purnama di sungai indragiri dan sajak lain

purnama di sungai indragiri

hamparkanlah wajahmu
ke bubungan langit malam
purnama sedang tersenyum menatapmu
sementara aku kian menjahit rakaat sepi
dalam bisu yang semakin bercabang

lihatlah langit
yang kini berkerudung jingga
kelelawar mendesau seperti angin
mengikis sendu yang semakin berlarian
di denyut jantungku yang berbicara

lihatlah sungai indragiri ini
pesona purnama membias di gelembung air
di sana wajahmu meraut serumpun kebahagiaan
dalam senyum dan tangisku yang semakin mengudara

pekanbaru, 2012

***

lalu mati

masih kusimpan sesal
yang dulu pernah kau semai di ladangku
dengan segenggam luka

kala cinta telah pergi
kau pun membalut pilu sendiri
sementara di kejauhan
bilur-bilur harapan melirik penuh iba
akankah dusta telah melumpuhkan
perasaaan kasihmu?
hingga matamu yang bening
mengatup, kuncup, kering
dan lalu mati?

pekanbaru 2012

***

pada langit

ada bayangmu yang mengayuh sampan
di hamparan samudera luas itu
senyumku patah

adalah janjimu: mengayuh hingga ketepi,
kendati jasad hanya menyisa bayang
suaramu pun hilang

dan aku akan selalu memandang langit,
meski tak mungkin jemariku merengkuhnya
pada biru di gelombang laut,
kulepas rinduku…

pekanbaru 2012

***

wajahmu yang mekar

aku menatap wajahmu yang mekar
kelopak cahaya menari-nari di dalamnya
aku terpana tanpa redup
mematung seperti tugu di bundaran kota

ah, kau raut lagi sekuntum senyum untukku
sementara matamu menengadah ke lekuk awan
burung-burung merentang sayap di atas kepala
seperti menggoda kita

kau tersenyum lagi
lalu merentas segenggam kenangan
di kilat matamu yang paling membahagiakan

pekanbaru, 2012

***

layar

kubaca lagi isyarat layar di kejauhan
:pilu

kupandang semakin mengecil ia
jauh. pergi
akankah kembali lagi,
atau menikung kemudi?

ah, layarku sendiri belum kukembangkan
sementara pasang telah naik ke atas perahu,
seraya membisik sesal pada senja:
kekasihmu telah pergi

pekanbaru 2012

***

asin laut

lihatlah asin laut,
yang jauh melawat pada bubung langit
dan kembali dalam tawar
yang menyuburkan tanah retak
pucuk-pucuk kayu kerontang pun
kembali bertunas…

pekanbaru 2012

Ahmad Ijazi H

Ahmad Ijazi H lahiran di Rengat, Riau, 25 Agustus 1988. Menyelesaikan S1 di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Di pengujung tahun 2013 puisinya "Kerinduan Anak Rantau" masuk 10 besar lomba menulis puisi nasional yang diselenggarakan oleh Tulis Nusantara berkerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Puisinya juga termaktub dalam antologi "Qasidah Lintas Cahaya" (2013), "Kutukan Negeri Rantau" (2011), "Give Spirit for Indonesia" (2011), "Tiga Biru Segi" (2010), "Ayat-ayat Selat Sakat", dll. Saat ini mengajar di Ponpes Al-Uswah Pekanbaru. Bergiat di FLP Riau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *