Memanggil Rantau

Cerpen Gusrianto
dimuat di annida-online.com, 10 Oktober 2010

ilustrasi (sumber: www.annida-online.com)
ilustrasi (sumber: www.annida-online.com)

Pak Muncak duduk semakin gelisah.

Suara riuh pengunjung warung yang sedang mengadakan rapat dadakan itu mengelu-elukan namanya. Penuh semangat. Bukannya senang, Pak Muncak malah merasa dirinya terpojok. Serba salah.

Menyesal dia pergi ke warung.

“Pokoknya Pak Muncak harus maju, saya yakin tidak ada lagi yang lebih mampu dan lebih kompeten.” Suara Sutan Siri yang duduk di deretan tengah warung mendapat tepuk tangan menggema. Kedai kopi yang berukuran sempit itu seakan mau pecah dengan suara-suara sorakan peserta rapek mancik itu.

Jarum jam tepat berada di angka sebelas malam.

“Ya, tiada yang lebih pantas selain Pak Muncak, kita sudah mengenalnya lebih dari berpuluh tahun. Jika kita tidak mencalonkan beliau, pasti Datuak Permato dengan mudah akan memenangkan pemilihan kali ini.” Suara Datuak Palimo mencuat diantara teriakan-teriakan itu.

Pak Muncak semakin resah.

“Bagaimana Pak Muncak? Bapak bersedia untuk mencalonkan diri? Saya jamin Bapak pasti menang tanpa perlawanan  berarti, hanya Datuak Permato yang jadi saingan Bapak. Tapi kami yakin, suaranya tidak akan seberapa. Bapak bersedia, bukan?” suara Haji Mambang yang sepertinya sudah didaulat untuk menjadi pemimpin rapat membuat duduk Pak Muncak menjadi semakin tidak tenang.

Angin malam menerobos ke dalam warung. Dingin.

Pak Muncak berkeringat.

“Begini Pak Haji, ambo tidak mau buru-buru menjawab, bagi ambo ini bukan perkara kecil, ini adalah amanah yang berat, berikanlah ambo waktu beberapa hari ini untuk berpikir.” Pak Muncak memberikan jawaban. Cukup diplomatis. Dan sidang darurat alias rapek mancik yang dimulai usai shalat tarawih tadi pun ditutup sampai di situ.

Tergesa Pak Muncak melangkahkan kakinya meninggalkan warung. Jangan sampai ada yang bertanya lagi. Dia tidak siap menjawab. Dan dia memang tidak ingin menjawab.

Begitu banyak warga desa yang ingin dirinya maju untuk menjadi salah seorang calon dalam pemilihan kepala desa setelah lebaran nanti. Sudah lebih sebulan jabatan itu kosong. Kepala desa yang lama meninggal dunia, serangan jantung. Ketahuan korupsi oleh warga, menyalahgunakan uang santunan masyarakat miskin.

Apakah dia memang layak? Pak Muncak menggeleng sendiri. Tidak! Dia sungguh-sungguh tidak layak. Bagaimana mungkin dia akan menjadi orang nomor satu yang akan memimpin ratusan kepala di desa itu jika mengendalikan empat kepala saja dia merasa gagal?

***

“Uda yakin…?” kening Mak Odah berkerut. Sepertinya ragu dengan usul yang baru saja diutarakan Pak Muncak, suaminya.

“Tidak ada cara lain, Odah. Aku yakin ini akan berhasil.” Pak Muncak menyandarkan tubuh ringkihnya ke sandaran kursi kayu yang sedang didudukinya. Matanya menatap ke luar dari daun jendela rumah gadang yang belum ditutup. Angin malam yang dingin menerpa tubuhnya yang hanya mengenakan sehelai sarung, tapi Pak Muncak sama sekali tidak merasakan dingin, sudah terbiasa. Dua orang laki-laki yang baru pulang minum kopi di warung ujung desa lewat di depan rumahnya dan berteriak memanggil Pak Muncak. Pak Muncak menyahut, lalu kemudian matanya menatap ke langit yang malam ini dipenuhi bintang.

Rindu pun menyeruak.

Mata Pak Muncak tidak berkedip saat matanya melihat empat buah bintang yang paling dekat dengan bulan berkedip-kedip ke arahnya. Keempat bintang itu saling berkejaran, bersembunyi dan kemudian ke luar lagi dari balik rembulan. Satu bulir bening tiba-tiba jatuh menuruni pipi Pak Muncak.

Mak Odah bergegas menutup daun jendela. Kebiasaan suaminya memang begitu. Setiap menatap angkasa malam dan bercengkerama dengan bulan bintang, air matanya pasti menetes. Ah, bukankah aku juga begitu? pikir Mak Odah. Hanya saja dia lebih bisa menyembunyikan hal itu.

“Apakah harus dengan perceraian?” Mak Odah duduk di samping Pak Muncak. Pak Muncak kaget. Buru-buru menghapus air mata di pipi. Sama sekali tidak disadarinya keempat bintang yang tadi menyapanya sudah hilang terhalang daun jendela.

“Aku hanya ingin mereka pulang, Odah. Aku tidak ingin mengecewakan para warga. Keinginan mereka untuk mencalonkanku begitu kuat. Tapi aku merasa tidak pantas, Odah. Aku merasa sangat tidak pantas jika mereka tidak pulang lebaran ini. Aku….ah tidak… kita Odah, kita sebagai orang tua telah gagal.”

“Tidak bisakah dengan kata-kata lain? Mengapa harus kata cerai, Uda? Bagaimana nanti jika malaikat mengaminkan?”

“Tuhan mengetahui niatku Odah, Tuhan tahu apa isi hati kita. Menurutku itu yang paling baik. Odah, sudahlah, tolong ambilkan buku tulis di atas meja kamar, penanya ada dalam kantong bajuku. Besok akan kukirimkan semua.”

***

Pak Muncak kembali memandang keempat amplop putih di tangannya.

Empat amplop.

Empat alamat tujuan.

Satu pengirim.

Amplop pertama untuk Syahrul. Yogyakarta. Sudah lebih sepuluh tahun si sulung itu di sana. Punya seorang istri, empat orang anak. Hanya anak tertua yang dikenal Pak Muncak, cucu tertuanya. Itupun saat berumur 3 tahun. Sekarang mungkin sudah SMA.

Amplop kedua untuk Yusrizal di Pontianak, Kalimantan Barat. Sejak tamat kuliah dari STT Telkom Bandung tujuh tahun lalu, dia langsung dapat pekerjaan di Pontianak. Pernikahannya dengan gadis Pontianak dan kelahiran kedua orang anaknya hanya dikabarkan lewat surat.

Amplop ketiga tertuju ke kota Jakarta, untuk Siti Rohani. Terakhir Pak Muncak bertemu dengannya lima tahun lalu. Saat itu Siti memutuskan untuk menikah padahal kuliahnya di Universitas Indonesia belum lagi rampung. Sekarang Siti juga mempunyai dua orang anak. Pak Muncak hanya melihatnya lewat foto yang dikirimkan.

Yang terakhir, amplop keempat, ditujukan buat si bungsu di kota Medan, Muhammad Adnan. Adnan kuliah di universitas nomor satu di luar pulau Jawa, USU. Bekerja dan menikah juga di kota Medan. Sudah hampir empat tahun Pak Muncak tidak melihat wajah Adnan, bahkan menantunya yang bermarga Lubis dan telah memberikannya cucu nomor sembilan pada lebaran tahun lalu sama sekali belum pernah bertemu dengannya.

Tahun berganti tahun, lebaran demi lebaran dilewatinya berdua dengan Mak Odah. Hanya amplop-amplop putih yang bertandang ke rumah gadang miliknya setiap lebaran tiba.

“Maaf Bapak, maaf Mak, tahun ini tidak bisa pulang, pekerjaan tidak bisa ditinggalkan.”

“Pak, Mak, si bungsu baru saja sembuh dari sakit, tidak mungkin diajak melakukan perjalanan jauh.”

“Waktu cuti hanya tiga hari Pak, Mak, tidak sempat untuk pulang kampung.”

“Lebaran ini saya berlebaran di rumah mertua lagi, mudah-mudahan tahun depan kami bisa pulang kampung.”

Pak Muncak sangat hafal sekali dengan semua isi surat-surat itu. Tiap tahun dia selalu mendapatkan hal senada, dengan alasan yang selalu berubah, kadang sama.

Keempat anak itu seakan tenggelam di rantau. Padahal tidak hanya dia dan Mak Odah yang merindukan mereka. Rumah gadang juga. Sungai di kaki bukit juga. Pohon mangga di tepi sawah pasti juga merindukan lemparan-lemparan mereka.

Entah apa yang membuat mereka begitu betah di rantau dan melupakan tanah kelahiran. Apakah karena kampung ini masih tertinggal jauh dari kemajuan? Memang belum ada listrik yang menerangi kampung ini, belum ada sinyal sehingga HP tiada berguna di sini. Atau mungkinkah karena rupiah yang telah membuat mereka enggan balik ke desa?

Makanya Pak Muncak bertekad, tahun ini mereka harus pulang. Cukup sampai di sini dia gagal. Tak kan terulang lagi kesalahan itu. Dia juga tidak ingin mengecewakan para warga. Aspirasi warga yang ingin dia maju pada pemilihan nanti akan dipenuhinya dengan satu syarat, keempat anaknya pulang lebaran ini.

Lalu surat yang biasanya berisi kalimat, “Apakah lebaran ini kalian pulang”? Kali ini ditukar oleh Pak Muncak dengan kalimat, “Pulanglah, sehabis lebaran nanti aku dan mak kalian akan bercerai.”

Pak Muncak yakin, lebaran kali ini rumah gadang akan dipenuhi teriakan anak-anak, cucu-cucunya.

***

Keempat surat telah terkirim. Kini Pak Muncak tinggal menunggu. Surat itu pasti telah diterima oleh keempat anaknya. Dia mengirimkannya dengan pos kilat khusus. Satu minggu lagi lebaran menjelang. Pak Muncak sudah tidak sabar untuk menghafal satu persatu nama-nama cucunya.

Para warga juga semakin gencar melakukan pendekatan pada Pak Muncak. Mereka sama sekali tidak melihat calon lain. Sudah berkali-kali Pak Muncak menolak dengan halus.

“Ambo merasa tidak pantas.” Begitu katanya saat Haji Mambang datang ke rumah sore itu.

“Tidak pantas bagaimana? Dari semua orang yang kami pantau, Bapak yang paling pantas.”

“Tapi Pak Haji….”

“Pak Muncak, keberhasilan keempat anak bapak menjadi orang, menjadi bukti kuat bagi kami kalau Bapak adalah contoh figur yang sangat pantas memimpin desa kita.”

Teriris.

Sakit.

Mungkin Haji Mambang tidak merasakan, tapi Pak Muncak begitu tertoreh ketika dia dikatakan berhasil membuat anaknya menjadi orang.

Memang keempat anaknya sarjana, bahkan ada yang S2. Memang keempat anaknya telah bekerja dengan gaji yang tinggi, bahkan jauh lebih dari cukup. Tapi keempat anaknya juga seperti kacang yang lupa kulitnya. Keempat anaknya juga….

Ah…Pak Muncak merasa benar-benar telah gagal.

“Jadi kapan Bapak akan memutuskan? Kami sangat berharap Bapak maju.”

“Tunggulah setelah lebaran Pak Haji, tunggulah setelah keempat anak ambo pulang, ambo ingin membicarakan dulu dengan mereka.”

***

Pak Muncak duduk di balik jendela rumah gadang sambil tersenyum. Rumah gadang sepertinya juga tengah tersenyum. Pak Muncak memandang para bocah-bocah saling berteriak dan berkejaran di halaman. Sesekali terdengar teriakan marah. Sesekali terdengar pertengkaran. Suara saling berebutan. Tak jarang ada yang menangis sambil berlari kepangkuan ibunya. Pak Muncak sangat bahagia.

“Assalamualaikum…” dua orang dengan bawaan lumayan berat memasuki halaman rumah gadang sambil tersenyum. Meski lelah, mereka tampak bahagia karena akhirnya sampai untuk melepaskan penat yang mendera.

“Adnan! Alhamdulillah…..” seperti terbang Pak Muncak berlari menuruni anak tangga. “Odaaaah… capeklah kau kamari! Anak kau alah pulang!”

Pak Muncak langsung memeluk Adnan dengan erat. “Waang nan paliang dakek, tapi waang nan paliang lamo tibo.” Pelukan Pak Muncak makin erat.

Sementara itu Mak Odah muncul di pintu rumah gadang. Tak kalah histerisnya, dia berteriak memanggil Adnan. Belum selesai dia menuruni semua anak tangga, tangisnya sudah pecah.

Syahrul, Yusrizal dan Siti saling  pandang dari atas rumah gadang. Tempo hari, mereka juga diperlakukan sama oleh Pak Muncak dan Mak Odah. Satu pertanyaan yang sampai detik ini masih belum terjawab oleh mereka, benarkah Bapak dan Mak akan bercerai?

***

Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Sayup-sayup suara takbir masih bergema dari mesjid di ujung desa. Pak Muncak dan Mak Odah masih duduk di bangku halaman rumah. Berdua saja. Belum sampai lima belas menit yang lalu anak-anak mereka dan cucu-cucunya berangkat tidur, kelelahan setelah tadi sama-sama bermain kembang api di halaman sambil meneriakkan takbir bersama-sama.

“Kapan uda akan bicara?” Mak Odah berbisik.

“Entahlah Odah, jika tanpa membicarakannya hidup kita akan berjalan seperti dua hari ini, maka aku lebih memilih diam.”

“Tapi mereka semua sedang menunggu itu. Kita harus memberitahu masalah perceraian dalam surat itu.”

Pak Muncak memandang langit malam. Berjuta bintang kedip-kedipan di angkasa.

Rindu itu kini sudah bermuara.

“Tadi Siti menyinggung masalah itu di dapur. Aku hanya diam, tidak tahu harus mengatakan apa. Jadi sebaiknya Uda segera mengatakan hal yang sebenarnya pada mereka.”

“Besok Odah… besok sepulang shalat id di tanah lapang, aku akan mengatakannya.”

“Bagaimana dengan pemilihan kepala desa nanti? Uda akan maju?”

“Janjiku dalam hati memang begitu, jika semua anakku pulang lebaran ini, aku akan maju, tapi semua ditentukan besok Odah, setelah aku bicara dengan mereka.”

***

“Apakah kalian setuju jika kami bercerai?” itu kalimat pertama yang diajukan Pak Muncak setelah semua anggota keluarga berkumpul membentuk lingkaran di ruang tengah rumah gadang.

Setelah melaksanakan shalat id di lapangan. Setelah saling bermaaf-maafan. Setelah memakan sepiring ketupat yang sudah dimasak Mak Odah dan Siti sejak kemarin. Pak Muncak mengumpulkan semua anak-anaknya di ruang tengah rumah gadang. Hanya anak-anak. Para cucu dan para menantu bermain di halaman.

Pak Muncak memandang keempat anaknya satu persatu. Mak Odah menunduk dengan resah. Apakah suaminya akan marah? Atau sebaliknya?

Dan empat orang yang seakan seperti terdakwa, menunggu dengan dada berdebar tak karuan. Cerai…. Semoga bukan itu yang akan dikatakan Bapak.

“Aku dan Amak kalian sangat senang. Kalian semua telah berhasil menjadi orang.” Pak Muncak memulai pembicaraan. Datar. Tenang. Tanpa ekspresi. “Banyak yang mengatakan kami orang tua paling berhasil membina rumah tangga. Semua anak sudah sarjana dan punya pekerjaan dengan gaji tinggi. Sekarang kami tidak perlu lagi mencangkul di sawah, tiap bulan kami mendapatkan kiriman rupiah yang tidak sedikit.”

Keempat kepala di depan Pak Muncak duduk dalam diam. Masih bingung. Kemana arah pembicaraan Pak Muncak? Semua bertanya dalam hati. Di bagian mana nanti masalah perceraian itu akan dibahas?

“Merantau adalah tradisi kita orang minang, pemuda pemudi minang bahkan malu jika sudah besar masih berada di bawah ketiak orang tua. Dan kalian kembali membuat para tetangga bangga pada kami, semua anak kami berhasil di rantau.”

Keempat kepala di depan Pak Muncak masih diam dalam bingung.

“Tapi kalian melupakan satu hal…” Pak Muncak berhenti, seakan sengaja menggantung apa yang mau dikatakan berikutnya. Keempat kepala mendongak. Melupakan apa? “Lebaran ini kalian pulang semua, pasti karena kami akan bercerai. Sekarang aku tanya, apakah kalian tetap akan pulang jika surat itu tidak kukirimkan?”

Suara itu kini mulai meninggi. Pertanyaan sinis itu dilepaskan dengan cepat, dan tepat mengenai sasarannya. Memang itulah alasan mereka pulang, mencegah perceraian itu tidak terjadi.

“Bangau saja yang bisa terbang sejauh masih ingat kubangan tempat dia berasal.”

Kalimat itu kini seperti silet yang menyayat dengan cepat. Saking cepatnya tidak ada yang merasakan sakit, tapi darah sudah mulai menetes.

“Kami menyekolahkan kalian agar menjadi terpelajar. Tahu bagaimana cara berbakti pada orang tua. Tapi ternyata kami gagal. Orang sekampung bangga melihat kami, mengira kami berhasil menjadi orang tua, padahal kami adalah orang tua paling gagal di kampung ini. Apakah kalian kira cara berbakti adalah dengan mengirimkan jutaan rupiah setiap bulannya? Sama sekali prinsip orang Minang dalam merantau tidak ada dalam diri kalian. Rantau adalah tempat mengais rezki, tapi biarpun hujan emas di rantau sana, hujan batu di negeri sendiri rasanya jauh lebih baik.”

Dada-dada itu kini mulai sesak. Pun dada Mak Odah yang kini menangis tersedu di samping Pak Muncak.

“Perceraian itu memang akan terjadi, tapi bukan perceraian antara kami, melainkan antara kita, dan antara kalian.”

Satu dua bulir-bulir bening mulai turun.

Tidak ada mata yang tidak basah.

“Kami sudah punya sembilan cucu, satupun tak ada yang kami kenal. Mereka juga tidak saling kenal satu sama lain. Sudah empat hari di sini, baru satu hari kemarin mereka mulai bermain bersama. Sampai kapan ini akan kalian pertahankan?”

Tiba-tiba Siti menghambur memeluk Pak Muncak.

“Bapak, sudah… jangan diteruskan.” Tangisnya tumpah ruah di pangkuan Bapak. Syahrul, Yusrizal dan Adnan menyusul, menghambur dan bersimpuh di depan Pak Muncak dan Mak Odah.

Saat itulah seseorang berlari menaiki tangga rumah gadang. Aulia, anak Syahrul nomor 3 yang sekarang duduk di kelas 5 SD masuk ke ruangan itu tanpa permisi, menangis dan dengan lantang berteriak.

“Papa, kapan kita kembali ke Jogja, Aulia tidak  betah di sini!”

Kegagalan itu makin menghujam dada Pak Muncak. Sepertinya dia belum siap untuk jadi kepala desa.

 

Cerpen Pemenang Pertama LMCPI Annida-Online 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *