Menulis Membangun Keadaban

Oleh: Azwar Sutan Malaka[1]
Dimuat di Singgalang, 30 Okt 2016

 

Azwar Sutan Malaka

Pendahuluan

Ranah Minang sejak dahulu hingga sekarang tidak henti-henti melahirkan para penulis. Mereka menghiasi perjalanan Indonesia dengan karya-karya besar. Sebutlah nama-nama seperti Marah Rusli, Hamka, AA. Navis, Taufik Ismail, dan Wisran Hadi sebagai sebagian nama yang menghiasi sastra Indonesia pada masa dulu. Setelah itu lahir generasi-generasi sastrawan Minangkabau seperti Gus Tf Sakai, Darman Moenir, Harris Efendi Thahar, Upita Agustin, Sastri Bakri dan lain sebagainya.

Sekarang ada nama-nama seperti Ahmad Fuadi, AR. Rizal, Maya Lestari Gf, dan Dona Sang mewakili para novelis. Yetti AKA, Elly Delfia, Rommi Zarman, Ragdi F. Daye, Alizar Tanjung mewakili para cerpenis. Esha Tegar Putra, Zelfeni Wimra, Iyut Fitra mewakili para penyair. Pinto Anugrah, S Metron, Mahatma Muhammad, Mila K Sari mewakili seniman panggung (teater) dan tentunya banyak nama lagi yang teramat banyak jika disebutkan satu persatu.

Mereka, para penulis ini mengawali proses kreatif mereka di Ranah Minang. Mereka tumbuh berkembang dengan berbagai kegiatan kreatif dalam melahirkan karya-karya. Melihat dinamika intelektual yang terjadi di Minangkabau, ke depan, saya menduga Ranah ini akan terus melahirkan para penulis yang akan menuliskan  Indonesia dan dunia dalam karya-karya mereka.

Namun pertanyaan yang selalu muncul dalam berbagai kegiatan workshop, pelatihan atau seminar kepenulisan adalah mengapa kita harus menulis? Mengapa kita harus menulis seperti sastrawan-sastrawan yang disebutkan di atas? Apakah hanya sebagai upaya melanjutkan tradisi orang Minang atau apa? Apakah menulis itu hanya untuk kepentingan popularitas, bergabung dengan komunitas elit para intelektual? Pertanyaan lain yang sering muncul adalah bagaimana memulai kegiatan menulis itu dan bagaimana cara menulis? Apa yang dilakukan penulis-penulis itu sehingga tulisan mereka sampai kepada pembaca? Saya rasa, tulisan ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

 

Menulis adalah Kerja Membangun Keadaban

Mengapa harus menulis? Menjawab pertanyaan ini tentu banyak hal yang akan muncul. Salah satunya saya mengatakan bahwa menulis adalah kegiatan untuk membangun masyarakat, tulisan ada untuk memenuhi hak-hak warga dan menulis adalah kegiatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Lebih jauh boleh disebut, menulis adalah kerja peradaban untuk meningkatkan mutu dan kualitas hidup manusia.

Sebagai umat Islam, barangkali ada hal yang lebih mendasar untuk menjawab pertanyaan di atas, mengapa menulis? Untuk menjawab hal tersebut bisa dilihat dalam al Quran pembuka surat al Alaq, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” Kata pertama dalam ayat yang berdasarkan sejarahnya itu diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang buta huruf, adalah “bacalah”, membaca. Artinya Islam menempatkan urusan membaca pada posisi yang penting. Perintah membaca kalau diteruskan tentu juga akan diikuti dengan kegiatan menulis.

Pada catatan-catatan lain barangkali bisa dilihat pendapat sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW seperti Ali bin Abi Thalib yang mengatakan “ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Umar bin Khattab menyatakan “ajarilah anak-anakmu dengan karya sastra, karena sastra akan menjadikan anak yang penakut menjadi pemberani.” Kalau kita deretkan beberapa pendapat lagi, tentu masih banyak jawaban-jawaban yang ditemukan dari pertanyaan mengapa harus menulis, seperti pertanyaan di awal tulisan ini.

Alasan lain untuk, menjawab pertanyaan pada pembuka tulisan di atas, saya ingin menyampaikan bahwa realitas yang terjadi saat ini adalah globalisasi dan kemajuan teknologi serta modernisasi informasi sudah sampai ke ruang-ruang pribadi manusia. Bisa dibayangkan saat ini informasi dalam bentuk apapun (tulisan, audio, video) bisa diakses dalam genggaman tangan manusia. Semua manusia, tidak memandang usia; kecil, dewasa, atau orang-orang tua dan lanjut usia sekalipun. Realitas ini bisa dibuktikan dengan anak-anak TK yang sudah akrab dengan game dari android orang tuanya, anak-anak SD yang sudah fasih bagaimana cara mendownload film di youtube, pelajar dan mahasiswa yang menjadikan media sosial sebagai sumber informasi utama dan orang-orang tua yang sekarang sibuk membaca grup WA, Line atau BBM. Semua hal itu bisa dilakukan di dalam ruang yang sangat pribadi mereka, di dalam kamar atau bahkan di dalam kamar mandi.

Bayangkan saja, semua media tersebut baik yang konvensional sampai yang modern membutuhkan isi(content) untuk disampaikan kepada pembacanya, pendengarnya, atau kepada penontonnya. Isi dari hal yang akan disampaikan tersebut semuanya berawal dari tulisan. Bagi saya, inilah jawaban yang cukup penting saat ini dari pertanyaan mengapa harus menulis seperti dilontarkan pada awal tulisan ini. Saya merasa penting untuk menjadi bagian dari orang-orang yang mengisi content media yang saat ini menjadi bagian penting hidup manusia.

Saya percaya bahwa orang-orang yang baik akan menghasilkan karya-karya yang baik juga. Sebaliknya orang-orang jahat juga akan menghasilkan karya-karya yang jahat pula. Karya-karya yang baik itu tentu akan bermanfaat untuk menggerakkan orang-orang kepada kebaikan, sementara karya-karya yang jahat juga bisa mendorong orang-orang untuk berbuat kejahatan. Contohnya, jika tulisan-tulisan yang dibaca adalah tulisan cabul dan sarat pornografi setidaknya pembaca-pembacanya akan didorong berbuat cabul dan tindakan-tindakan pornografi. Sementara itu tulisan-tulisan yang baik yang mengisahkan tentang kebaikan-kebaikan tentu akan mendorong pembacanya untuk berbuat baik. Menurut banyak ahli media saat ini, media menjadi penguasa bahkan sampai ke ruang privat/pribadi manusia, siapa yang menguasai media dia akan menguasai dunia. Kalau ruang-ruang pribadi manusia saat ini dipenuhi oleh tulisan-tulisan yang tidak baik maka anda telah zalim pada generasi anda dengan membiarkan mereka bergelimang dalam bacaan-bacaan yang tidak baik. Oleh sebab itu penting kiranya untuk mendorong orang-orang yang baik untuk menulis agar content media banyak dipenuhi oleh karya-karya yang baik.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana memulainya dan bagaimana cara menulis itu? Menulis adalah budaya. Menulis adalah kerja cendekia membangun peradaban. Oleh sebab itu kegiatan menulis tidak bisa dilakukan sekali jadi saja. Sekarang anda ingin menulis, lalu sekarang juga anda bisa menghasilkan tulisan, hal itu adalah suatu yang mustahil. Sebagaimana layaknya sebuah budaya, dia adalah akumulasi dari proses panjang yang harus dilakukan para cendekia atau intelektual. Apa saja budaya para cendekia itu? Budaya cendekia yang serangkai, seiring sejalan itu adalah membaca, berdiskusi dan menulis.

Membaca adalah langkah awal untuk melahirkan karya-karya besar kepenulisan. Tidak akan lahir sebuah karya tulis yang baik tanpa didahului oleh kegiatan membaca. Membaca adalah proses menyerap pengalaman-pengalaman orang lain yang tidak dialami oleh seorang penulis. Dengan banyak membaca, dia akan banyak menyerap pengalaman orang lain. Pengalaman-pengalaman dan kemudian boleh disebut pengetahuan orang lain inilah yang memperkaya pengalaman dan pengetahuan penulis.

Walaupun menulis adalah kerja personal yang dilakukan oleh orang perorang, akan tetapi menulis tidak bisa dilepaskan dari kegiatan diskusi. Diskusi ibaratnya adalah sebuah tempat untuk memberi lecutan kepada penulis untuk tetap berkarya. Diskusi, bertemu dengan komunitas yang memiliki pengalaman dan pengetahuan terhadap suatu hal bisa memperkuat daya dorong untuk terus menulis. Banyak penulis menemukan inspirasi untuk menulis dari kegiatan diskusi.

Setelah budaya membaca dan diskusi tumbuh dalam diri seseorang, maka yang bersangkutan sudah siap untuk menjadi penulis. Dari dua kegiatan tersebut maka seseorang bisa menuangkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan. Kalau membaca dan diskusi itu seperti mengisi air ke dalam gelas, maka menulis adalah proses menuangkannya ke gelas lain.

 

Penulis Peradaban

Selanjutnya bicara lebih jauh tentang penulis peradaban, maka penulis peradaban itu adalah penulis yang baik, maka penulisyang baik itu sebagaimana yang disandangkannya haruslah seseorang yang baik secara pikiran dan perbuatan. Menjadi orang baik bukan hanya dimulut atau pengakuan saja, tetapi juga pada setiap sikap dan tinagkah kepribadiannya. Maka setiap penulis yang baik itu akan tercermin dalam setiap karyanya.

Seorang penulis yang baik itu di antara kepribadian yang harus dimilikinya adalah: pertama, jujur. Penulis yang baik harus jujur terhadap dirinya sendiri dan jujur terhadap apa yang dituliskannya. Jujur dalam memberikan informasi kepada pembaca. Penulis yang baik tentu tidak akan membuat tulisan yang mendorong pembaca untuk berbuat jahat atau menulis hanya demi kepentingan dirinya pribadi atau kelompoknya. Kejujuran seorang penulis tidak hanya akan dipertanggungjawabkan kepada pembaca tulisannya, tetapi juga kepada Allah SWT.

Kedua, terpercaya. Penulis yang baik harus bisa diamanahkan sebuah tanggung jawab. Baik oleh masyarakat ataupun oleh objek yang ditulisnya. Artinya seorang penulis yang baik haruslah mampu mengerjakan segala hal untuk menghasilkan karya yang baik, yang bermanfaat untuk orang banyak. Penulis yang baik itu adalah penulis yang bisa dipercayai hasil karya yang dituliskannya.

Ketiga, menyampaikan. Menyampaikan dalam hal ini tentu saja memberikan informasi kepada masyarakat luas, yang disesuaikan dengan idealisme seorang penulis. Sebagai seorang penulis, maka ia bertanggung jawab menyampaikan kebenaran-kebenaran yang seharusnya diterima oleh masyarakat banyak. Pada dasarnya seorang penulis adalah orang tempat lalu sebuah informasi atau pengetahuan seperti polongan air yang menghubungkan tempat yang satu dengan tempat yang lain, sehingga air bisa mengalir. Penulis harus mampu menyalurkan informasi dari sumber kepada khalayak. Selanjutnya tugas penulis adalah mengolah (menuliskan) dengan indah sehingga terasa asyik dibaca oleh pembaca, tanpa membumbui dengan kebohongan.

Keempat seorang penulis harus benar, penulis yang baik hanya menuliskan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat banyak. Ia hanya akan menuliskan sesuatu yang benar. Penulis yang baik tidak menuliskan sesuatu yang menyesatkan, apalagi meresahkan masyarakat. Penulis yang baik membuat tulisan tanpa rekayasa dan juga tanpa didasari oleh kepentingan orang lain, kecuali demi kepentingan kebenaran semata.

 

Penutup

Menulis adalah kerja keadaban. Menulis adalah usaha mendokumentasikan paradaban manusia untuk generasi selanjutnya. Sementara itu, untuk dirinya dan masa yang tengah dia jalani menulis adalah merupakan kegiatan berkontribusi untuk membuat kehidupan masyarakat menjadi baik dan lebih baik. Hal itu bisa dilakukan dengan menuliskan hal-hal yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Menulis adalah budaya yang membutuhkan proses untuk melakukannya. Jika ingin menjadi penulis, maka ikutilah prosesnya. Mulailah membaca, berdiskusi dan menuliskannya. Setelah tulisan selesai, kirimlah ke media agar bisa sampai kepada pembacanya.

 

Jakarta, 10 Oktober 2016

[1] Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *