Mengisi Kemerdekaan

Esai Anugrah Roby Syahputra
Dimuat di “Rubrik Taman Remaja Pelajar”, Harian Analisa, Minggu, 28 Agustus 2016

flp sumutREMAJA harus berperan aktif dan jadi pelopor dalam mengisi kemerdekaan. Kok rasanya berat sekali ya? Lagi sekolah atau kuliah kok sudah dipikulkan beban yang luar biasa berat di pundak? Mengisi kemerdekaan zaman sekarang tak harus dengan memanggul senjata atau menajamkan bambu runcing lagi, melainkan dengan melakukan berbagai aktivitas positif dan menoreh prestasi. Itu saja.

Bagaimana caranya? Ada beberapa cara asyik yang bisa kamu lakukan untuk mengisi kemerdekaan.

Pertama, menekuni olahraga. Ya, fokus dalam olahraga tertentu bisa membuat fisikmu sehat dan bugar. Aktif berolah­raga membuatmu terhindar dari aktivitas negatif seperti pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba. Malahan kalau benar-benar serius, kamu bisa bersinar seperti Evan Dimas di cabang sepakbola serta Praveen Jordan di bulutangkis. Salah satu langkah awalnya kamu bisa berga­bung dengan sekolah sepakbola atau klub bulutangkis terdekat di kotamu. Sesudah­nya kamu bakal sering ikut kompetisi. Dari situlah kemudian jalannya, bisa jadi kamulah yang kelak mengharumkan nama bangsa di event olahraga akbar dunia bernama Olimpiade.

Kedua, merintis wirausaha. Saat ini sudah tak zamannya lagi anak muda bercita-cita jadi PNS atau pegawai kantoran. Memang tak salah sih! Akan tetapi, jika berwirausaha, kita bukan hanya berjuang untuk diri sendiri, melain­kan juga menyelamatkan banyak orang. Sebab kita membuka lapangan kerja bagi orang lain yang akan jadi karyawan kita. Ini nilai plus bagi kita.

Di Pulau Jawa kita mengenal raja properti belia Elang Gumilang yang dikenal sebagai kontraktor perumahan khusus orang miskin. Ada pula Sally Giovani yang cemerlang dengan Batik Trusminya. Mereka memulainya sejak muda.

Belakangan sedang marak apa yang disebut start up. Maksudnya usaha yang baru beroperasi terutama yang bergerak di bidang teknologi informasi. Di tingkat nasional kita mengenal bukalapak.com yang dikembangkan oleh Achmad Zaky. Dalam sehari, Bukalapak mendapat lebih dari 2 juta kunjungan. Ada pula Go-Jek yang booming-nya sudah terasa sampai ke Sumatera ini. Medan juga tak keting­galan. Pernah dengar dealmedan.com? Start up ini dibangun oleh Anwar Yunus.

Ketiga, terjun ke dunia sosial dan kerelawanan. Ini juga tak kalah keren. Dari namanya sudah jelas, ini dunia di mana ketulusanlah yang bekerja. Tak ada pamrih apa pun yang diharapkan. Tak ada yang membayar. Malah terkadang kita yang mesti merogoh kocek. Tapi, kamu tak perlu malu dengan semua itu. Kamu harusnya bangga sebab Anies Baswedan pernah berpesan dalam sebuah orasinya, “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai.”

Mantan Mendikbud ini memang sudah sukses menginisiasi gerakan kerelawanan yang luar biasa dahyat. Ada Indonesia Mengajar yang mengirim para lulusan terbaik universitas ke pelosok negeri untuk mengajar sebagai guru SD. Salah satu visinya adalah membangun jejaring pemimpin masa depan dengan pema­haman akar rumput.

Dalam dunia sosial kerelawanan ini, Kota Medan juga tak kalah. Ada banyak komunitas nirlaba yang terus berbuat kadang tanpa publikasi. Sebut saja Laskar Bocah Sungai Deli atau Labosude yang digagas Budi Bahar Yong. Programnya adalah pelestarian sungai di pusat kota serta pembinaan anak-anak pinggiran sungai. Selain itu ada pula, komunitas Medan Heritage besutan Rizky Nasution yang kegiatannya berfokus pada upaya pelestarian warisan budaya dan sejarah di Kota Medan.

Keempat, menulis. Tak bisa dipung­kiri, kini menulis semakin digandrungi. Komunitas buku dan menulis bertumbuh. Ratusan judul buku baru terbit tiap hari. Selain penerbit mayor, gerakan mener­bitkan buku sendiri (indie) juga menjamur di luar Jawa. Ruang bagi penulis lepas pemula pun berserak di media massa. Apalagi di dunia daring, media sosial telah mengubah segalanya. Siapa pun bisa menulis dan menuangkan gagasannya.

Oya, kamu jangan anggap sepele kekuatan pena ya? Banyak perubahan besar di dunia ini lahir dari tulisan, baik yang positif maupun negatif. Contohnya saja Nazi Jerman yang lahir dari gagasan Adolf Hitler dalam Mein Kampf. Lalu negara Zionis Israel juga tegak dari ide yang disebarkan jurnalis Austria Theo­dore Herzl dalam Der Judenstaat, meski mereka harus menganeksasi tanah milik bangsa Palestina. Selebihnya, kemer­dekaan Amerika Serikat juga bermula dari propaganda Thomas Paine melalui buku­nya Common Sense yang untuk zaman­nya pada tahun 1176 sudah tergolong mega best-seller dengan pen­jualan hingga 120.000 eksemplar.

Belajar menulis itu tak susah. Yang penting tuliskan saja apa yang kita ketahui, apa yang membuat kita gundah gelisah. Tulis saja yang dekat-dekat dengan keseharian kita. Lama-lama semua akan berproses menuju lebih baik.

Kelima, revolusi mental keseharian. Kalau yang ini sesuai sekali dengan program Presiden Joko Widodo untuk mereformasi kebiasaan buruk bangsa kita. Judul revolusi mental itu mungkin njelimet, tapi sederhananya lakukanlah segala sesuatu sesuai aturannya. Jangan membenarkan yang biasa, tapi biasakan­lah yang benar.

Contohnya sederhana. Misal, mem­buang sampah pada tempatnya, dengan ini kita sudah berpartisipasi mencegah banjir. Lalu tertib berlalu lintas, selalu menggunakan helm jika bersepeda motor, tak melawan arus dan menerobos lampu merah. Manfaatnya kita bisa meredam risiko kecelakaan di jalan raya. Selanjutnya adalah jujur ketika ujian, tak menyontek. Ini sudah langkah besar melatih sikap anti-korupsi sejak dini. Percuma saja ‘kan kalau anak muda koar-koar menghujat koruptor, tapi pas ujian masih nyontek?

Begitulah beberapa cara asyik untuk mengisi kemerdekaan. Kita tak harus sibuk membicang urusan politik yang jadi trending topic Twitter melulu untuk menunjukkan kita peduli pada bangsa. Ada kalanya bersikap diam terhadap sesuatu fenomena menjadi lebih arif. Daripada kita terjebak pada perseteruan lovers dan haters, bergerak melakukan hal-hal kecil adalah lebih baik. Kalimat dari novelis kelahiran Helvetia, Helvy Tiana Rosa patut jadi renungan, “Mer­deka adalah ketika suara nuranimu tak lagi sembunyi.”

Yuk, bergerak sekarang juga!

* Agustus 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *