Spiritualitas Masyarakat Sunda

Esai Wildan Nugraha
Dimuat di Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 4 September 2011

KETIKA berkunjung ke Bandung pada 1921, George Celemenceau, Perdana Menteri Prancis kala itu,  menyatakan bahwa Bandung adalah The Garden of Allah. George Celemenceau terpesona akan lingkungan alam Jawa Barat yang asri dikelilingi gunung menjulang, berhutan rimbun nan hijau, kaya mata air panas ataupun dingin.

Bagi orang Sunda, lingkungan alam yang harmonis membentuk diri dan pandangan hidupnya. Kecenderungan spiritualitas Sunda yang kental tercermin dari nilai-nilai moralitas positif. Ini dapat ditelusuri dari naskah-naskah Sunda kuno, misalnya Amanat dari Galunggung. Naskah ini berisi pedoman bagi para pemegang kekuasaan. Dinyatakan bahwa apabila ingin menang perang, jangan suka bentrok, berselisih maksud, saling bersikeras hanya pada keinginan sendiri.

Diajarkan pula agar orang Sunda berjiwa seperti padi, semakin berisi semakin merunduk; dan seperti sungai (patanjala), yang airnya terus mengalir dari hulu ke hilir sampai tujuan, yakni di muara.

Dengan pandangan hidup demikian, hidup dan kehidupan orang Sunda cenderung rendah gejolak, tipis friksi, jauh sengketa, familiar, dan kolegial.

Dari penelusuran sejarah, religiositas orang Sunda berasal dari Hindu (abad ke-5 s.d. abad ke-7), lalu Budha, dan berakulturasi dengan budaya spiritual Sunda (nilai-nilai kepercayaan pada Tuhan) sehingga menghasilkan akulturasi tiga sistem religi: Hindu, Budha, dan kepercayaan asli Sunda.

Sunda dan Islam

Kemudian, Islam masuk mewarnai spiritulalitas orang Sunda. Orang Sunda yang telah memiliki kecenderungan spiritual religius menerima dengan damai ajaran Islam. Sebagian orang Sunda masih menggenggam nilai-nilai ajaran buhun (lama). Mereka menyembah atau menghormati arwah leluhur dengan pelbagai praktik ritual yang bertahan dan melembaga secara turun temurun. Misalnya, pada masyarakat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Demak, Banten Selatan.

Dalam kehidupan sehari-harinya, masyarakat Baduy memiliki berbagai pantangan (tabu). Pantangan ini didasarkan pada aturan-aturan adat (pikukuh) yang diwariskan oleh leluhur. Mereka beranggapan bahwa mereka tinggal di daerah yang suci atau sakral. Menurut kewajiban sosial, mereka harus memelihara adat yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur. Berdasarkan adat itu, mereka harus hidup sederhana dan bekerja keras secara saksama yang disebut tapa. Melalui tapa, mereka menghindari hidup mewah dan tidak mau meramaikan negara. Menurut ungkapan Baduy, mereka lebih menekankan hidup jujur (bener) daripada hidup pintar, tetapi pandai menipu (pinter henteu bener). Dalam perkembangannya, ajaran Islam mewarnai agama Sunda wiwitan yang dipeluk oleh masyarakat Baduy.

Bagi masyarakat Baduy, berladang (ngahuma) merupakan kegiatan utama yang diajarkan oleh agama Sunda wiwitan. Berbagai upacara adat yang mereka selenggarakan, seperti ngalaksa dankawalu, terintegrasi dengan ngahuma. Upacara kawalu dianggap sebagai cara persembahan kepada nenek moyang (karuhun) setelah panen padi. Upacara kawalu di Baduy dipimpin oleh pemimpin agama yang disebut Puun. Sementara upacara ngalaksa dipimpin oleh staf Puun yang disebut Jaro Dangka.

Di dalam praktik berladang (ngahuma), mereka memercayai adanya Dewi Padi yang disebut Pohaci Sanghyang Asri atau Nyi Pohaci. Menurut kepercayaan masyarakat Baduy, Nyi Pohaci tinggal di Kahyangan yang dianggap tempat asal roh manusia. Mereka sangat menghormati Nyi Pohaci karena, menurut mereka, dengan cara demikianlah mereka akan mulia. Mereka juga berharap bahwa kelak jika meninggal, rohnya akan ditempatkan bersama-sama dengan Nyi Pohaci.

Menurut adat masyarakat Baduy, bertani sawah (nyawah) menggunakan teknologi, seperti cangkul, pupuk kimia, pestisida, serta meracuni satwa liar dan ikan merupakan pantangan (tabu)—teu wasa. Mereka menghindari hal-hal tersebut karena dianggap sebagai tradisi baru. Sebaliknya, ngahuma dianggap sebagai kewajiban dalam agama mereka. Maka setiap tahun keluarga Baduy harus mengarap ladang.

Ngahuma, dengan demikian, selain memiliki fungsi identitas dan spritualitas, juga memiliki fungsi ekonomi. Kendati secara ekonomi berladang tidak atau kurang menguntungkan, praktik ini harus tetap mereka lakukan sebagai kewajiban. Hal itu tentu saja dinilai tidak lazim oleh pandangan ekonom Barat yang mendasarkan pemikirannya pada perilaku ekonomi modern (formalis). Perilaku berladang masyarakat Baduy bisa langgeng karena mereka menerapkan pola ekonomi substantif dan sangat terikat dengan budaya setempat (embedded in culture).

Uga sebagai ramalan

Dalam dinamika spiritualitasnya, orang Sunda percaya kepada uga, yaitu ketentuan takdir yang dilahirkan dalam bahasa perlambang yang harus ditafsirkan dengan tepat. Sampai sekarang, masih ada sekelompok orang Sunda (misalnya di Kabupaten Sukabumi) yang selalu berpindah-pindah tempat tinggal sesuai dengan petunjuk uga. Menurut uga, mereka baru akan menetap dan negara akan makmur sentosa apabila mereka sudah menemukan Lebak Cawene (Lembah Perawan) sebagai tempat tinggal.

Ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam uga biasa digunakan orang-orang tua untuk memahami “tanda-tanda zaman”, meramalkan adanya suatu perubahan sosial, politik pada masa yang akan datang, di lingkungan mereka tinggal. Kata-kata yang dipergunakan sederhana, dalam bahasa sedang atau kasar (menurut tingkatan bahasa dalam bahasa Sunda).

Selain aspek simbolis, dalam uga terkandung unsur waktu. Dalam tradisi Sunda ada ungkapan, “Geus nepi kanan ugana, geus nepi kanan waktu anu ditujum ku karuhan” (Sudah sampai pada uga-nya, sudah tiba pada saat yang diramalkan leluhur). Ini menunjukkan bahwa dalam ramalan berbentuk uga, faktor waktu merupakan sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Akan tetapi, unsur waktu yang terkandung dalam uga bersifat tidak pasti; artinya, bisa terjadi kapan saja, besok atau lusa, tahun depan, atau mungkin tidak pernah terjadi.

Bandung heurin ku tangtung” (Bandung penuh sesak dengan bangunan) merupakan sebuah contoh uga yang ringkas dan populer. Sebuah kondisi yang diramalkan para karuhun Sunda zaman dahulu dan kurang lebih telah terbukti terjadi sekarang dengan berbagai konsekuensinya.***

 

Wildan Nugraha

Wildan Nugraha lahir di Bandung, 12 September 1982. Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Bergiat di Komunitas Titikluang dan Forum Lingkar Pena, Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *