Mendedah Keunikan Tokoh Cantik Itu Luka

(RIAUPOS.CO) – Cantik Itu Luka merupakan novel fenomenal di awal tahun ini. Sudut pandang yang mengusik kebiasaan berfikir logis manusia dari segi psikis, mampu membuat nuansa berbeda dari novel lainnya. Sebagai salah satu komunitas sastra di Riau, Forum Lingkar Pena (FLP) Riau, membedah buku tersebut bersama penulis-penulis lainnya, Sabtu (2/4) di Rumah Sastra Riau. Kegiatan yang dilaksanakan secara terbuka dan untuk umum ini juga dihadiri FLP Kota Pekanbaru dan Ranting, penulis umum serta kelas menulis lainnya.

Agenda bedah novel ini bukanlah satu-satunya yang diadakan FLP Riau. Sebelumnya telah diselenggarakan bedah cerpen, puisi dan karya sastra lainnya baik dari penulis internal, lokal dan nasional. Kegiatan mingguan ini dihadiri oleh beberapa penulis seperti seperti Alam Terkembang, Nafi’ah Al Ma’rab, Rahmadiyanto dan sebagainya

FLP sendiri memandang novel ini menarik, karena selain mengusung nilai yang tidak biasa dengan tradisi ketimuran, namun ada sisi unik yang perlu diulas. Semisal konflik sosial kemasyarakatan dan budaya di luar ketimuran.

“Tokoh utama dalam novel ini memiliki sisi keunikan di luar nalar manusia, semisal oedipus kompleks, narsisme, kastrasi, fantasme, mitologi. Tak hanya itu, dari segi sosiologi pun tidak luput dari perilaku menyimpang si tokoh utama”, kata Bambang Kariyawan saat membedah tokoh utama dalam novel tersebut.

Cantik Itu Luka, mendapatkan penghargaan di tingkat internasional “Worlds Readers”. Pada 22 Maret lalu. Dalam sambutannya, penulis novel mengatasnamakan dirinya sebagai sastrwan Indonesia. Hal ini dapat menimbulkan anggapan tentang gambaran masyarakat Indonesia di mata internasionl yang sangat bersebrangan dengan watak aslinya.

Menurut Bambang Kariyawan, meskipun hanya fiksi, namun sedikit banyaknya menggambarkan kondisi masyarakat dalam anggapan pembaca. Tak hanya Bambang Karyawan, Alam Terkembang dalam tanggapannya pada agenda tersebut mengatakan, jika terlalu di gemborkan, akan menjadi trend di kalangan penulis pemula. Dan ini bisa menjadi referensi kuat dalam pembentukan karakter penulis baru. Perlu adanya tindakan dari penulis-penulis lain yang melakukan semacam penyeimbang untuk meredam novel tersebut.

“Persoalan semacam ini ada dalam masayarakat kita, namun cara penggunaan bahasa dalam menyampaikannya perlu kesopansantunan serta muatan pesan positif,” ungkap Sugiarti, Ketua FLP Riau.

Pada saat penutupan, Bambang Kariyawan membeberkan pelajaran yang bisa diambil untuk sastrawan Riau di antaranya adalah kesantunan yang menggigit kental dimiliki oleh sastrawan Riau hendaknya menjadi modal utama untuk bisa dilirik dunia. Warisan kekayaan budaya literasi mengendapkan benih-benih gairah dalam menuliskan karya-karya. Budaya santun berbahasa menjadi pembingkai untuk menghasilkan karya-karya jujur dan berbudaya.

Salah satu komunitas menulis di Riau adalah FLP Riau yang mengambil peran dalam hal ini untuk membuka pintu dunia dengan membentuk devisi penerjemahan karya. Sehingga mebuka pintu luas untuk dilirik dunia. Harapan ke depannya dari konsistensi berkarya dengan terus menggali segala potensi lokalitas di bumi bertuah ini dipoles dengan penerjemahan karya, maka akan lahirlah karya-karya sastrawan Riau yang mendunia. (jef)

Sumber: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=107606&page=2#.VxUDm9R97IU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *