Senja yang Lain

Puisi Ahmad Ijazi H
Dimuat di Riau Pos, 23 Agustus 2015

/1/
Pernah kau kisah tentang tanah,
ke lekuk telingaku
yang masih merah,
lalu bukit hijau
tempat muasalmu singgah.
di sana, kau memahat batu
dengan kepingan darah.

kenangmu terkubur
bersama embus badai,
namun jejakmu kian menjenjang,
deras, melayari lautan abu
yang lipir membasahi
tapakmu sepanjang pelintasan empedu.
Ianjo bordil: di sanalah sejarahmu
terbentang dengan begitu jalang.

“kita akan menuju surga,”
bisikmu, sendu.
kau timang aku di rahimmu
yang gembur.
harummu merimbunkan paruhku.
kita menapak bersama: tertatih,
menyimpul kibaran angin
yang tak pernah selingkuh
melagukan tembang rindu.

di bilik pendebah,
kau kenyang memagut senguk
: mengenali warna kodrat
dengan ricik air mata
yang kian menua.
kau baui aroma diri
dengan mantera yang tak pernah putus
dihitung dari perih ke perih.
begitulah riwayat sukmamu memuai
bersama bilur-bilur luka,
serta cinta yang semakin lapuk
dan usang.

/2/
Di senja yang lain,
kau bisikkan nama lakimu.
katamu, dia begitu jantan.
ia meminangmu di usia
yang belum lagi matang.

dengan seikat kembang,
kau dijunjung di pundaknya.
kau dilabuhkan
pada gelembung dadanya
yang begitu tenang dan mulia.
karang-karang tabahnya
menaungimu dengan nyawa
yang tak pernah mengeluh.

“bahkan, dia telah menanamkan
seluruh rusuknya untuk menghidupiku,
juga kau,” bisikmu, getir,
mengenang muara
yang telah begitu jauh kau tinggalkan.
dan kau menjelma
wanita paling bahagia
di antara kembang yang tumbuh
di atas permukaan bumi.

/3/
Tibalah di malam yang ganjil,
kabut menelanjangi
setiap inci nestapamu.
purnama kisut dicerabuti gerhana.
sementara jantungmu
yang tinggal separuh kian susut
membilang cahaya yang wajalla.
ranjangmu menjerit
memanggil kawanan malaikat,
tetapi yang hinggap
hanya kelebat muslihat
yang riuh memecah-mecahkan
syahadat.

“aku Momoye, Jugun Ianfu
yang ditakdirkan
melayari asin sungai kehidupan,
dengan dahaga
yang kian bertambah-tambah
sepanjang usia, Nak,” getirmu
pada hitam tuba yang tak pernah sepi
menyergap rakaat nestapa.

tak dinyana,
lakimu yang merumput
di ladang Romusha itu
menyambang humamu:
memerlihatkan warna kerangka utuh.
ia kalap saat mendapatimu bulat
digembalai cumbu.

dengan cengkeram paling binasa,
ia cekik serdadu yang mabuk
menciumi punggung.
kepalnya gemeretak,
membengkokkan rahang lawan.
tapi sebutir timah panas menyalak,
menyisa liang pelipis mata.

harum darah semerbak.
lakimu rubuh, memauh azal
di pangkuan Izrail
yang gaduh menggemerincingkan
lonceng abadi.

/4/
Pada akhirnya,
di punggung kapal
Nichimarulah kau dipasung.
betina berkepala ular mengitarimu,
menumpahkan anggur aroma keranda.
arus kepedihan intim
mengombang-ambingmu
menyiangi teluk paling sesat.
kau sakau memertahankan roh
yang tinggal separuh,
saat aku yang masih sebongkah daging
dikeruk dari ceruk rahimmu
yang tetap tabah
meski digelungi buntalan kabut.

“kutahu, nirwana sejengkal lagi, Ibu.
kendati jasad kita akhirnya kembung
dirasuk air, tetap riaknya yang beribu
memberkati tualang kita
hingga usai.”

2014/2015

Catatan:
Jugun Ianfu: wanita-wanita yang dijadikan budak seks, pemuas nafsu para serdadu-serdadu di masa penjajahan Jepang, perang dunia II.
Ianjo Bordil: asrama, tempat perbudakan seks.
Momoye: panggilan kepada wanita yang dipaksa mengabdi sebagai budak seks
Romusha: kerja paksa bagi pria dewasa pada masa penjajahan Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *