Cerpen untuk Calon Presiden

Cerpen Noor H. Dee
Dimuat di Tribun Jabar, 25/09/2016

Sejak menulis paragraf pertama, pengarang itu sudah merasa mual dan kepingin muntah. Seluruh isi lambungnya mendesak-desak seperti ingin keluar dari mulutnya. Padahal, sebelumnya ia merasa baik-baik saja. Sehat-sehat saja. Rasa mual itu muncul begitu tiba-tiba, tidak seperti biasanya.

Karena tidak ingin muntah di tempat, ia buru-buru bangkit dari duduknya dan langsung pergi ke kamar mandi. Namun, ketika ia sudah membungkukkan tubuhnya dan membuka mulutnya lebar-lebar ke muka kakus, rasa mual yang semula ia rasakan tiba-tiba hilang. Keinginannya untuk muntah lenyap seketika.

“Perasaan tadi sudah betul-betul kepingin muntah,” ujarnya sambil keluar dari kamar mandi, berjalan ke ruang tamu, duduk di depan komputer, dan kembali meneruskan kegiatan menulisnya.

Malam ini ia sedang menulis cerita pendek yang dipesan langsung oleh seorang calon presiden.

“Jadi, Bapak ingin saya menulis cerpen berdasarkan kisah hidup Bapak?” tanya pengarang itu ragu-ragu. Seumur hidup, baru kali ini ia ditelepon langsung oleh seorang capres yang wajahnya sering muncul di televisi.

“Bisa dibilang begitu,” jawab sang capres melalui telepon genggamnya, “Bapak bosan dengan strategi kampanye yang begitu-begitu saja. Pasang baliho besar di pinggir jalan, bikin iklan di televisi, pasang iklan di koran, dan lain sebagainya. Bapak kepingin melakukan sesuatu hal yang beda. Karena kebetulan suka sastra, akhirnya Bapak memiliki ide untuk berkampanye lewat cerpen. Sejauh pengamatan Bapak, belum ada yang melakukan hal itu.”

“Kenapa Bapak tidak memilih Seno Gumira Ajidarma atau penulis-penulis yang sudah terkenal? Kenapa Bapak memilih saya?”

“Kebetulan Bapak menggemari cerpen-cerpen kamu yang dimuat di koran minggu. Bahasa kamu itu… apa ya istilahnya, hmm… nyastra. Ya, bahasa kamu nyastra. Bapak suka. Kalau Seno Gumira Ajidarma, Bapak tidak suka.”

“Kenapa?”

“Karena, Bapak tidak menyukai senja.”

“Oh….”

“Bagaimana? Mau tidak?”

Sejujurnya, pengarang itu tidak mau. Ia menganggap bahwa tidaklah elok jika kesusastraan yang adiluhung digunakan untuk kepentingan politik praktis, apalagi untuk strategi kampanye pemilihan presiden. Ia masih ingat betul perkataan Bung Martin Alaeda, “Kodrat kesusastraan adalah memihak kepada korban.” Nah, apa jadinya jika kesusastraan berpihak kepada penguasa? Itu sebabnya ia tidak mau menerima tawaran tersebut. Namun, karena tidak ingin mengecewakan seseorang, ia pun menolaknya dengan cara diplomatis.

“Bagaimana, ya, bukannya tidak mau, tapi saya belum tahu banyak soal kisah hidup Bapak. Meskipun wajah Bapak sering muncul di televisi, saya tidak tahu apa-apa tentang Bapak.”

“Ah, itu masalah gampang. Bapak akan menceritakan kisah hidup Bapak sekarang.”

Sang capres langsung menceritakan kisah hidupnya secara singkat. Sebenarnya kisah hidupnya tidak bagus-bagus amat, malah cenderung membosankan, tetapi sang capres merasa yakin kalau kisah hidupnya itu mampu memberikan inspirasi bagi banyak orang.

Pengarang itu mendengarkan dengan jengkel.

Selesai bercerita, sang capres berkata, “Bapak kepingin kamu menulis dengan bahasa kamu yang nyastra, ya.”

Pengarang itu kembali menolak dengan halus, “Sekali lagi saya minta maaf kepada Bapak. Saya merasa belum pantas menulis cerpen tentang kisah hidup Bapak. Di dunia sastra, saya masih belum ada apa-apanya.”

“Kamu jangan merendah begitu. Bapak sering membaca cerpen-cerpen kamu, dan Bapak suka sekali. Soal honor, jangan khawatir. Bapak akan transfer dua juta untuk penulisan cerpen ini.”

“Bukan masalah honor juga, Pak.” Pengarang itu terus berkelit, “Menurut saya, penulis yang lain tentu akan bisa menulis lebih bagus ketimbang saya.”

“Bagaimana kalau Bapak transfer lima juta untuk satu cerpen?”

“Bukannya menolak rezeki, Pak, tapi….”

“Oke, begini saja, hari ini Bapak akan transfer 10 juta ke rekening kamu sebagai uang muka. 10 juta lagi akan Bapak kirim setelah cerpen kamu selesai. Bagaimana?”

Pengarang itu terkejut mendengar angka nominal tersebut. Tiba-tiba saja ia langsung berkata, “Baiklah, Pak, saya tidak bisa menolak kalau Bapak memaksa. Lagi pula, ini merupakan kehormatan bagi saya karena bisa menulis cerita pendek tentang kisah hidup Bapak. Malam ini saya pastikan cerpen itu selesai.”

“Nah, begitu, dong! Kalau cerpennya sudah selesai, langsung kirim saja ke email Bapak. Nanti akan Bapak sms alamat emailnya. Oh iya, tolong sms no rekening kamu juga, ya. Salam.”

Pengarang itu langsung menutup teleponnya dengan perasaan girang. Kodrat kesusastraan yang memihak kepada korban, bagaimana? “Ah, peduli setan!” pikir pengarang itu, “yang penting saya mendapatkan uang.”

20 juta untuk satu cerpen? Bagi pengarang sekelas dirinya, tentu saja angka 20 juta rupiah tergolong sangat besar. Ia belum pernah memegang uang sebanyak itu. Jangankan memegang, membayangkan pun tidak pernah. Beri maklumlah kepada dirinya. Ia hanya seorang pengarang cerpen, sebuah profesi yang tidak begitu dihargai di negeri yang konon katanya berbudaya ini.

Itu sebabnya, malam ini ia ingin buru-buru menyelesaikan cerpen tersebut. Menyelesaikan satu cerpen dalam satu malam bukanlah perkara sulit baginya. Ia bahkan pernah menyelesaikan cerpennya dalam sekali duduk. Bukan, ia bukan tipe pengarang yang menuhankan produktivitas dan mengabaikan kualitas. Ia bukan tipe pengarang semacam itu. Bagaimana pun juga ia mengerti bahwa kredibilitas seorang pengarang bukan ditentukan dari seberapa banyak atau seberapa cepat ia menulis, melainkan ditentukan dari seberapa hebat tulisannya itu mampu menggedor kesadaran pembaca. Dan ia, pengarang itu, mampu menulis cepat dengan kualitas yang tetap terjaga, setidaknya begitulah yang ia yakini mengenai kemampuan menulisnya.

Namun, ternyata malam ini ia tampak kesulitan menyelesaikan cerpen tersebut. Bukan karena perkara writer’s block dan yang semacamnya. Hal semacam itu sudah ia lampaui jauh-jauh hari. Mengolah kisah yang biasa-biasa saja menjadi kisah yang luar biasa juga bukanlah persoalan besar baginya. Kemampuan mengarangnya sudah tidak diragukan lagi. Ia kesulitan menyelesaikan cerpen tersebut karena setiap selesai menulis satu paragraf, ia selalu merasa mual dan kepingin muntah. Seluruh isi lambungnya mendesak-desak seperti ingin segera dikeluarkan. Ia juga tidak tahu apa penyebabnya.

Ia sudah menulis sebanyak 20 paragraf, dan sebanyak itu pulalah ia harus bolak-balik ke kamar mandi. Betul-betul merepotkan. Namun, seperti yang sudah-sudah, ketika sedang berada di dalam kamar mandi, hasrat muntahnya hilang. Tidak ada lagi rasa mual dan yang semacamnya.

“Kenapa rasa mualnya hanya muncul ketika aku sedang menulis, ya?” tanya pengarang itu sambil menggaruk-garuk kepala.

Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Ia langsung mengangkatnya.

“Bagaimana? Cerpennya sudah selesai?”

“Sedikit lagi, Pak. Kira-kira dua paragraf lagi,” jawab pengarang itu.

“Wah, ternyata cepat betul ya kamu menulis cerpen. Kalau begitu, silakan kamu teruskan lagi. Kalau sudah selesai langsung saja kirim ke email Bapak, ya.”

“Baik, Pak.”

Hubungan telepon terputus. Pengarang itu kembali duduk di depan komputer dan melanjutkan kegiatan menulisnya. Jika rasa mual itu kembali datang, ia sudah berniat untuk mencoba menahannya. Menulis dua paragraf lagi tidaklah sulit, pikirnya.

Benar saja. Ketika sudah menyelesaikan satu paragraf, ia kembali merasa mual dan kepingin muntah. Kali ini mualnya lebih parah dari sebelumnya. Wajahnya pucat. Kedua pipinya menggembung. Sepasang matanya merah. Ia berusaha untuk tidak pergi ke kamar mandi.

“Satu paragraf lagi. Satu paragraf lagi,” ujarnya seperti sedang merapal mantra.

Pengarang itu mulai menulis paragraf berikutnya. Seluruh isi lambungnya kembali meronta-ronta. Telapak tangan kirinya menutup mulutnya. Tangannya yang lain mengetik di keyboard komputer. Ia tidak kesulitan mengetik dengan satu tangan, ia hanya kesulitan melawan rasa mual yang semakin lama seperti semakin tidak bisa dikendalikan.

Tinggal satu kalimat lagi. Wajah pengarang itu semakin pucat, Tinggal beberapa kata lagi. Kepalanya terasa pusing sekali. Tinggal dua kata lagi. Ia sudah betul-betul kepingin muntah. Tinggal satu kata lagi. Senyumnya mulai mengembang. Tinggal satu huruf lagi. Pengarang itu buru-buru menekan tombol titik secepat mungkin.

Setelah itu, “Hoek!”

Pengarang itu muntah di tempat.

***

Pagi itu, di pekarangan rumahnya yang luas, sang capres terlihat sedang asyik membaca cerpen yang dimuat di Koran Pos—koran yang salah satu pemilik saham terbesarnya adalah dirinya. Meskipun sudah membaca berulang kali, ia tidak pernah bosan.

“Betul-betul bagus. Betul-betul indah. Betul-betul nyastra!” ujarnya sambil memejamkan sepasang matanya.

“Nyastra! Nyastra! Dari tadi ngomong begitu terus!” ujar istri sang capres yang dari tadi merasa heran melihat suaminya ngomong dan senyum-senyum sendiri. “Mendingan mandi dulu sana. Bukankah nanti ada acara bagi-bagi makanan untuk korban banjir?”

Sang capres membuka matanya dan tersenyum ke arah istrinya, “Ibu pasti belum baca cerpen di koran ini.”

“Baca cerpen di koran? Kayak kurang kerjaan saja.”

“Jangan sinis begitu, dong. Cerpen ini tentang kisah hidup Bapak. Ibu harus membacanya. Cerpennya betul-betul indah. Betul-betul nyastra.”

Istri sang capres menghela napas panjang. “Ya sudah, sini, coba Ibu baca!”

Sang capres menyerahkan koran itu kepada istrinya yang masih tetap berdiri di hadapannya.

Ketika istrinya sedang asyik membaca, sang capres kembali memejamkan sepasang matanya. Ia membayangkan pagi ini pasti ada orang-orang yang membaca cerpen tersebut. Sang capres kembali tersenyum. Cerpen itu pasti akan membuat orang-orang kagum terhadap dirinya dan akan memilih dirinya untuk menjadi presiden di pemilu yang sebentar lagi akan diselenggarakan. Kepala sang capres mengangguk-angguk dengan mata terpejam.

Tiba-tiba, “Hoek!”

Selesai membaca cerpen tersebut, istri sang capres muntah di tempat. Muntahnya mengenai wajah sang capres![]

16TJ25092016.pmd
16TJ25092016.pmd

 

Noor H. Dee

Noor H. Dee lahir di Depok, Maret 1982. Buku kumpulan cerpennya Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta (Forum Lingkar Pena, 2008). Founder sipenulis.com dan spoila.com

One thought on “Cerpen untuk Calon Presiden

  • 26/09/2016 at 4:24 PM
    Permalink

    tulisanmu kurang Bermutu Kisanak

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *