Yunirah

Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Pikirian Rakyat, 10 Juli 2011

ilustrasi (sumber: mzansilive.co.za)
ilustrasi (sumber: mzansilive.co.za)

Kamu pasti tidak akan percaya bila kukatakan bahwa temanku yang menjadi pembantu rumah tangga memberikan jari jempolnya untuk diisap anak majikan yang masih balita, agar anak itu berhenti menangis. Itu dilakukan karena istri sang majikan sering memanggilnya dengan kata-kata sangat kasar yang mengiris hati dan sangat pelit dengan makanan. Gajinya juga sering telat, sehingga kiriman uang ke kampung untuk biaya sekolah dua anaknya menjadi tertunda.

Temanku lainnya mencampur susu untuk anak majikan dengan ludahnya. Ia kesal dengan majikan perempuan yang cerewet dan majikan laki-laki yang sering meraba-raba buah dadanya. Majikan laki-laki itu juga mengancam akan membuat cerita palsu tentang pencurian dan akan melaporkannya ke polisi bila ia mengadu pada istrinya.

Aku tidak seperti dua temanku itu meskipun aku juga pernah mendapat perlakuan yang hampir sama ketika bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Saudi Arabia dan Malaysia. Memang ada keinginan untuk membalas perlakuan mereka, tapi aku takut penjara. Pasti ibuku yang sudah tua akan lebih menderita.

Aku kini berada di Jakarta, kembali bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sebenarnya aku sudah tidak ingin lagi bekerja sebagai pembantu. Tapi tidak ada pekerjaan lain yang bisa kulakukan, dan ibuku butuh uang untuk berobat. Aku tidak mengerti penyakit apa yang dideritanya. Kata dokter paru-paru basah dan penyakit lainnya yang namanya sampai sekarang tidak aku ingat. Tapi kata sepupuku yang telah menjanda empat kali, ibuku terkena guna-guna. Katanya guna-guna itu ditujukan padaku dan datangnya dari seorang laki-laki yang lamarannya aku tolak. Tapi guna-guna itu meleset dan menimpa ibuku.

Entah guna-guna itu benar atau tidak, ketika bertemu lelaki itu di pasar, ia tersenyum penuh kemenangan sambil mengipas-ngipas uang di depan dagangannya. Ia lalu berkata keras-keras pada seorang lelaki lain yang duduk di dekatnya bahwa ia akan menikahi perawan berumur 16 tahun minggu depan. Perawan kencur itu akan menjadi istri keempatnya. Dan ia berkata akan tetap awet muda sepanjang masa. Aku menjadi semakin jijik dan ingin rasanya melempar segumpal ludah.

Nyonya dan Tuan di tempat kerjaku sekarang lumayan baik. Malah Tuan pernah memberiku uang tambahan tanpa sepengetahuan Nyonya. Tapi ternyata kebaikan Tuan tersembunyi di balik niat jahat. Dia berhasil membuat aku tidak sadar pada suatu malam. Akibatnya perutku menggelembung.

“Aku selama ini tidak punya pembantu sebaik kamu, Yun.” Kata Nyonya. Ia bersandar di bale bengong di serambi belakang. Kedua kakinya menjulur. Helai-helai rambut putih membuatnya makin terlihat tua.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Tanganku terus memijat-mijat kedua kaki Nyonya. Daun-daun anthurium dalam pot yang berada sepanjang tembok pembatas dengan rumah tetangga di halaman yang cukup luas itu bergoyang-goyang. Semilir angin sore membuatku merasa nyaman, sedikit meredakan kegundahan hati yang sejak lama mengendap dan mulai menggerogoti perasaan. Tapi Nyonya merapatkan syal lebar yang menutupi leher, punggung, dan dadanya.

“Aku kadang menyesal telah menikah dengan suamiku, Yun.”

Aku tahu Nyonya, aku bisa merasakan. Aku juga menyesal.

“Ini semua karena ibuku sangat takut aku menjadi perawan tua.” Suara Nyonya gemetar, dan terdengar bagai bercampur penyesalan. “Akhirnya aku tahu, aku bukan menikah dengan manusia, melainkan kucing garong yang selalu lapar.”

Tuan bukan kucing garong, Nyonya. Ia macan garong.

“Boleh saya tanya, Nya?”

Ia mengangguk.

“Sudah berapa pembantu yang bekerja di sini?”

“Sudah banyak, Yun. Semuanya muda-muda. Tapi semuanya menjadi mangsa suamiku.” Ia lalu menangis. Badannya semakin terlihat lemah. Seperti sudah tidak ada lagi sisa-sisa tenaga yang melekat.

“Aku mengusir mereka, Yun.” Kata Nyonya lagi. “Semula aku hendak membunuh mereka. Tapi akhirnya aku sadar, suamikulah yang bersalah.”

Mendengar kata-katanya, kudukku berdiri. Satu detak jantung menghilang. Angin sore tiba-tiba tak lagi kurasakan sejuk. Perutku kejang sesaat.

Nyonya kembali menangis. Seperti ada dendam yang tak mampu dibungkamnya dan tak mungkin untuk dilaksanakan. Dendam itu melilit seluruh tubuhnya hingga dagingnya perlahan-lahan rontok, menampakkan kerangka tubuh yang selama ini menopangnya dan semakin lama semakin rapuh.

Kupandang wajah Nyonya yang meredup. Pipinya semakin menjorok ke dalam. Mata sayunya berkedip tanpa tenaga. Sekilas ia mirip dengan ibuku. Mereka berdua sedang menanggung beban berat. Lambat laun ada perasaan sayang bercampur kasihan padanya. Lalu tiba-tiba penyesalan muncul, bertaut dengan perasaan berdosa.

Tiba-tiba perutku mules. Ada yang bergerak-gerak. Aku menundukkan badan agar mules itu hilang. Sedapat mungkin aku menyamarkan penderitaan, agar beban Nyonya tidak bertambah. Kenapa mules di perutku semakin hari semakin menjadi, padahal aku telah mengikatnya erat dengan kain panjang dan minum berbagai macam obat. Inikah tanda-tandanya?

Anjing peliharaan Tuan menggonggong. Pasti binatang itu melihat orang asing lewat di depan pagar rumah. Meskipun lehernya terikat rantai besar dan kokoh, aku takut sekali dengan anjing hitam bertubuh tambun itu. Taringnya seperti siap merobek-robek dada dan perutku. Tiba-tiba anjing itu kembali menggongong. Keras sekali. Nyonya menutup telinga.

“Cepat Yun, beri anjing sialan itu makanan.” Kata Nyonya. “Aku sudah muak mendengar gonggongannya. Mirip suara suamiku.”

Aku pergi sambil menahan rasa nyeri di perut. Di dapur kutemukan dua paha ayam goreng. Segera kuberikan pada anjing yang langsung melahapnya. Aneh, aku semakin takut pada binatang itu. Seperti ada setan di dalam tubuhnya. Terpancar pada matanya yang merah menyala begitu melihatku.

***

Malam tiba. Ikatan di perutku semakin kukencangkan sehingga rasa sakit sedikit reda. Tapi ikatan itu juga kumaksudkan untuk menekan perutku agar tidak terlalu menonjol. Aku tak ingin Nyonya tahu. Aku tak ingin menambah bebannya. Ia telah rapuh, sama seperti ibuku di kampung.

Tuan pulang saat aku sedang mempersiapkan makan malam. Nyonya sudah duduk. Tidak ada sapaan ketika Nyonya dan Tuan bertemu di ruang makan. Tuan hanya bertanya apakah aku sudah memberi makan anjing kesayangannya. Aku mengangguk. Kulihat matanya berkedip kepadaku. Matanya juga merah, seperti mata anjing peliharaannya yang kulihat tadi sore. Perutku tiba-tiba mual, seperti ingin muntah. Dan ingin rasanya aku muntah di wajahnya, agar mata itu tertutup dan tak pernah lagi berkedip padaku.

Malam merambat ke tengah. Aku terbangun ketika mendengar gonggongan anjing. Perutku sangat sakit. Celana karet yang kukenakan terasa basah. Kupegang perutku dengan kedua tangan, tapi rasa mules semakin menjadi. Aku kalut, lalu bangun dan berlari ke luar. Pikiranku mengatakan mungkin Nyonya atau Tuan bisa membantu.

Aku menuju kamar Nyonya yang sedikit terbuka. Kudorong perlahan daun pintu. Kamar terang. Tampak tubuh Nyonya yang ringkih sedang terlelap. Tarikan nafasnya terdengar bagai peluit rusak, membuat aku sangat iba. Tidak, ia tidak boleh tahu. Jika tahu, pasti hidupnya tidak akan lama lagi. Sama saja aku membunuh ibuku sendiri.

Aku menuju ruang tamu yang temaram. Tuan bersandar di sofa dan terlelap. Dengkurnya menyerupai geraman anjing kesayangannya. Di atas meja berserakan botol-botol minuman. Televisi menyala. Ada adegan seorang wanita pirang telanjang bulat dengan dua lelaki kekar. Mereka tengah bergumul. Aku bertambah mual. Satu telapak tangan menutup mulut dengan cepat. Kupalingkan pandangan ke arah Tuan. Celananya sedikit terbuka. Kembali ada suara gonggongan anjing. Seketika muncul kebencian yang teramat dalam pada Tuan. Lalu seolah ada bisikan bertubi-tubi. Rasa mules sedikit mereda.

Aku berlari ke meja makan. Ada pisau besar yang sangat tajam dekat potongan kue bolu. Segera kuraih pisau itu dan kembali ke ruang tamu. Kebencianku pada Tuan semakin memuncak. Kedua pahaku yang terasa basah tak lagi kupedulikan. Tuan telah menghancurkan perempuan: aku, Nyonya, dan para pembantu sebelumnya.

Dengkur Tuan membuat hatiku semakin terbakar. Genggaman pada pisau semakin erat. Kali ini dengan dua tangan. Pisau itu kuangkat tinggi-tinggi. Aku mengarahkan pada dadanya, bukan perutnya yang menyerupai perutku. Pandanganku ke sekeliling kabur. Semuanya seolah tanpa bentuk. Aku tak sadar, kaki bagaikan tak berpijak. Aku rasanya seperti menjatuhkan pisau ke lantai, lalu berlari ke luar rumah. Seketika ada kekuatan yang mendorongku bersandar pada dinding.

Entah berapa lama, tiba-tiba aku mendengar suara bayi. Bayi itu muncul di antara kedua kakiku yang mengangkang. Kudekap mulut bayi agar Tuan dan Nyonya tidak mendengar. Aku terkejut mendengar gonggongan anjing. Aku teringat ibu, dia pasti sedang kelelahan dan merasakan sakit sambil terbaring di ranjang reot berkelambu suram yang dipenuhi darah nyamuk.

Anjing kembali menggonggong. Kali ini tanpa henti. Suaranya menusuk telinga. Aku tak tahan. Kepalaku pusing. Aku seolah melayang. Lalu muncul wujud ibu yang terbangun dari tempat tidurnya. Ia melotot dan menunjuk kepadaku dengan kebencian. Aku kalut, lalu berjalan sempoyongan dan melemparkan bayi ke dekat anjing. Sekilas kudengar ada suara kunyahan.

Entah berapa lama kemudian, semua kekalutan sirna. Hening. Tidak ada lagi gonggongan anjing, bahkan hembusan angin. Yang kutahu, aku bersandar di tiang rumah dengan posisi duduk tanpa tenaga. Tangan dan kakiku seolah tak bertulang. Pintu sedikit terbuka. Ada cahaya televisi yang menerangi tubuh Tuan. Aku bisa melihat, ada pisau yang menancap di ubun-ubunnya. Darah hitam telah menutup matanya yang merah. Aku yakin, mata itu kini tak lagi mampu berkedip pada setiap wanita cantik. Aku ingin tersenyum, tapi kedua bibirku seperti disatukan dengan lem. Aku hanya ingin tidur, ngantuk sekali. Dan kemudian semuanya menjadi gelap.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *