Riwayat Tudung Saji

Oleh Dodi Saputra

untitledAlmanak merah kali ini diguyur hujan lebat. Sejak Subuh tadi tak tampak sebatang hidung pun keluar rumah. Tak terkecuali Sunar dan rumah di sebelahnya. Dalam rumah itu hanya remang-remang semburat sinar. Pagi ini begitu merasuk ke tulang. Berselimut adalah pilihan orang-orang untuk memanjakan mata lelah mereka. Agaknya, setelah menemani malam, mata itu cukup berat. Seperti ada perekat antara kelopak. Sunar terpaksa membuka selimut untuk ke sumur. Sedingin ini, Sunar kerap ke kamar kecil. Sembari berjalan menahan sesak, matanya masih kabur melihat benda-benda di rumahnya. Semua biasa saja; lukisan kakbah, gambar rumah gadang, dan kaligrafi. Tetapi sesampai di pintu dapur, pandangannya menangkap sesuatu yang beda.

Matanya terbuka lebar saat melihat isi dalam tudung saji. Dari celah-celah kecil itu tampak hidangan berasap. Aroma masakan mulai tercium dan menggeliat di hidungnya. Kakinya perlahan melangkah, mendekati meja kayu di dapur itu. Gemetar jemarinya saat melihat sajian itu. Tangan kanannya mengangkat tudung saji dan menyandarkan ke sudut papan. Kini di hadapannya ada hidangan, sangat menggiurkan. Gilingan cabai kemerahan lagi lembut bercampur ikan teri. Di sebelahnya lagi ada rebusan pucuk ubi muda. Ada pula irisan mentimun di piring kecil di antara keduanya. Sementara nasi putih mengepul dari bakul bambu itu.

Hari ini adalah keberuntungannya. Kesempatan semacam ini begitu langka didapati. Sungguh ini merupakan hari bersantap ria. Sementara dari sela-sela celah papan dapur ada sepasang mata menyelinap. Dialah perempuan berkain sarung dengan kerudung putih bermotif batik. Tanpa sepengetahuannya, ada perempuan setengah baya itu dari luar dapur, Ya, istrinya mengintip tingkah Sunar. Sang istri sesekali menelan ludah. Ya, Sunar begitu lahap makan pagi itu. Kesempatan itu tak ia sia-siakan terlewat begitu saja. Mulai dari menyendok nasi putih, kemudian mengambil sambal lado, pucuk ubi, dan mentimun. Tangan dan mulutnya sahut menyahut. Apalagi kunyahan dalam mulutnya.

Sungguh menggugah selera orang yang melihatnya. Mumpung ada sepiring nasi hangat di meja makan. Perutnya yang sejak semalam kering kerontang, perlahan mulai basah dan berisi hidangan itu. Dalam waktu singkat, laparnya sejak berpisah dari dipan itu, kini hilang sudah. Entah mengapa perut pagi ini ingin cepat diisi. Yang jelas saat ini ia harus menuntaskannya, selagi ada di depan mata. Kalau hanya nasi hangat tak begitu heran. Satu hal yang membuatnya berambisi memanfaatkan kesempatan itu adalah hadirnya sambal lado dan pucuk ubi. Di tengah santap itu ternyata tangannya kelihatan gemetar. Seperti tak makan berhari-hari saja.

Kenapa kau tak bilang, Uda? Sinur membatin dalam dadanya. Kalau Sinur tahu suaminya mau makan pagi, pasti ia akan membuatkan setiap hari. Ya, mungkin begitulah lelaki yang satu ini. Ia tak banyak kehendak. Melihat penghasilan bulanan seadanya, Sunar lebih memilih menerima apa saja sajian di meja makan setiap pagi. Terkadang segelas teh panas, secangkir kopi panas, dan tak jarang air putih. Kalau pun ada penganan, itu adalah tempe atau tahu goreng. Sesekali juga pernah ada telur ceplok atau dadar. Semua dimakan dan tak banyak komentar. Hari ini Sinur sengaja menghilang dari meja makan itu. Ia ingin melihat laku suaminya sebangun tidur dengan hidangan yang berbeda dalam tudung saji itu.

Dari sudut mata Sinur tak terasa ada aliran bening. Perlahan mengalir ke pipi. Sebagian menitik di tanah. Ternyata dari sekian macam lauk pauk dan sayur mayur, lelaki itu paling suka sambal lado dan pucuk ubi. Hadirnya santapan itu mampu menggugah selera makannya. Sedari menikah dengan perempuan itu setahun yang lalu sampai saat ini, makanan itu menjadi teman nasi putih. Apapun masakan perempuan itu, tak ada yang lebih nikmat dibanding masakan hari ini. Tetapi perempuan itu tak mampu menyiapkannya setiap pagi. Ia juga tak tega melihat Sunar terlalu banyak makan sambal lado, sebab ia khawatir kalau-kalau tiba-tiba Sunar sakit perut usai makan. Tetapi, dalam saku Sinur sudah sedia sebotol kecil minyak angin. Ia pun harus siap mengolesi perut Sunar dengan minyak angin, jika nanti perutnya mual dan sebagainya. Itulah Sunar. Menahan lapar bukanlah perkara sepele. Saking nikmatnya, ia bahkan tak sempat menanyakan keberadaan perempuan itu; sudah makan atau belum, sudah bayar hutang atau belum.

***

Kedai kopi itu kini menjadi tempat kumpul paling ramai. Sunar tak jarang minum kopi meskipun setengah gelas di kedai Pinah. Tetapi tak semua kopi bisa dibayar hari itu. Ia memastikan pekan depan bisa melunasinya. Bila dihitung-hitung, hutangnya sudah sepanjang buku catatan Pinah. Pak Bor yang sehari-hari membeli barang belanja dari pasar terkadang sempat terkejut menemukan robekan-robekan bungkusan kertas rokok. Kertas itu diikat karet gelang agar tidak bercerai-berai.

“Pinah, tolong tagih uang orang-orang ini nanti malam!” Ujar Pak Bor seraya melihatkan ikatan kertas rokok itu. Tumpukan robekan kertas rokok bertulis angka-angka dan nama orang-orang di sekitar kedai. Sesekali ia membuka ikatan karet gelang itu. Rata-rata nama  penghuni malam dan ibu-ibu di sekitar kedai ini ada. Sunar termasuk nama teratas dari tumpukan itu. Malam ini uang-uang itu harus terkumpul. Sebab, esok adalah hari Pak Bor membeli barang-barang dagangan di pasar. Saban Jumat pagi ia mengendarai sepeda motor keranjang. Itulah yang digunakan meletakkan kardus dan sayur-sayuran.

Agaknya itulah yang membuat Sunar enggan menanyakan pembayaran hutang pada istrinya. Hasil penjualan cabai musim panen lalu sudah habis. Musim panen pekan depan adalah pengharapan satu-satunya. Celengan bambu yang dibuatnya sudah dipecah pula buat keperluan dapur. Baginya, biarlah tak mengopi asalkan makan dan minum tetap setiap hari. tetapi untuk merokok, Sunar hampir kehilangan akal bagaimana menghentikannnya. Inilah yang dilakukannya di kedai. Kopi setengah dibayar setengah pula.

Ada keinginannya melunasi hutang. Namun, apalah daya, sawah dihantam banjir pekan lalu. Air keruh masih menggenang. Hanya pucuk-pucuk padi muda yang tampak digoyang-goyang aliran air. Untung ladang cabai merah masih tersisa. Hanya itulah pengharapan Sunar. Semenjak kelahiran anak pertamanya itu, istrinya mulai jarang ke ladang. Dalam satu bulan, hanya beberapa kali bisa ke sana. Itu pun karena harus memasak di gubuk dan menjaga cabai. Menyeberang sungai kecil adalah kegamangan bagi istrinya. Terlebih ada tangan jahil peladang lain yang mengambil cabai sembarangan. Ya, tanpa permisi pada Sunar. Sinur terpaksa manjadi penjaga sehari itu sambil mengasuh anak di gubuk.

Menjelang senja mereka bergegas pulang. Sinur ingat betul kalau malam ini akan datang gubernur ke surau. Ia ingin melihat wajahnya langsung. Kalau sempat nanti ia akan mengucapkan terima kasih kepadanya. Sebab setelah ia terpilih, di daerah ini bisa masuk air dan listrik. Sinur ingat betul susahnya mencari air bersih di sumur yang keruh. Juga payahnya membaca ayat suci di malam hari dengan sebuah lampu togok. Satu lagi, setelah ia duduk menjadi gubernur, jalan yang sehari-hari dilalui orang-orang kampung menuju tempat kerja, kini sudah diaspal. Jadi sejak saat itu, tak ada kabar orang-orang jatuh tergelincir ke sungai karena jalan buruk. Seperti kabar kakek berambut putih yang terjun ke sungai. Rem sepedanya tak mempan menahan tanah becek. Ia terpental dan hasil panennya terbawa arus.

Cukup sudah kabar kecelakaan di sepanjang jalan ini. Berkat itulah timbul hasrat membalas kebaikan itu. Ya, setidaknya menghadiri acara malam ini adalah bentuk perhatian dan balasan kepadanya. Ramai warga yang datang malam ini membuat senyumnya melebar. Barangkali ia bangga melihat warganya datang berduyun-duyun memenuhi surau kayu itu. Jelas sekali surau malam ini gemerlap. Dari gerbang terluar sudah terpasang lampu-lampu bambu berjejer hingga ke pagar surau. Inilah sambutan mereka, menanti orang-orang berwajah bersih, berpakaian rapi, dan bermobil mewah.

***

Kerumunan orang-orang sudah memenuhi setiap baris tikar itu. Sinur menandai Suaminya berkopiah cokelat bercorak itik pulang petang. Dari sekian banyak kepala, tanda itu begitu mudah dilihat dari barisan perempuan di belakang. Sebab setengah atas kain hijab dibuka, sementara setengahnya lagi dibiarkan tertutup. Sunar memandang lekat-lekat gubernur yang masuk dan duduk di dekat mimbar. Semua mata tertuju pada setiap orang yang berbicara. Satu demi satu mikrofon berpindah tangan. Tiba di tangan gubernur adalah saat yang ditunggu-tunggu. Ada satu kalimat yang ditangkap Sunar.

“Ingat mati dan jaga keluarga dari neraka,” demikian agaknya suara itu menggema hingga ke lubuk hati Sunar. Ia bahkan tak pernah membayangkan rasanya mati, terlebih belum melunasi hutang-hutangnya. Apalagi memastikan keluarganya selamat dari neraka. Ah! Sepulang dari surau itu, Sunar bertingkah tak seperti biasa. Ia lebih tenang dari sebelumnya. Bukan tenang seperti air. Bukan pula tenang layaknya angin. Kali ini ia tak banyak kata-kata. Bila berjalan pun lebih banyak menunduk. Langkah kakinya tak singgah barang sebentar, melainkan langsung menuju rumah. Padahal sebelum acara tahunan itu, ia paling suka bercengkerama bersama orang-orang di kedai. Terlebih saban malam, ia tak pernah absen untuk bermain domino di meja panjang itu.

Benar. Saat mendengar ceramah tadi, Sinur melihat suaminya tertegun menyimak kata-demi kata dari mimbar itu. Ia bahkan tak percaya dengan lelaki itu malam ini. Sebab ia tahu betul perihal suaminya yang tak bisa duduk berlama-lama, terlebih di surau. Usai mendengar ceramah itulah Sinur tak juga banyak bicara. Ia mengikuti lelaki itu dari belakang. takut terjadi apa-apa, saat ini diam adalah pilihan terbaik barangkali. Bahkan sampai di kamar sekali pun. Sunar masih berdiam diri. Ia rebah di dipan kayu dan menarik selimut. Rintik hujan mulai terdengar dari atap seng. Rintiknya semakin deras mengalahkan bunyian serangga malam di sekitaran rumah. Curahan air itu menutup malam yang dingin ini. Sinur tak ingin mengusik lelaki itu. Ia tidurkan bayinya, menyelimutinya. Bibirnya bergerak-gerak menyebut kalimat pengantar lelap.

***

Sunar pulang bekerja menjelang senja. Perutnya sudah sejak pagi tak masuk nasi. Hanya air putih dan singkong rebus saat sahur tadi. Ia duduk di kursi kayu dekat pintu. Di arahkannya pandangan ke belakang. Di sana tampak perempuan berbaju daster. Kelihatan sedang mencuci pakaian di dekat sumur. Ia melihat lagi ke arah sang istri. Ternyata menyapu rumah. Sunar masih mengenakan pakaian ladangnya yang berbau tanah. Melihat perempuan itu beralih mengambil sapu ijuk, Sunar lebih memilih mendekat ke cermin. Ia mengambil pengerik kumis dan mulai mencukurnya. Dari balik tirai pintu ini, bayinya tampak tertidur pulas. Bau minyak bayi masih bertebaran dari dalam kamar. Dari dalam cermin itu, tampak perempuan itu membakar gundukan sampah dedaunan. Sampah plastik juga bertebaran. Ya, sampah makanan ringan milik orang-orang semalam. Tepat di sebelah kiri kedai Pinah, berserakan kertas kartu remi. Begitu pemandangan saban pagi di halaman pemilik kedai berperut besar itu. Sunar langsung mengambil handuk dan membersihkan badan. Tak berapa lama lagi ia harus memenuhi ajakan teman lamanya di kampung seberang.

Benar. Di perjalanan menuju ladang tadi pagi Sunar berpapasan teman lamanya, Meri. Ia kelihatan tengah sibuk menyebar selebaran. Isinya pesta nanti malam. Sunar langsung membaca kata-kata dalam kertas itu. Bibirnya tersenyum simpul tiba membaca hidangan makan malam. Dalam pikirannya sudah melayang piring-piring berisi lauk pauk sedap rasa. Berlarian pula daging ayam dan daging sapi dari satu meja ke meja yang lain. Sementara minuman segala warna tercurah di gelas-gelas kaca. Jakunnya naik turun seiring lenyapnya angan-angan yang berputar-putar di kepalanya. Demikian Sunar mendamba pertemuan malam itu. Ia begitu berhasrat memutar waktu dengan tangannya, sebagaimana memutar gilingan padi musim panen lalu. Jarang sekali ada undangan semacam ini. Sayang sekali kalau sempat melewatkan kesempatan ini. Sungguh!

Usai berbuka, ia berpamitan pada istrinya. Sunar segera mengayuh sepeda ke rumah temannya itu. Kabarnya ada acara makan-makan. Bertepatan belakangan ini kantong Sunar betul-betul bolong. Benar. Di ruang tamu itu sudah berjejer hidangan lengkap dengan buah-buahannya. Mereka larut dalam perbincangan nostalgia. Perut mereka kelebihan muatan. Dipuas-puaskan pesta malam itu. Tiba masanya beranjak pulang, dalam kepalanya melintas bayang-bayang Sinur tengah menimang anak di rumah. Sebentar saja, Sunar teringat pula isi tudung saji tadi pagi. Diam-diam ia membungkus makanan di dalam lembaran tisu.

***

Menelusuri malam dengan sepeda menjadi keharusan. Terlebih melewati pesawangan dan rumbun bambu sepanjang sungai. Termasuk ladang jagung milik Pak Bor yang menutup tanah kampung ini. Dari ujung ladang ini, muncul dua sosok memakai penutup kepala menghadang. Tanpa berkata-kata, sebatang kayu balok mendarat di kepala Sunar. Pandangannya berputar-putar, badannya oleng bukan kepalang. Semua menjadi gelap dan tak ada suara, bahkan dirinya terbang ke langit serba hitam. Dalam kelam itu, ia bertemu api yang menyala-nyala. Juga Pak Bor yang mengejarnya sampai terseok-seok. Entah apa peristiwa setelah itu. Sunar terbangun sudah di ilalang tepi sungai.

Setelah menyadari keberadaannya saat ini, Sunar tergeragap melihat pandangan di sekitarnya. Matanya disilaukan sinaran dari ufuk timur. Ia tak begitu ingat perihal hari ini; termasuk membayar hutang di kedai Pak Bor. Tetapi kilasan bayangan istri dan anaknya berlalu lalang. Perlahan kepalanya mulai tenang. Tetapi ponselnya tak ada lagi. Ya, ponsel dan dompet di sakunya digasak orang-orang semalam. Padahal dalam saku itu, juga ada amplop putih tebal berisi uang pinjaman dari pesta itu. Dalam kepala yang berputar itu, kaki yang gemetar itu, perut yang bersuara itu, Sunar beranjak dari ilalang berembun.

Kini ia mesti meniti jalanan pulang tanpa sepeda. Hanya pakaian di badan yang dibawanya hingga sampai di rumah. Tak ada siapa-siapa di dalamnya. Sepagi ini, biasanya Sinur menyapu halaman depan atau membakar sampah. Bisa jadi mencuci piring di sebelah sumur. Tetapi setelah dicari sekeliling rumah, batang hidung perempuan itu tak jua bertemu.

“Sinur…, Sinur…, Uda pulang!” Suara seraknya memenuhi isi rumah. Kakinya dibawa memutar pekarangan rumah. Berulang-ulang ia memanggil tetap tak ada orang. Dalam langkah kaki itu, perutnya melilit minta makan. Kerongkongan itu juga kering. Ia mengambil segelas air putih dan meminumnya. Gelas pun diletakkan. Tak cukup minum, ia ingin tahu apa di sebelah cerek. Matanya menangkap dua piring kosong dan satu mangkuk plastik terbalik dalam tudung saji. Ini bukan hidangan seperti biasa. Maka dilemparkannya piring ke cermin, ia hempaskan cerek, banting periuk, dan ditendangnya kursi. Aaarrrgghhh…!

Tubuh kurus jangkung itu rebah seketika. Cermin tempat bayangan perempuan itu pun kini hanya tinggal kepingan kaca yang terserak di lantai. Beberapa langkah Sunar berjalan. Kakinya terpijak salah satu serpihan kaca. Sontak ia terperanjat.

Astaghfirullah.” Sunar menutup mulutnya dan melihat sekelilingnya. Ia seakan tak percaya pada kata yang barusan terucap dari mulut hitamnya itu. Dari pintu dapur berasap itu, perempuang itu tengah membawakan sepiring sambal lado dan pucuk ubi sembari menggendong bayi yang masih tertidur pulas.

Uda, kita makan lagi!” suara parau perempuan muncul dari pintu dapur. Tapi, wajahnya pucat, matanya kehitaman, langkahnya pelan, juga darah berlumuran di baju dan gendongan itu. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *