-iris saripati, kuncup dara bunga kantan

kau memagut kembang kenanga
di selasar kutukan yang semakin terbakar
dalam kamit yang tak letih kau manterakan
ada dendam yang tak pernah uzur melebur

risalah ini adalah hikayat ruang,
tlah lama menjelma bangkai dalam bayang
anyir, getir, pahit, sakit, umpama seduh empedu
namun kian bermukim dalam ruang pesakitanmu

kini, biarlah bunga kantan tetap jalang di kepalamu
melubangi dendam yang tak pernah mengatup kuncup
kendati tugur memagut, hingga kau mengisut
hingga kau berganti pakaian memungut maut

dalam lengang yang kian jenjang mengabadi
kita mendendang gamang di liang makam paling sunyi

Pekanbaru, 2014

Ahmad Ijazi H

Ahmad Ijazi H lahiran di Rengat, Riau, 25 Agustus 1988. Menyelesaikan S1 di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Di pengujung tahun 2013 puisinya "Kerinduan Anak Rantau" masuk 10 besar lomba menulis puisi nasional yang diselenggarakan oleh Tulis Nusantara berkerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Puisinya juga termaktub dalam antologi "Qasidah Lintas Cahaya" (2013), "Kutukan Negeri Rantau" (2011), "Give Spirit for Indonesia" (2011), "Tiga Biru Segi" (2010), "Ayat-ayat Selat Sakat", dll. Saat ini mengajar di Ponpes Al-Uswah Pekanbaru. Bergiat di FLP Riau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *