Menakar Konsistensi Identitas Melayu dalam Novel “Bersetia” Benny Arnas

Esai Nafi’ah Al-Ma’rab
Dimuat di Riau Pos, 23 Agustus 2015

Ahmad Dahlan dalam bukunya yang berjudul Sejarah Melayu menjelaskan pemaknaan makna melayu salah satunya pada persepsi melayu sebagai identitas kolektif. Pada definisi ini ada semacam pengakuan bersama yang terjadi di tengah masyarakat bahwa melayu adalah jati diri dan prilaku, dimana hal ini terjadi tanpa disadari oleh masyarakat itu sendiri. Karya sastra sebagai salah satu layar budaya yang menjadi alat edukasi untuk pembaca memiliki ruang sepenuhnya bagi eksplorasi nilai-nilai budaya kemelayuan yang menjadi kebanggaan para pendahulu bangsa ini. Seperti pada karya sastra yang ditulis anak muda asal Lubuklinggau, Benny Arnas yang selalu ‘bersetia’ pada karya-karya bertema lokal kemelayuan di sekitar dirinya. Sebutlah beberapa karya sebelumnya seperti Bulan Celurit Api, Jatuh dari Cinta dan puluhan cerpennya yang lain, ia senantiasi mematrikan dirinya pada gaya dan sajian hidangan suasana Melayu yang memukau.

Novel perdana Benny Arnas yang berjudul ‘Bersetia’ masih berupaya keras menghadirkan identitas tema lokal yang kadung melekat pada pria peraih Krakatau Award tersebut. Akan tetapi ada beberapa catatan terkait kadar dan nilai identitas Melayu yang disajikan tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut:

Kesan penyajian yang terlambat

Bersetia sebagai novel perdana yang digarap Benny memiliki kesan yang berbeda dibanding cerpen-cerpennya yang tertabur di media nasional. Pada kebanyakan cerpennya, Benny selalu memberi suguhan kesan lokalitas sejak awal ia menyajikan sebuah karya. Pembaca yang baru saja menikmati baris-baris kalimatnya akan langsung terhipnotis dengan suasana kampung melayu Lubuklinggau yang begitu kerap ia hadirkan di setiap cerpennya. Sebut saja salah satu cerpennya yang dimuat di Jawa Pos berjudul Air Akar berikut ini:

Adalah  satu tahun yang lalu, ketika Bunga Raya menjejakkan kaki di sebuah SD di kampung yang berjarak lebih dari dua puluh kilometer dari Lubuklinggau. Saat memperkenalkan diri di hadapan murid-murid kelas lima, salah seorang murid tiba-tiba mengerang kesakitan sambil memegang perutnya. Kelas gaduh. Bunga Raya meminta beberapa anak laki-laki yang badannya bongsor untuk membopongnya ke ruang guru. Dibaringkanlah ia di atas kedua meja yang didempetkan. Bunga Raya bertanya apa yang dimakan murid itu pagi tadi. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya kecuali erang kesakitan. Untunglah salah seorang temannya memberitahu bahwa pagi tadi murid itu sebenarnya tidak diperkenankan berangkat ke sekolah oleh orangtuanya karena sejak malam tadi hampir setiap satu jam sekali ia hilir-mudik ke Sungai Lubukumbuk untuk buang hajat.

Tetapi ini sedikit berbeda dengan yang ia sajikan di Bersetia. Sebagai pembaca, kita seperti kehilangan rasa lokalitas di awal-awal novel ini dituliskan. Barulah setelah beberapa konflik terjadi, tokoh utama novel ini yang bernama Embun akhirnya membawa kita kembali menikmati suasana kampung Lubuklinggau, pasca konflik yang melanda keluarganya. Ia meninggalkan Brins dan nekat kembali ke Lubuklinggau karena ia mendapati suaminya dalam tanda-tanda selingkuh. Sebagai pembaca yang mengenal Benny dengan kemampuan lokalitasnya, kita akan tercari-cari di awal menikmati novel ini. Bahkan kita hampir meletakkan novel ini karena Benny seperti hendak memadukan unsure pop yang lebih cair ke dalam karya sastranya tersebut.

Pemunculan melayu sebagai identitas

Bersetia coba digarap oleh Benny Arnas dengan menampilkan multikulturalisme para tokohnya. Karya ini boleh jadi menjadi salah satu karya yang mempertegas budaya kebersamaan masyarakat Tiong Hoa dan suku melayu lokal dalam suasana hidup yang damai berdampingan. Tokoh Cece Po dalam novel ini ditampilkan sebagai sosok Chines yang ideal dengan kebaikan pekerti dan jasanya pada tokoh Embun sebagai tokoh dari masyarakat lokal. Meskipun sosok Cece Po juga menampilkan figure yang sangat komitmen dengan kepercayaannya, namun tak membuat sikapnya berubah pada sosok Embun sebagai perempuan melayu yang juga teguh dalam agamanya. Secara logika mungkin agak sulit kita pahami dalam dunia realita, tapi dari sini kita mengerti bahwa Benny sedang coba menampilkan konteks melayu sebagai identitas suatu bangsa. Siapapun suku dan rasnya, ketika mereka sudah mendiami kawasan Melayu, maka ia akan beretika seperti orang melayu, berprilaku serupa orang melayu. Inilah identitas Melayu yang dirumuskan Ahmad Dahlan dalam bukunya yang berjudul ‘Sejarah Melayu’.

Bila kita memahami makna dialog Cece Po pada makna reality, mungkin ini suatu yang kontradikitif dari yang tertulis dalam novel ini, namun jika pemaknaan Melayu identitas yang dimunculkan dalam novel ini, maka kita akan sama-sama bersetuju dalam hal tersebut.

Di mata Cece Po, selain kelemotannya dalam menghitung, Embun adalah gadis normal, titik!

“Jangan pernah menganggap tindakan Cece menutup lapak sebagai keterpaksaan. Jangan pula menganggapnya sebagai pemakluman atas kebingungan pada jumlah transaksi. Jangan Mbun! Ujar Cece Po hati-hati. Sungguh, ia tak ingin melukai perasaan calon pengantin itu.

“Cece hanya ingin menunaikan tugas menikahkan mu tanpa melibatkan seseorang yang akan duduk di pelaminan nanti, dan menurut Cece ini lazim!”

Lepas dari berbagai suasana tak ideal di atas, karya ini tetap memukau pada beberapa bagian ceritanya. Penulis tak kehilangan diksi unik yang selalu menjadi ciri khas dalam setiap tulisannya. Kemampuan Benny menghadirkan pilihan kata indah yang belum lazim digunakan orang menjadi kekuatan di setiap karya-karyanya.

Meskipun pada beberapa bagian novel ini kita seperti merenangi plot-plot dengan suasana yang sedikit pop, namun ciri identik Benny Arnas tetap mampu ia hadirkan. Bersetia menjadi salah satu karya yang menghadirkan suasana multikultural yang ideal. Sebuah referensi kehidupan dalam kondisi sosiologis keanekaragaman suku bangsa dan budaya yang beragam. ***

Nafi’ah Al-Ma’rab

Nafi’ah Al-Ma’rab, merupakan nama pena dari Sugiarti, S.Si. Sehari-hari mengelola bisnis jasa penulisan artikel online fashion shop. Menulis berbagai artikel, esai, cerpen, dan novel. Telah menulis 4 buku solo dan puluhan antologi. Saat ini berkhidmat di Forum Lingkar Pena Riau sebagai ketua. Novel terbarunya berjudul "Jodohku dalam Proposal" akan dirilis di bulan Maret 2016 oleh Penerbit Tiga Serangkai. Penulis bisa dihubungi di WA 085278740869 atau email: suzie_chem03@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *