Bulan Celurit Api: Sabetan Cerita Benny Arnas

Oleh Ragdi F. Daye
Dimuat di Harian Singgalang, 26 Desember 2010

untitled“Sebagai pengarang, saya berulang kali menyugesti diri agar berani menciptakan perbedaan. Saya harus meyakini: tidak semua yang berbeda itu baik, tapi yang terbaik itu pasti berbeda!”

Produktivitas yang gila-gilaan dapat memicu kecurigaan atau pandangan miring kepada seorang penulis. Apalagi bila penulis tersebut terhitung belum lama menceburkan kakinya ke kancah dunia tulis-menulis. Itu pun terjadi pada Benny Arnas, lelaki 27 tahun asal Lubuklinggau, Sumsel. Bayangkan, dalam waktu dua tahun — Agustus 2008 hingga Agustus 2010 — tak kurang dari 100 cerpennya telah dipublikasikan di koran, majalah, dan antologi bersama. Namun, meski sebagian pihak menyangsikan, Benny tetap melaju dalam jalan kepenulisannya, konsisten mempublikasikan cerpen hampir setiap minggu, dan menerbitkan sebuah buku antologi cerpen tunggal ini – Bulan Celurit Api (Koekoesan, 2010) – untuk menegaskan keberadaannya di dunia sastra Indonesia.  Diterima semua kalangan, atau tidak.

Buku ini berisi 13 cerpen saja; 11 buah telah dipublikasikan di koran dan jurnal, 1 memenangkan Piala Balai Bahasa 2009, dan 1 belum dipublikasi—judulnya “Perkawinan Tanpa Kelamin” yang sempat akan digunakan sebagai judul buku antologi ini, namun dibatalkan dengan berbagai pertimbangan.

Nuansa lokal Lubuklinggau  yang kental dan gaya-ungkap Melayu menjadi kekuatan utama cerpen-cerpen Benny yang banyak memotret pergeseran nilai-nilai budaya masyarakat setempat. Dengan gaya bahasa yang khas, Benny mengungkap soal resistensi masyarakat mempertahankan nilai-nilai lama dari serangan gencar modernisasi, mempertanyakan kearifan nilai-nilai lokal yang disakralkan, mitos-mitos, pandangan manusia terhadap perkawinan, dan perihal nasib orang-orang miskin.  

Meskipun banyak bertutur tentang keperihan nasib tokoh-tokohnya, namun Benny bercerita dengan penjarakan yang cukup netral. Nasib tragis dari tokoh-tokohnya—meski mengundang simpati—namun diceritakan dengan santai seperti cerita dalam obrolan sambil duduk-duduk sehingga pembaca selain terharu, juga bisa terkekeh atau tertawa masam. Aksen tutur lisan seperti ‘o’, ‘oh’, ‘ai’, ‘ah’, ikut membuat cerita makin hidup seolah sedang disampaikan oleh seseorang kepada temannya.

Ada empat cerpen yang secara eksplisit bercerita tentang pernikahan, yakni “Percakapan Pengantin”, “Malam Rajam”,  “Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta”, dan “Perkawinan Tanpa Kelamin”. Namun, cerita-cerita pengantin itu berisi kemalangan atau keganjilan. “Percakapan Pengantin” bercerita tentang perkawinan sepasang anak yatim piatu yang bisu. Lelakinya pandai besi yang membuat parang dan perempuannya peladang di dekat Belalau.  Hidup tak beribu-bapak membuat mereka diabaikan dalam pergaulan masyarakat sehingga ketika mereka mengadakan pesta perkawinan, hanya sebagian kecil saja orang yang datang membantu dan menjadi tamu. Keganjilan pasangan pengantin bisu itu ditutup dengan berkirapnya mereka ke langit setelah menikmati percintaan yang indah.

“Malam Rajam” dan  “Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta” menyuarakan hal yang sama: Kemalangan  perempuan di malam pertama karena selaput daranya telah robek oleh kecelakaan. Gadis dalam “Malam Rajam” adalah seorang pembantu dalam sebuah keluarga kaya yang dipungut waktu kecil dekat rel sepeda. Dia kehilangan keperawanan mungkin gara-gara jatuh dari pohon saat mengambil layang-layang, mengendarai kereta unta, atau terpeleset di kamar mandi—tiga peristiwa itulah yang menimbulkan nyeri dan percik darah di pangkal pahanya. Akibatnya, dia ditolak oleh si putra majikan yang disukainya. Nasib sial juga dialami oleh tokoh Siti dalam “Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta” ketika Romli, lelaki yang baru menikahinya, menceraikannya di malam pertama karena dia sudah tidak perawan. Bila gadis pertama memutuskan bunuh diri karena cinta yang menjadi dendam—dan membunuh si lelaki ketika baru selesai menikmati malam pertama dengan istrinya—kesialan Siti berakibat buruk pada Bi Salma dan Mang Sadi yang menjadi orang tua angkatnya. Kedua orang itu mendapat aib yang tak terkata.

“Perkawinan Tanpa Kelamin” adalah cerpen paling kontroversial dalam buku ini. Mulanya pembaca akan mengira dalam cerpen ini terjadi perkawinan seseorang atau dua orang yang tidak mempunyai organ kelamin. Dugaan kedua adalah perkawinan yang tanpa disertai aktivitas perkelaminan antara kedua orang yang menikah itu. Ternyata kemungkinan kedualah yang terjadi. Di dalam cerpen ini, Sabilaokah menikah dengan Musmulikaing, sepasang gadis tak laku dan bujang lapuk yang sudah tak tahan dengan gunjingan orang sekampung. Mulanya orang-orang tidak tahu tentang keganjilan yang mereka surukkan, hingga kemudian tersingkaplah kebusukan mereka. Perkawinan bagi mereka bukan sebagai ikatan suci, namun untuk menyembunyikan orientasi seksual mereka yang menyimpang dari masyarakat. Sungguh mengguncangkan.

Cerpen “Bujang Kurap” dan “Kembang Tanjung Kelopak Tujuh” mencoba menggali legenda dan mitos yang telah melekat dalam memori kolektif masyarakat.  Di dalam “Bujang Kurap”, cerpen yang dilengkapi dengan catatan kaki ini, Benny mengenalkan tokoh lokal  yang memiliki nama-gelar berkonotasi negatif. Bujang Kurap bagi sebagian orang akan dikaitkan dengan tampilan fisik yang buruk dan hina atau perangai tidak baik.  Di dalam cerpen ini, tokoh legendaris Bujang Kurap adalah seorang pemuda yang elok budi.  Cerpen “Kembang Tanjung Kelopak Tujuh” mendedahkan perihal tidak ditemukan lagi bunga tanjung di kampung dekat Sungai Kelingi.  Cerpen ini beraroma mistik dengan hadirnya mitos hantu Dayang Torek dan si Kelopak Tanjung Ketujuh.

Sebagai penulis anyar yang sangat produktif, Benny menawarkan suatu kesegaran dalam cerita-ceritanya—tentunya melalui penceritaan yang khas.  Dia gemar bermain rangkaian kata dalam judul dan narasi cerita. Tentang kesukaannya mengutak-atik kata untuk menyusun suatu ungkapan, Benny menyampaikan dalam kata pengantar bukunya: “Sebagai pengarang, saya berulang kali menyugesti diri agar berani menciptakan perbedaan. Saya harus meyakini: tidak semua yang berbeda itu baik, tapi yang terbaik itu pasti berbeda!” Oleh karena itu dia sangat memperhatikan gaya berceritanya, dengan harapan, ketika orang membaca ceritanya, orang akan berujar, “Ini bahasa ungkap yang segar, tak biasa tapi nyambung, agak aneh tapi indah, mencolok tapi tak norak. Sebab baginya, pemilihan kata (diksi) sangat penting  dalam membangun estetika cerita.

Satu cerpennya berjudul sangat panjang adalah “Tentang Perempuan Tua dari Kampung Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan”. Dalam dunia penulisan puisi dan cerpen belakangan ini memang ada kecenderungan bereksperimen, salah satunya dengan membuat judul sepanjang mungkin. Pada cerpen satu ini, judul tersebut sepadan dengan cerita yang menyentuh nurani—tidak terjebak dalam upaya cari sensasi belaka. Menyimak perjuangan Mak Atut yang bolak-balik ke pasar kecamatan menempuh jarak lebih dari 30 kilometer mengendarai sepeda unta untuk dihinakan saat mengambil uang penjualan getah (karet) akan memiuh hati. Ditambah lagi ketika Mak Atut memutuskan kembali ke pasar kecamatan—untuk mengembalikan uang pada tukang dacing—karena uang yang diterimanya berlebih. Ondeh, Maak!

Benny juga sering memutar balik ungkapan yang sudah umum dipakai, memodifikasinya, atau mengawin-silangkan kata menjadi ungkapan baru. Misalnya ‘merah marun’ menjadi ‘marun merahnya’ (hal.  27), ‘melukis-lengkung batang para’ (hal. 38), ‘mulut yang membuka-katup’ (hal.  53), ‘kabar hitam-pekat’ (hal. 65), ‘memerahmudakan’ (hal. 106), dan ‘bermuka bulan’ (hal. 120). Irama kata juga menjadi perhatian Benny, seperti ‘laki-laki tukang parang, perempuan tukang ladang’ (hal. 28), ‘Ia juga ingin berkawan dengan orang-orang mati, bukan hanya kalajengking, lipan, dan cacing-cacing berwarna cokelat bening’ (hal. 111).

Uniknya, meski berkisah tentang lokalitas yang cukup pekat, dalam buku ini sosok sang pengarang, Benny Arnas, ditampilkan melalui dua foto yang memberi citra metroseksual. Apakah ini sebentuk strategi marketing? Entahlah, yang jelas pengemasaan buku ini memang mengesankan, apalagi dengan hiasan ilustrasi di setiap cerpennya yang terwujud atas kolaborasi dengan sejumlah penulis lain seperti Bamby Cahyadi, Hasan al Bana, dan R. Giryadi.

Apakah produktivitas Benny sudah seimbang dengan kualitas karyanya? Sabetan Bulan Celurit Api ini adalah bukti.[]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *