A Social Life: Gawai dan Hidup yang Palsu

Esai Maya Lestari Gf
Dimuat di Harian Haluan, 10 September 2016

maya
sumber: https://issuu.com/haluan

Apakah kau sungguh-sungguh hidup dalam postingan-postinganmu di media sosial? Pertanyaan inilah yang mendasari film A Social Life, sebuah film pendek berdurasi 8.26 menit besutan sutradara Kerith Lemon, seorang penulis dan sutradara asal Amerika Serikat. Tersebutlah Meredith, seorang perempuan cantik yang depresi akan hidupnya, lalu mencoba menutupinya dengan berbagai postingan menyenangkan di media sosial. Dari kamarnya yang dingin dan beku dari kontak sosial, ia memposting foto-foto yang mengesankan hidupnya berjalan seperti dalam impian semua orang. Lari pagi dengan sepatu olahraga keluaran terbaru, makan buah dan sayuran organik, pergi kencan dengan sang kekasih dan berlibur di tempat yang hangat oleh matahari. Kenyataannya? Ia hanya memakai sepatu olahraga, memotret, lalu melepaskannya lagi. Ia menyusun buah dan sayur di atas talenan, memotret, lalu memilih makan sereal kotak dari kulkas. Ia memoles wajah dengan make up, memakai gaun dansa, memotret diri sendiri, lalu berbaring dalam kesepian di atas sofanya. Ia mencari foto-foto liburannya yang telah berlalu, mempostingnya di media sosial, seolah-olah kejadian tersebut tengah berlangsung saat ini. Ia menunggu notifikasi apapun tentang postingannya. Komentar atau sekadar tanda suka. Lalu, suatu kali ibunya menelepon, rindu untuk bertemu. Meredith memutuskan telepon dengan dalih sedang mempersiapkan makan malam. Ia sendirian. Kesepian. Terjebak dalam halusinasi media sosial.

Ia sungguh tidak sebagaimana yang digambarkan akunnya. Ia dan akunnya terpisah sejauh jutaan makna. Tetapi, ia ingin hidupnya berjalan seperti itu, maka ia pun menciptakan dunia, tempat ia bisa menyutradarai hidupnya sendiri.Tempat nilai dirinya tergantung dari seberapa banyak notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya.

Sejujurnya, beginilah keadaan sebagian orang di media sosial. Berpura-pura memiliki kehidupan menyenangkan, mencoba menolak kenyataan bahwa mereka sesungguhnya tidak seperti citra yang ingin diciptakan. Sebagian postingan di media sosial penuh kebohongan. Menurut sebuah survey terhadap lebih empat ribu responden dari empat negara (Inggris, Spanyol, Prancis dan Italia) yang dilakukan oleh Custard, sebuah perusahaan pemasaran digital dari Inggris, diketahui lebih 75% respondennya mengaku berbohong di laman profil media sosial mereka. Mereka juga sengaja memposting sesuatu yang memberi kesan seolah-olah hidup mereka tampak sangat hebat dan menyenangkan. Foto adalah alat pencitraan yang ampuh. Mereka mengambil foto dari berbagai sudut agar mendapatkan kesan yang diinginkan. Persis seperti yang dilakukan Meredith.

Ia punya banyak teman di media sosial, tapi pada akhirnya, mereka bukanlah teman-teman yang sesungguhnya. Sejujurnya, ia tidak pernah betul-betul mengenal mereka semua, sebagaimana mereka juga tidak mengenal dirinya. Meski begitu, ia perlu mempertimbangkan kehadiran mereka semua, karena semua notif yang ia terima dari mereka menentukan siapa dirinya. Menjelaskan keberadaaan dirinya.

A Social Life dengan tepat membicarakan apa masalah yang dihadapi sebagian orang saat saat ini, keberadaan diri. Film ini membuat kita merenung, siapa sesungguhnya kita di balik semua postingan di media sosial? Apakah kita masih merasa punya arti bila semua akun itu terhapus? Apa arti diri kita sebenarnya?

Film ini menarik karena bukan cuma aktual tapi juga sangat filosofis. Sudut pengambilan gambar-gambarnya menarik, skenarionya cukup rapi, musiknya juga terjalin baik dengan setiap adegan film. Rosalind Ross, pemeran Meredith, bermain bagus. Layaklah dia diganjar penghargaan pemeran wanita terbaik dalam Festival Film Pendek Canberra. Kabar baiknya, film ini sudah bisa dinikmati di Youtube. Semoga bisa menjadi bahan renungan dan inspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *