Menanti Gebrakan Ekonomi Sri Mulyani

Esai Anugrah Roby Syahputra
Dimuat di Rubrik Opini Harian Analisa, Kamis, 4 Agustus 2016

opini robyGonjang-ganjing wacana reshuffle Kabinet Kerja sudah beberapa minggu menjadi rumor politik yang tak jelas juntrungannya. Apalagi di dunia maya dimana pertentangan politik terbelah dalam dua kutub yang kadang bertolakbelakang secara ekstrim: lovers dan haters. Namun, semua seliweran gosip tersebut sudah berakhir Rabu (27/7) kemarin saat Presiden Joko Widodo mengumumkan susunan kabinet baru hasil reshuffle jilid kedua.

Hasilnya sebenarnya tak terlalu mengejutkan, namun namanya dunia politik selalu saja melahirkan sikap pro dan kontra. Berbagai pertanyaanpun mengemuka. Mengapa Anies Baswedan yang berprestasi justru diganti? Padahal ia sudah banyak membuat terobosan baru dalam dunia pendidikan seperti program membaca buku 15 menit setiap hari sebelum mulai belajar, kampanye orang tua mengantar anaknya pada hari pertama sekolah hingga penghapusan kekerasan di sekolah. Lalu, ada pula pertanyaan, mengapa Puan Maharani adem ayem saja? Sementara kinerjanya terlihat biasa-biasa saja dan tak ada yang patut diistimewakan. Sampai-sampai ada tudingan bahwa Rizal Ramli diberhentikan dari tugasnya karena berseberangan dengan Ahok yang dulu mendampingi Jokowi dalam memimpin DKI Jakarta.

Tak hanya itu, salah satu isu yang mengemuka adalah politik transaksional. Seperti yang sudah-sudah, partai-partai pendukung pemerintah memang dianggap sudah sewajarnya mendapat kursi menteri. Maka dalam reshuffle kali ini kita melihat parpol yang belakangan bergabung dengan koalisi pemerintah akhirnya juga mendapat jatah. PAN mendapat posisi Menpan RB yang diisi oleh Asman Abnur, sedangkan kader Golkar dipercaya menjadi Menteri Perindustrian yang diserahkan kepada Airlangga Hartarto. Meski juru bicara istana membantah adanya politik dagang sapi, ini adalah fakta telanjang yang tak bisa dibantah.

Kembalinya Sri Mulyani

Di luar itu, yang menarik adalah melihat konfigurasi tim ekonomi Jokowi-JK. Kembalinya Sri Mulyani Indrawati (SMI) ke kursi lamanya sebagai Menteri Keuangan menjadi pembicaraan hangat di berbagai tempat. Perempuan yang akrab disapa Mbak Ani ini rela meninggalkan posisinya yang prestisius di Bank Dunia untuk menggantikan Bambang P Brodjonegoro di kursi Menkeu. Sejak Juni 2010, perempuan kelahiran Bandar Lampung, 26 Agustus 1962 itu dipercaya sebagai direktur pelaksana Bank Dunia. Di lembaga keuangan internasional yang berbasis di Washington itu, beliau dipercaya sebagai chief operating officer (COO). Sederhananya, SMI adalah orang kedua dalam struktur petinggi Bank Dunia.

Percaya tidak percaya, beliau rela meninggalkan posisi nyamannya dengan penghasilan yang mencapai USD 630.175 atau jika dirupiahkan menjadi sekitar Rp 8.192.275.000 untuk kembali ke kampung halaman. Setelah menjadi menteri, SMI diperkirakan hanya akan memperoleh gaji sekitar Rp. 19 juta per bulan di luar biaya operasional menteri Rp. 120-150 juta per bulan. Hal ini dianggap sebagai sebuah narasi pengorbanan dan nasionalisme yang tinggi.

Publik mengenal SMI sebagai sosok yang cemerlang ketika memimpin Kementerian Keuangan. Ia merupakan Menkeu yang sukses merintis reformasi birokrasi. Semua orang mengakuinya. Termasuk bagaimana langkah out of the box-nya yang mempersilakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk masuk ke Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPU BC) Tanjung Priok sebagai sarana shock theraphy bahwa langkah perubahan ini tidak main-main. Hal yang sama juga beliau terapkan di Ditjen Pajak dan unit eselon II Kemenkeu yang lain. Hasilnya, alhamdulillah menggembiarakan. Segelintir oknum nakal memang masih ada, tetapi setidaknya SMI telah meletakkan fondasi mental yang kuat di Kemenkeu melalui reformasi birokrasi. Belakangan, reformasi birokrasi di Kemenkeu yang dirintis oleh SMI menjadi prototype yang diadopsi oleh sejumlah kementerian dan lembaga lainnya.

Alumnus University of Illinois, Amerika Serikat (AS), ini juga beberapa kali menerima penghargaan atas kinerjanya yang luar biasa sebagai Menkeu. Pada 2006 majalah Euromoney memberikan penghargaan sebagai Finance Minister of the Year. Sedangkan Emerging Markets memilihnya sebagai Menteri Keuangan terbaik di Asia dua tahun secara beruntun, 2007 dan 2008.

Di samping itu, Sri Mulyani tercatat berada di urutan ke-55 Wanita Paling Berpengaruh di Dunia versi majalah Forbes pada tahun 2013. Forbes menulis Sri Mulyani merupakan wanita paling senior yang duduk di bank dunia sejak Mei 2010 sebagai Direktur. Ia mengawasi negara-negara di bagian Asia dan Afrika, Amerika Latin hingga Timur Tengah. Sri Mulyani juga pernah berhasil membawa Indonesia bertahan dari serangan krisis keuangan global tanpa cedera sedikitpun ketika menjadi Menteri Keuangan.

Sungguh, pilihan Presiden mengangkat SMI dinilai pelaku ekonomi sebagai langkah yang tepat. Kalangan politisi pun menilai demikian. Bahkan kelompok oposisi juga memuji penugasan SMI sebagai Menkeu. Seperti misalnya Presiden PKS, Mohamad Sohibul Iman, Ph.D yang menyebut tim ekonomi kabinet yang sekarang sebagai dream team. “Ibarat tim bola, sekarang tim ekonominya sudah diisi pemain bintang, tinggal Presiden sebagai pelatihnya apakah mampu secara efektif memimpin dan mengarahkan permainan,” kata Sohibul kepada wartawan, Rabu sebagaimana dilansir Antara (27/7/2016).

Justru kritik keras datang dari politisi partai pendukung pemerintah sendiri. Di antaranya adalah anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Ribka Tjiptaning Proletariati. Ia menyebut SMI sebagai antek neoliberalisme dan penunjukan SMI tidak sesuai dengan prinsip Trisakti dan visi Nawacita yang didengung-dengungkan Presiden sebab beliau disebut-sebut tersangkut kasus bail-out Bank Century.

Respon Positif Pasar

Tak pelak publik di dalam negeri pun umumnya menyambut positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pada Rabu (27/07), menguat hingga mencapai level 5.300. Hal ini salah satunya disebabkan sentimen positif pasar setelah Sri Mulyani diumumkan sebagai Menteri Keuangan, kata pengamat pasar.

Lucky Bayu, seorang analis Danareksa, mengonfirmasi ‘efek Sri Mulyani’ di pasar keuangan. “Mereka (pasar) melihat bahwa sosok Sri Mulyani tersebut merupakan menteri yang memang memiliki kompetensi khusus di bidang ekonomi moneter. Sebelumnya pernah menjabat sebagai Menkeu dan pada masanya prestasi serta kinerja rupiah pada saat itu cukup baik,” terang Lucky.

Sementara itu, pengamat ekonomi, Goei Siauw Hong, berkata posisi Menteri Keuangan adalah benteng terakhir pemerintah dan Sri Mulyani adalah orang yang berani berkata tidak. “Sri Mulyani orangnya berani ngomong. Seorang menteri keuangan seharusnya bisa memberi tahu pemerintah jika itu tidak bisa dilakukan. Sehingga APBN itu, asumsi-asumsi lebih masuk akal. Jangan sampai asumsinya di-revisi karena akhirnya tidak kredibel di pasar”, jelasnya.

Selain itu, Nilai rupiah atas dolar Amerika juga naik 0,29% dibanding hari sebelumnya. Sejumlah analis pasar menyebut apresiasi positif pasar ini sebagai efek Sri Mulyani. Lucky Bayu berpendapat, IHSG akan terus mengalami tren positif hingga ke level 5.500 dan nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS juga akan menguat ke Rp12.800 per US$1 di akhir tahun (vivanews.com, 28/7/16)

PR Berat Menanti

Meski disambut hangat dan menuai pujian, pekerjaan rumah teramat berat sedang menanti SMI. Yang paling utama adalah membenahi risiko fiskal, khususnya penerimaan negara dan defisit anggaran. Mengingat peran belanja pemerintah pada semester kedua tahun ini terhadap pertumbuhan ekonomi perlu diwaspadai lantaran diperkirakan tidak sebesar semester kedua tahun lalu. Apalagi target penerimaan pajak yang telah disahkan dalam APBN-Perubahan 2016 dinilai pengamat masih terlalu tinggi, walaupun telah direvisi dan kebijakan Pengampunan Pajak sudah dijalankan.

Ekonom Mandiri Sekuritas Leo Putera Rinaldy memperkirakan, penerimaan pajak dari Tax Amnesty hanya sekitar Rp. 80-Rp. 90 triliun dan penerimaan pajak di luar Tax Amnesty hanya bisa tumbuh maksimal 8 persen dibandingkan realisasi tahun lalu. Angka ini jauh lebih rendah dari target tahun ini yang sebesar 24 persen dibanding realisasi tahun lalu. Dengan perkiraan realisasi belanja negara pada tahun ini hanya 96 persen dari target, Leo menghitung, defisit anggaran bisa jatuh ke 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB). (tribunnews.com, 1/8)

Tentu tugas-tugas ini tidak mudah, apalagi banyak harapan dari sektor usaha agar SMI membuat kebijakan investasi yang friendly tapi tetap ketat dalam law enforcement. Inilah yang ditunggu masyarakat agar Indonesia kembali menjadi negara yang kokoh fundamen ekonominya dengan gaya baru yang sudah -direvolusi mental. Dengan itu, diharapkan kesenjangan ekonomi bisa diminimalisir, lapangan kerja semakin terbuka dan pengangguran akan berkurang. Oleh karenanya, menghadapi tudingan-tudingan negatif, kita yakin SMI akan tegar sebagaimana ungkapan beliau sendiri, “Melakukan kebaikan tak selamanya mendapatkan terima kasih dari banyak orang.” Selamat bekerja, Bu Ani!

*Penulis adalah PNS Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Bergiat di komunitas Forum Lingkar Pena Sumatera Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *