Lelaki yang Menyisir Rindu

Cerpen Asma Nadia
Dimuat di Republika 30/01/2005

Ibu tua dalam kebaya, menangis tanpa suara. Matanya nanap menatap laut lepas. Pada ombak-ombak kecil berkejaran. Dulu sekali, dia dan tiga anaknya sering menghabiskan waktu di sana. Mereka berempat saja. Sebab suami, yang telah membawanya ke tanah serambi itu, telah berpulang ketika Din, anaknya yang paling kecil baru belajar jalan.

Berempat saja. Berlari di antara kaki-kaki ombak yang lincah menggulung. Bermain pasir, dan berlomba mengejar perahu nelayan yang menepi. Dari pinggir laut, mereka biasa menikmati rumah-rumah bagus yang terletak tak jauh dari tempat tinggal mereka. Rumah-rumah orang kaya, katanya. Sambil berkhayal, seperti apa rasanya tinggal di sana. “Kaki harus bersih,” kata Yanti, anaknya yang paling tua dan terkenal rapi. “Pasti makan enak terus!” timpal Azhar, anaknya nomor dua yang berbadan besar.

Sementara Din, yang bungsu diam saja. Hanya matanya memandang lekat. Barangkali membandingkan bangunan kokoh itu dengan rumah mereka yang semi permanen. Ruangan satu kamar, yang sebagian besar masih berupa bilik. Sebagai ibu, telah dia beri segala yang bisa. Bekerja apa saja untuk menyekolahkan anak-anak, meski napasnya tak cukup membawa mereka ke perguruan tinggi. Hanya si bungsu saja yang kini bekerja di Banda, sempat menamatkan kuliahnya. Sementara anak-anak yang lain hanya tamatan SMA.

Begitu cepatnya waktu. Kedua matanya yang cekung masih merayapi senja yang turun diantara barisan pohon-pohon kelapa. Rasanya belum lama dia dan anak-anak bermain di sana. Melihat orang-orang memanjat batang kelapa, dan memetik buahnya yang bergerombol di pucuk. Ibu tua dalam kebaya mengapus air matanya. Ia tak mengerti kenapa kesedihan itu semakin kental dari tahun ke tahun. Mungkin usia, pikirnya. Mungkin juga kesendirian. Sejak anak-anak lulus SMA, dia mulai merasa kesepian. Seolah berlomba-lomba mereka meninggalkannya, meski dengan alasan yang bisa dimengerti, bekerja. Dan waktu yang berkelebat cepat, tiba-tiba sudah membawa mereka pada tahapan lain dalam kehidupan, menikah dan punya anak.

Harusnya dia bisa mengerti, dan bukan meratapi diri. Mungkin mereka sibuk. Perempuan itu masih menangis sesenggukan tanpa suara. Pipinya yang keriput, basah. Sudah dua hari raya, keluarga besar mereka tak berkumpul.

Anak-anak sudah tak mengingatnya lagi. Padahal hari ini, pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan merapikan rumah, lalu masak ala kadarnya. Ini hari jadinya. Dulu dia dan anak-anak selalu membuat syukuran sederhana untuk mengingat bertambahnya usia. Bukan upaya membawa gaya hidup Barat dalam kehidupan mereka. Tapi mereka jarang makan enak, dan makan enak itu jadi lebih berarti ketika disesuaikan dengan tanggal kelahiran anggota keluarga. Dengan cermat pula, perempuan berkebaya itu menyimpan uang sedikit demi sedikit, agar anak-anak bisa makan istimewa, beberapa kali dalam setahun. Dan hari ini hari jadinya. Perempuan tua dalam kebaya menutup jendela kayu. Berhenti berharap. Satu dua air mata masih menitik. Anak-anak sudah tak mengingatnya lagi!

Laki-laki itu menginjak pedal gas dalam-dalam, hingga mobilnya terasa terbang. Dia sudah terlambat. Seharusnya kemarin. Sesekali diliriknya jam di pergelangan tangan. Tak sabar ingin segera sampai. Dia ingin segera menemui Mak, meminta maaf atas keterlambatannya. Perasaan rindunya berbaur dengan rasa bersalah yang kental, membayangkan perempuan yang melahirkannya menunggu sia-sia. “Kakak tak bisa datang, Din. Abang pun masih repot dengan kerjaannya. Tak bisa ditinggalkan,” suara Yanti di telepon kemarin, “sampaikan salam pada Mak.”

Din hanya mengangguk. Sambil dalam hati menghitung, ini sudah dua tahun, Yanti yang tinggal di Medan tak pulang. Sementara Azhar beralasan panjang meski tak jelas, namun intinya sama. “Tak bisa, aku Din. Kau saja, ya?” Padahal Yanti dan Azhar pula yang memintanya menunda kunjungan itu. “Cuma sehari, Din. Kakak masih cari waktu bicara sama si Abang.” “Kalau hari ini tak bisa. Besok pagi-pagi sekali kita jalanlah.” Din mengembuskan napas kesal. Kalau tahu begitu, lebih baik kemarin dia berangkat sendiri. Apalagi semuanya sudah siap. Dia memang tak pintar bicara seperti kedua kakaknya. Tapi mimpi itu didekapnya sejak lama. Sejak dia sadar keinginan yang disimpan kuat-kuat di bilik hati Mak, meski perempuan berkebaya itu tak pernah mengucapkan.

Itu pula alasan Din belum mau menikah. Dia bisa melihat bagaimana kedua saudaranya serta merta terampas oleh rutinitas berkeluarga, dan pelan-pelan berkurang perhatian pada Mak.

“Anakku sakit, kalau dipaksa mana bisa istirahat di rumah Mak!” “Aduh, lagi tanggung bulan nih, Din.”

Padahal tanggung bulan atau tidak, Mak mereka nyaris tak pernah meminta apa-pun. Cukup kedatangan tiga permata hatinya. Mata tuanya akan segera bercahaya.

“Istriku tak enak badan, kepalanya pening-pening terus. Sampaikan maafku pada Mak.”

“Si Abang tak memberi izin, Din. Soalnya ada acara di gubernuran. Tak mungkin dia ke sana sendiri tanpa kakak, kan?”

Kasihan Mak, pasti rindu.

Din, laki-laki berusia tiga puluh tiga tahun itu, menekan pedal gas lebih dalam. Tekadnya kuat. Dia sudah harus melihat wajah Mak, saat matahari pertama terbit nanti.

Suara orang mengaji di surau baru berakhir ketika kijang tuanya berhenti. Lelaki itu menengok ke arah laut yang bergejolak tenang. Laut yang menyimpan sejarah masa kecil mereka. Laut yang membuktikan, betapa tegarnya Mak membesarkan ketiga anaknya. Tangan Din mengetuk pintu, bersama salam yang dibisikkannya. Suara sandal diseret dari dalam terdengar mendekat. Tak lama pintu terbuka, sesosok perempuan tua dalam balutan kebaya yang lusuh menatapnya beberapa kejap. Lalu memeluknya tanpa kata-kata.

“Mau kau ajak kemana Mak?”

Din tersenyum saja. Hati-hati dia menuntun langkah Mak ke mobil.

“Tak jauh. Mak tenang saja.”

Perempuan berkebaya itu tak bertanya lagi. Wajahnya lurus menghadap ke depan. Tak ada yang tahu betapa hatinya melonjak karena kebanggaan yang terselip. Anaknya si Din, sudah jadi orang tampaknya. Sudah bisa pula membawa Mak-nya berkeliling naik mobil.

“Jangan cepat-cepat, Din.”

Din tersenyum, disorongkannya wajah ke arah Mak. Dikecupnya lembut dahi yang penuh guratan usia itu.

“Tenang saja, Mak.”

Din, anaknya yang paling muda memang berbeda. Mungkin karena dia belum berkeluarga. Dibandingkan yang lain, si Bungsu itu lebih perhatian. Malah sejak dua tahun ini, hanya Din saja yang setia mengunjunginya. “Kemarin kemana kau, Din? Mak menunggu sampai maghrib.” Din memutar setirnya. Kendaraan bergerak pelan. Di sepanjang sisi jalan, laut berayun lembut. Dia sudah di sini sekarang, dekat dengan Mak. Tapi perasaan bersalah karena membiarkan Mak menunggu kemarin, masih mengganjal di hatinya. Rasanya seperti menjadi Amad Rhang Manyang, anak durhaka serupa Malin Kundang dalam mitos Aceh, yang sering diprotesnya. Ibu mengutuk anak rasanya kejam sekali. Sulit untuk membayangkan ibu-ibu Aceh setega itu. Tak mungkin.

“Kemarin tu Kak Yanti dan Bang Azhar…,” Din memulai penjelasannya. Mak mengangguk-angguk mendengarkan. Mata Din beberapa kali beralih dari jalan di hadapannya. Mak-nya tak berubah. Perempuan Jawa yang telah lama hidup di tanah sebrang ini, masih tetap saja berkebaya. Ketika dia tanyakan kepada Mak, kenapa tetap mengenakan kain dan kebaya, padahal pakaian itu membuatnya tak leluasa bergerak. Perempuan tua itu hanya menjawab singkat.

“Beginilah ayahmu melihat Mak pertama kali, Din.”

Din mengagumi Mak. Jerih payah dan kegigihan perempuan itu luar biasa dalam membesarkan ketiga anaknya. Bagi lelaki itu, keputusan Mak untuk tidak menikah lagi, seolah menjadi bukti totalitas pengabdian yang telah dipilihnya. Totalitas untuk bersama anak-anak. Sungguh menjadi ironi karena ketika anak-anaknya mampu membalas budi, totalitas serupa tak bisa mereka berikan.

Din melenguh dalam hati. Seharusnya dia bisa lebih sering bersama Mak. Harusnya. Tapi tenggat-tenggat dari kantor, lalu tugas-tugas keluar kota, menyisakan hanya sedikit waktu. Itupun terkadang sudah dibalut lelah dan pening. Padahal Mak semakin tua.

Tak berapa lama mobil berhenti. Mak turun dengan pandangan penuh tanya.

“Eh, kemana kau ajak Mak, Din?”

Rumah bercat putih itu berdiri di antara rumah-rumah lain yang lebih besar. Dulu mereka sering memandang rumah-rumah di kawasan elit ini, dengan kaki terendam air.

“Kau tak mengajak Mak melamar perempuan secara mendadak, kan?” Din menggeleng. Dituntunnya langkah Mak hingga berada tepat di depan pintu.

“Ini rumah Mak,” bisiknya ke telinga perempuan itu.

Mak menatapnya dengan pandangan tak percaya. Lalu tersedu-sedu di dadanya.

Tidak. Mak tak boleh menangis. Sebab rumah ini dibelinya untuk membahagiakan wanita itu. Mak tak boleh lagi tinggal sendirian dalam rumah bilik satu kamar. Perempuan itu sudah melewati begitu banyak bilangan tahun di sana. Mak butuh tempat yang lebih sehat, tempat yang lebih nyaman, di mana dia bisa menunggu kedatangan mereka dengan lebih tenang.

“Din….”

Lelaki itu mengangguk. Mengajak perempuan itu berkeliling di dalamnya. Rumah bercat putih itu memiliki tiga kamar tidur.

“Supaya Yanti bisa membawa anak-anaknya menginap di sini, Mak.”

“Ya… ya….” Mak mengangguk. Lidahnya kelu. Tak disangkanya Din yang selama ini tak banyak bicara membelikannya sebuah rumah.

“Nah, kamar yang satunya lagi buat Bang Azhar dan istrinya kalau datang.”

Mak mengangguk lagi. Di wajahnya terselip rasa khawatir.

“Kau benar-benar punya uang untuk membeli ini, Din?” tanya Mak, setelah beberapa lama mereka hanya diam mengagumi rumah baru itu.

Din mengusap-usap punggung ibunya.

“Jangan sampai kau pakai uang orang,” kata Mak lagi. “Mak tak perlu khawatir.”

Dan dengan satu kalimat itu, Din kembali ke mobilnya.

Matahari mulai menyibak langit, saat Din menstarter kijangnya.

Mak memandangnya dari mulut rumah, melambaikan tangan. Din membalasnya dengan senyum lepas dan rindu yang belum selesai. Dia ingin semua tuntas hari ini, dan Mak bisa segera menempati rumah barunya.

Dia tak berencana meninggalkan Mak lama. Hanya beberapa jam ke kota untuk membeli perabot baru bagi Mak.

Penduduk asli desa nelayan itu, jika masih ada mungkin mengenal sosok laki-laki berumur tiga puluhan yang wajah kerasnya tampak keruh. Sementara kedua matanya menyimpan kabut. Dua hari sejak musibah itu, sosoknya muncul dari arah berlawanan dengan pengungsi. Dan lelaki itu tak beranjak meski lima hari telah berlalu, dan gempa-gempa lain masih kerap menggoyang bumi.

Tanpa alas kaki, sosoknya berjalan di wilayah nelayan yang telah rata dengan tanah. Rumah-rumah dan perahu tak tampak lagi. Begitupun deretan rumah-rumah bagus yang dulu dibangun beberapa kilometer dari pantai. Semuanya runtuh. Sekarang hanya batang-batang pohon kelapa yang menjulang, diantara serpihan tubuh-tubuh manusia yang mengambang di laut tenang, dan sebagian terserak di pantai. Kedua mata lelaki itu awas mencari-cari sesuatu. Ketika menemukan yang dicarinya, lelaki itu akan mulai bekerja. Setelah selesai dia akan bersimpuh, dengan kepala tertunduk khidmat, berdoa di atas pusara yang digalinya.

Setiap hari, tanpa bicara lelaki itu bekerja. Menguburkan setiap jenazah yang dilihatnya langsung dengan tangannya. Tidak seperti relawan lain yang mengangkut semua dengan kendaraan dan menguburkan secara massal. Uniknya lagi, lelaki itu hanya mencari jenazah perempuan. Tak peduli wajah-wajah itu kini tampak mirip karena kembung oleh gelombang dan mulai rusak karena waktu. Pun tak berhenti, meski matanya selalu saja gagal mengenali penggal kain yang dikenakan, sebab tak banyak yang masih melekat di badan jenazah.

Dia hanya tahu, dia tidak boleh berhenti. Sebab, satu dari mereka, mungkin saja perempuan berkebaya yang melepasnya di pintu rumah. Sungguh, dia tak berencana meninggalkan Mak lama. Hanya beberapa jam ke kota untuk membeli perabot baru. Tapi sesuatu menghalanginya untuk segera kembali. Gelombang besar yang tiba-tiba saja datang.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *